Sambut Baru Lebih dari Sekadar Pesta; Ia Bagian dari Kebudayaan

Gambar: Pixabay.com

 257 total views,  1 views today


Hans Tober | Kontributor

Wujud yang kelihatan dari budaya adalah sistem sosial, kebiasaan, aturan, alam-lingkungan, bentuk fisik badan, artefak dan lain-lain. Sementara nilai, ideologi dan ide-ide selalu tampak samar dalam ruang aktivitas sosial. Akan tetapi, budaya selalu mencakup rasa, karya dan karsa.

Seperti pepatah lama “lain lubuk lain belalang”, setiap daerah memiliki caranya sendiri dalam menjalani rutinitas kehidupan. Adat dan tradisi selalu menjadi bagian dari sikap dan pilihan hidup. Maka muncullah istilah budaya lokal, yakni budaya yang sesuai dengan lingkungan, wilayah geografis dan kebiasaan-kebiasaan setempat.

Ketika agama menyatu dengan budaya lokal dalam proses inkulturasi, kebiasaan-kebiasaan mempengaruhi sikap dan cara orang beragama. Agama Katolik menjadi agama mayoritas di Flores justru karena agama itu “ramah” terhadap budaya orang-orang Flores. Atas dasar itulah Clifford Geertz menyebut “religion as a cultural system”.

Acara Sambut Baru pun tidak lepas dari pengaruh budaya lokal sebuah masyarakat. Sambut Baru adalah bagian dari ritual khusus para pemeluk agama Katolik. Sambut Baru merupakan sebutan lain dari ritual penerimaan sakramen Ekaristi pada agama Katolik.

Di wilayah Manggarai ada suatu kebiasaan yang khusus berkenaan dengan pesta Sambut Baru. Istilah “pesta” yang diikutkan pada frasa “Sambut Baru” tidak mengusung suatu bayangan kemewahan, melainkan hanya sebagai sebuah ekspresi kebahagiaan. Bahwa dengan pesta Sambut Baru, sebuah keluarga sedang berbahagia sebab anaknya sedang menjadi pemeluk agama Katolik sejati.

Hierarki Gereja Katolik telah melarang umatnya untuk mengadakan “pesta” pada acara Sambut Baru. Dalilnya, pesta adalah pemborosan. Jika ada 200 orang diberikan Sakramen Komuni Suci pada satu kesempatan yang sama, maka akan ada 200 tempat pesta di suatu wilayah yang sama. Para undangannya pun pasti orang yang sama dan akan merasa lelah mengikuti semua pesta Sambut Baru tersebut.

Akan tetapi, larangan hierarki Gereja Katolik tersebut tidak bisa membatasi umat untuk berbahagia. Kebahagiaan adalah soal rasa, bukan urusan pemborosan. Pesta itu bagian dari denyut nadi ekonomi rakyat sebab berkenaan dengan proses produksi, distribusi dan konsumsi. Pesta tidak hanya bisa dilihat dari posisi “demand”, tetapi juga sebagai “supply”. Maka terjadilah harga. Karena itu, pesta Sambut Baru tetap diadakan dengan sistem “makan jalan”.


Masing-masing orang tua yang anaknya menerima Sakramen Komuni Suci tetap membuat acara pesta Sambut Baru. Dengan ciri masyarakat Manggarai yang suka bergotong royong, setiap upacara tentu diatur sedemikian rupa secara bersama-sama. Begitu juga halnya dengan pesta Sambut Baru. Keluarga besar merancang dan mengurus bersama pesta Sambut Baru.

Masing-masing keluarga membawa “sembako”-nya masing-masing untuk membantu melancarkan pesta. Semua urusan mulai dari dapur hingga kemah pesta diurus bersama. Ada juga keluarga yang melibatkan warga tetangga, RT atau bahkan Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Keterlibatan warga selain keluarga besar bisa diukur dari tingkat partisipasi dan komunikasi keluarga itu dalam mengikuti kegiatan-kegiatan adat bersama dan sosial lingkungan yang pernah dibuat.

Pada saat pesta Sambut Baru para undangan datang dan memberikan ucapan selamat dan dukungan kepada orang tua dan anak yang menerima sakramen Ekaristi. Para undangan memasukkan “amplop” pada kotak yang telah disediakan. Itu merupakan tanda dukungan dan penghargaan atas status kekatolikan sang anak. Lalu para pengantar tamu atau orang tua dari anak mempersilakan para undangan untuk mengambil makanan dan minuman yang telah disediakan, untuk kemudian disantap bersama.

Semua berlangsung seperti etiket pesta pada umumnya. Para undangan datang dengan dandanan pesta yang cantik dan ganteng. Semua orang berusaha menjadi “diri yang maksimal”. Di tempat undangan, ada musik yang terus menghibur. Tersedia juga hidangan pesta yang enak-enak. Ada juga minuman bir, tuak putih, arak-sopi, kopi, teh, dan air putih kemasan.

Di Manggarai lagu-lagu daerah khas Manggarai dan Bajawa dimainkan. Irama riang-menghentak pada lagu-lagu ja’i, seakan mengajak para undangan untuk ber-ja’i ria. Sementara itu, para undangan datang silih berganti.

Itulah kekayaan budaya orang Manggarai yang termanifestasi dalam praktik-praktik budaya dan kebiasaan masing-masing daerah di Flores. Sebagai bagian dari masyarakat Manggarai yang berbudaya, orang-orang Manggarai dituntut untuk tetap menjunjung tinggi kebudayaannya, tanpa mesti kehilangan rasa modernisme. Kita berharap budaya luhur seperti itu tidak hilang dan sirna ditelan arus zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.