Sapo; Tungku Api dan Sekitarnya

544 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Sapo adalah tungku api dan sekitarnya termasuk mempos, rawuk, sampeng lewing, kunceng, hehehe yang mau protes dengan definisi saya tentang sapo ini boleh, tapi protes one nai kat e. Jangan sampe serang saya e pembaca tabeite.com kecayangan akuh… Kan kasian kalau kalian serang saya, nanti saya nangis, saya jomlo e, jadi tidak ada yang somba saya nanti. Eh malah curhat, dasar akuh.

Sebagai anak rantau, ada banyak hal tentang rumah yang selalu memanggil saya pulang. Ah, benar kata orang, senyaman-nyamannya hidup di rantauan, lebih nyaman tinggal di rumah sendiri.

Di antara berbagai kejadian di rumah, yang paling saya rindu adalah kejadian saat duduk bersama mengelilingi tungku api, atau di kampung saya sering disebut dangga. Ah, rindu sekali dengan sensasi “dangga” sambil menikmati kopi pa’it dan menanti latung tunu yang sedang bergolek cantik di atas tungku api. Apalagi saat musim hujan tiba, abaikan dureng di luar, Mari kita duduk bersama di sekitar tungku api, berjam-jam waktu yang digunakan pun tidak akan terasa. Bahkan hingga menghabiskan ca gampo latung dan beberapa ikat kayu api.

Dibalik kejadian indah, kehangatan, canda tawa, dan aroma jagung bakar yang terjadi saat dangga, ada kejadian unik yang sampe sekarang masih membekas di sap ingatan. Kejadian saat saya masih SD, saat di rumah kami belum ada TV juga belum ada HP Android. Satu-satunya yang memiliki HP di rumah adalah bapak Saya. Itupun HP jadul atau kami sering sebut HP peke acu, karena katanya kalau dipake untuk lempar anjing, anjingnya bisa mati, HPnya baik-baik saja. Benar atu tidak, entalah, karena saya juga belum penah mencobanya.

Pertama, saat anggota keluarga lengkap sedang duduk mengelilingi sapo, jangan coba-coba berbuat macam-macam misalnya ribut, atau bertengkar dengan saudara kita kalau tidak ingin mendengar kata-kata ajaib dari mulut mama.

Ngoeng penes le kebor kolang du pacu ko?”. Apalagi kalau mama sedang asyik cero latung, uh kata-kata ancaman ini paling menakutkan. Bayangkankan saja, kebor kolang itu menempel di kita punya pipi. Aduh mama sayang e. Untung saja kata-kata mama ini cuma teori semata, andai saja ada praktiknya, pasti sudah ribuan kali kebor kolang mendarat di sap pipi. Setelah kata-kata keluar dari mulut mama, semua akan diam membisu yang terdengar hanya bunyi kunyahan jagung dari setiap mulut yang ada di situ, juga suara kebor yang bersentuhan dengan kuali. Mama dengan lihai memainkan kebornya, sekali maju mundur, maju mundur, sambil sekali-sekali tangannya mengatur posisi kayu api. Kata mama apinya harus pas, tidak boleh terlalu besar jaga mame rudu alias latung cero PHP, kelihatannya sudah matang padahal belum.

Kedua, saat asap menyerang, lirik lagu “empo daku ce mai, empo data le mai / cucunya saya di sini, cucunya orang di sebelah sana.” Akan berkumandang dari mulut yang terserang asap, sambil tangan dikibaskan menghalau asap ke arah berlawanan. Yang di sebelah juga tidak mau kalah, nyanyi dengan suara lebih keras lagi. Nyanyian ini akan dihentikan hanya jika salah satunya mulai marah atau menangis kemudian mama akan kembali berkata “Ngoeng penes le kebor kolang du pacu ko?” Saya akan melirik bapak. Bapak diam saja sambil tersenyum. Entah apa yang membuat beliau tersenyum. Anehnya juga bapak tidak ikut bernyanyi empo daku ce mai, empo data le mai, padahal seingat saya beliaulah yang mengajarkan kepada kami lagu penghalau asap tersebut. Itulah seorang bapak, sekarang saya paham dulu kami belum cukup paham tentang keadaan kami. Mengeluh tentang asap, bapak kehabisan cara untuk mengatasinya. Satu-satunya cara adalah mengajari lagu penghalau asap, walaupun beliau tahu lagu yang diajarkan oleh kakek kami dulu cuma tipuan belaka. Anehnya, entah karena sugesti atau lagunya benar-benar manjur asapnya akan nurut sama lagunya.

Saya sedih. Sedih karena berpikir tentang pulang dan tentang masa depan. Apakah saat saya pulang budaya duduk mengelilingi sapo ini masih bisa kami lakukan? Semoga saja tungku apinya mama belum disingkirkan karena kehadiran kompor. Kemudian di masa depan jika saya menikah dan punya anak, semoga saja saya bisa mengucapkan kalimat “ngoeng penes le kebor kolang du pacu ko?“. Semoga.

Penulis: Im Kartini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *