Saya dan Kalian; Siapa yang Lebih Indie?

 511 total views,  2 views today


Apek Afres|Redaksi

Elu bukan anak Indie  bro, ke kafe pakai baju kemeja kotak-kotak, lihat kawan-kawanmu ini, kaos oblong aja. Aduuuh, pesan jus jambu lagi, kopi bro kopi, mana trenmu, dasar Jadul lu! Ujar teman saya waktu saya ketemu mereka di kaffe. Geledak tawa mereka masih saya ingat sampai sekarang. Betapa malunya saya malam itu sampai saya akhirnya pergi tanpa pamit dengan mereka.

Beberapa keseringan yang saya amati, yang dibuat anak-anak muda sekarang, yang katanya menjadi trend. Nongkrong di kafe, menyeruput kopi sembari membuat puisi, pakai kaos oblong, menikmati senja, mendengar lagu-lagu dari Payung Teduh, Jason Ranti, Fajar Merah, Fourtwnty, dan lain-lain. Pokoknya yang keren-kerenlah, yang menurut mereka itu keren. Indie banget, bisa disimpulkan seperti itu.

Suatu sore saya diajak teman saya, “Bro, ayo kita ke Paralayang (Suatu tempat melihat senja paling nyaman di Jogja). Di sana kau bisa bebas-sebebasnya melihat senja. Banyak inspirasinya bro, kau bisa merangkai kata-kata indah”. Padahal, sendiri di kamar saja saya bisa menciptakan ratusan puisi, kenapa harus ke sana, kata saya dalam hati). “Imajinasi akan bertambah luar biasa. Apalagi ditemani secangkir kopi dan mendengar lagu-lagu sendu, asyik sekali. Ayo bro, kita dengan beberapa teman nanti”, katanya lagi. “Saya tidak bisa bro (untuk apa saya ke sana kalo setiap hari saya bisa menikmati senja dari lantai tiga kos saya, kata saya dalam hati), saya ada tugas kuliah, batas kumpulnya juga hari ini”, jawab saya singkat. “Ahh, kurang gaul lu”, ujarnya sambil menepuk pundak saya. Saya tidak bisa berbicara banyak. Lebih baik diam. Saya angguk-angguk sendiri. Saya juga bingung apa sebenarnya yang menjadi patokan dari gaul atau trend itu sendiri. Apakah anak Indie seperti yang mereka banggakan? Bercerita dengan senja dan kopi?

Sejak saat itu saya merasa gusar. Dikatai tidak gaul menyayat hati juga, konco. Apalagi menjadi anak muda yang sedang dalam proses mencari cinta sejati. Saya juga harus gaul dong. Ikut-ikutan gaul juga malu. Saya dapat cinta sejati di mana nanti jika saya tidak gaul seperti yang teman-teman saya katakan. Intinya saya tetap pesan minuman favorit saya jika saya ke mana-mana, Jus Jambu selalu di hati. Titik.

Atas kegusaran ini, saya mencoba mencari makna inide atau yang menjadi anak indie itu seperti apa sih. Berikut ini Saya kutip dari Mojok.co, artikel dari Zein Sakti yang di upload pada tanggal 13 Agsutus 2019 lalu. Jadi begini ya orang-orang yang mengaku sebagai anak Indie, musik folk Indie yang kalian dengar mungkin memang musik indie, tapi indie sebenarnya bukan tentang lagu folk sendu, kopi dan senja seperti menurut keyakinan kalian selama ini —ya tapi nggak apa-apa sih kalau kalian yakinnya seperti itu walaupun sebenarya sesat. Indie itu bukan genre atau kategori— namun Indie adalah label rekaman. Sekali lagi saya tekankan Indie adalah tentang label rekaman— LABEL REKAMAN!!!!!

Dikutip dari tweetnya Fiersa Besari yang merupakan pelaku yang menggeluti langsung karya-karya Indie, Indie berasal dari kata independent—bukan Indy Barends, apalagi Indy Rakri. Itu berarti, musikus Indie tidak terikat label besar dan melakukan banyak kegiatan dalam dunia musik secara mandiri (distribusi, konser, marketing, dan sebagainya). Ini langsung dari pelakunya hei anak Indie jadi kalau lu bilang pengertiannya salah sok tahu berarti lu.

Tapi, justru itu daya tariknya. Karena seperti kata Pram, berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.

Mungkin bagimu, indie hanyalah kopi – senja – hipster – snob – tai anjing. Tapi bagi saya, dan bagi banyak musikus lainnya, Indie adalah semangat juang untuk terus berkarya tanpa dikekang selera pasar, masyarakat, juga omongan netizen. Salam hangat, tetap bergerak. Ujar mas Fiersa Besari yang belum lama ini baru menikah yang nikahan jelas Indie karena dibiayai sendiri oleh masnya.

Setelah membaca artikel di Mojok.co ini, saya menertawakan teman-teman saya, tapi dalam hati saja. Kan tidak enak to. Tertawa di depan mereka bisa merenggangkan relasi pertemanan. Saya makan di mana jika saya kehabisan beras, hahah. Untung-rugi pertemanan dipikir terlebih dahalu. Teman-teman saya salah mengartikan indie itu seperti apa. Mereka berbahagia dengan senja, kopi, lagu-lagu indie, tapi sesat dan tak berdasar. Indie itu bisa di katakan berkarya sendiri. Mengembangkan potensi diri, menciptakan karya-karya sendiri untuk di nikmati publik.

Berarti saya anak Indie to? Meciptakan karya ini untuk teman-teman baca. Saya tidak bermodalkan kopi dan senja, saya hanya suka Jus Jambu. Hidup Jus Jambu!!! Seperti kata Pram, berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena karyanya sendiri, dan maju karena karyanya sendiri.

Arahkanlah saya anak kurang trendy ini, ke arah trend yang baik. Plissss.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.