Secuil Refleksi di Hari Bahagia Seorang Sahabat

Seorang teman dan sebuah percakapan. Gambar: pixabay.com

 102 total views,  2 views today


Hubert Heriant | Kontributor

Pemikiran-pemikiran cemerlang para filosof, baik yang klasik maupun yang kekinian, identik dengan pertemuan-pertemuan kecil yang mereka lalui dalam kesehariannya. Paling sering perjumpaan mereka terjadi di kedai-kedai kopi, di pusat polis. Di sana, barangkali sambil mencicipi segelas kopi, lahirlah pelbagai gagasan cemerlang mengenai apa yang tidak terpikirkan dan tersajikan dalam sejarah dunia sebelum mereka. Penemuan akan teori-teori mahaluhur ini selalu lahir karena perjumpaan dan percakapan dengan orang lain. Perjumpaan dan percakapan adalah hal mutlak yang dibutuhkan. Fenomena ini menyata dalam pembicaraan mengenai Socrates dan para filosof lainnya. Dalam Socrates, pengetahuan selalu lahir dari ‘perdebatan’ dan diskusi kecilnya dengan sesama, di kedai kopi-mungkin di pojoknya. Melalui percakapannya dengan sesama, Socrates mengambil peran sebagai bidan yang membantu melahirkan pengetahuan yang dikandung dalam diri orang lain. Nah, dari pengalaman filosof terkemuka ini kita menjadi paham bahwa perjumpaan dan percakapan adalah itu yang memungkinkan kelahiran pengetahuan baru meskipun terlihat sederhana dan mungkin biasa saja.

Sebagaimana Socrates dan kawan-kawan filsosof terdahulu, hari ini aku hadir, terlibat dan bergumul dengan perjumpaan dan percakapan itu sendiri. Momen bertemu dan bercakap-cakap yang terjadi hari ini sejatinya merayakan kemenangan seorang sahabat yang telah meraih apa yang diimpikannya. Mengutip Alasdair Chalmers MacIntyre, sahabat yang baik hati ini telah mencapai salah satu telos (tujuan akhir) peziarahannya, terutama peziarahan studinya. Memang pencapaian ini bukanlah yang terakhir. Tujuan utama kita adalah Sang Tujuan yang disebut Tuhan. Akan tetapi, bagaimanapun hal itu patut dirayakan dalam rasa syukur yang tiada tara dan paling penting dalam perjumpaan dan percakapan yang hangat.

Aku sejatinya bukan filosof, meskipun aku menggeluti banyak pemikiran filosofis. Akan tetapi, pertemuan dan perjumpaan hari ini tidak biasa. Itu luar biasa dan tidak terbayangkan keindahannya. Keluarbisaan dan keindahan ini terletak pada dua hal yang setidaknya aku petik dari perayaan keberhasilan seorang sahabat yang luar biasa sederhana dan rendah hati berikut. Pertama, berjumpa dan bercakap-cakap, kata kerennya berdiskusi, menempatkan sesama sebagai subyek ‘yang kepadanya aku berelasi’. Dalam perjumpaan dan percakapan kami di tempat istimewa dan penuh kenyamanan ini―tempatnya di seberang jalan, suasananya adem, tenang dan bersahabat―sesama selalu ditempatkan sebagai ‘yang setara dengan aku’. Artinya sesama ditempatkan sebagai subyek yang kepadanya aku berbicara, bukan sebagai obyek yang tentangnya aku berbicara. Aplikasi sederhana dari penempatan yang lain sebagai yang setara dengan aku ini ditunjukkan dengan sikap saling mendengarkan, saling bertukar pendapat, saling membagikan pengalaman, dan saling memperhatikan. Pengalaman dalam bingkai kesalingan tersebut membuat aku paham bahwa berelasi berarti berjumpa dan bercakap-cakap dengan sesama dalam dimensi kesetaraan. Menurut mereka yang pandai relasi ini disebut sebagai relasi intersubjektivitas, relasi subjek-subjek: orang lain adalah subjek yang kepadanya kita berelasi.

Kedua, bersahabat berarti bertindak melampuai ke-aku-an-ku. Perjumpaan kami di hari bahagia milik sang pencinta sastra dan fisika ini menjadi semacam simbol persahabatan lintas batas atau persahabatan yang melampaui ke-aku-an-ku sebagai pribadi. Dalam konteks pengalaman hari ini, persahabatan yang demikian tampak dalam perbedaan yang kami miliki: kami berasal dari lingkungan kebudayaan yang berbeda dan terutama agama yang berbeda. Seorang sahabat Muslim, tiga lainnya Protestan dan empat di antaranya Katolik. Singkat kata, kami berjumpa dalam keberagaman.

Persis hal inilah yang mesti terjadi dalam keseharian kita sebagai manusia, dalam relasi persahabatan yang kita bangun dengan sesama. Halnya menegaskan bahwa persahabatan berarti berjuang untuk melampaui diriku sendiri, melampaui sekat-sekat yang memisahkan aku dengan yang lain. Corak persahabatan seperti inilah yang telah kami bangun dan terapkan pada hari ini, seterusnya, dan sepanjang waktu. Aku dan para sahabatku ini tidak membeda-bedakan. Dalam persahabatan ini kami masing-masing telah dilebur menjadi kita.

Uraian-uraian sederhana tentang makna perjumpaan dan percakapan dalam perayaan kecil-kecilan atas keberhasilan sang sahabat di atas sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini, kehidupan setiap manusia Indonesia. Suatu kehidupan yang kerap diwarnai sikap ingat diri dan pertentangan antara yang satu dengan yang lain. Fenomena ini mesti dilawan dengan aksi saling berjumpa dan bercakap-cakap sebab kita adalah satu meski berbeda; kita adalah subyek-subyek yang sama-setara. Nah, hanya dari sanalah akan lahir pengetahuan luhur yang tidak dapat dibantah. Suatu pengetahuan yang berlaku bagi semua dan tentunya dibenarkan oleh semua yang rasional dan benar-benar manusia. Pemahaman yang dimaksud ialah mengenai keberadaan sesama sebagai yang setara dengan kita dan suatu persahabatan yang meleburkan aku pada kita kendati tidak kehilangan identitas masing-masing. Yang kedua ini menekankan bahwa meskipun kami bersahabat lintas segalanya―menjadi kita, kami tetaplah diri kami masing-masing―lengkap dengan apa yang menjadi bagian dari kehidupan kami, entah budaya, agama, pilihan hidup, dan lain sebagainya.

Tulisan ini adalah refleksi kecil atas perjumpaan dan percakapan dengan para sahabat yang turut merayakan keberhasilan seseorang yang hidupnya begitu bersahaja, rendah hati, ramah dan segala yang baik ada padanya. Terima kasih atas perjumpaan dan percakapan yang telah melahirkan pengetahuan baru ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.