Sekelumit Kisah Tentang Kamar di Samping Gudang

 288 total views,  1 views today


Apek Afres: Redaksi

Sempit. Kecil. Sepi. Kadang-kadang dingin. Kadang-kadang berisik. Itu kamar saya. Lebih parahnya lagi posisinya samping gudang. Gudang tak berpenghuni.

Sudah satu tahun saya tidur, bangun, dan mimpi di kamar sempit itu. Sah dan nyaman saja. Dengan dua rak buku mini dan satu lampu belajar kecil, membuat saya begini-begini saja. Tetap jadi manusia. Tetap jadi mahasiswa. Malas dan kebanyakan bacot.

Teman-teman yang datang berkunjung juga tidak kalah banyak. Mereka datang bergantian. Datang dan diam-diam bawa pulang buku-buku saya. Tidak menjadi persoalan. Ya, walaupun begitu-begitu, saya persilakan saja. Lumayan dapat mencegah kerancuan berpikir mereka dan membentuk cara berpikir dengan pengetahuan baru.

Oh, iya. Tentang gudang di samping kamar saya. Gudangnya lebih luas dari kamar saya. Isinya padat. Lukisan-lukisan. Barang-barang bekas. Bekas spon rusak. Pecahan-pecahan kaca. Kompor gas yang tidak terpakai. Lebih dominan dipenuhi berkas-berkas kuliah mahasiswa masa lalu. Karya-karya ilmiah, surat laporan, dan skripsi-skripsi yang dibuang begitu saja.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Apa istimewanya kamar di samping gudang? Kurang bahan cerita aja. Ya, memang begitu. Saya kurang bahan untuk tulis. So, jika membaca tulisan ini tidak apa-apa, silakan berhenti membaca. Tidak merugikan juga bagi saya. Ini hanyalah curhat pengisi waktu, agar Anda tidak bosan dan melewatkan waktu begitu saja. Curhat ini adalah suapan “Gizi Intelektual”.

Setahun berlalu. Berlalu begitu saja. Posisi kamar saya tidak ada perubahan. Mentok. Selamanya akan seperti itu. Saya menikmatinya juga.

 Setiap hari saya duduk depan kamar. Tentu depan gudang juga. Saya mengatur kursi dan meja sedemikian rupa supaya kelihatan keren. Sore dengan kopi. Malam dengan gitar. Pagi dengan teh. Senja saya tidak tahu dengan siapa. Itu-itu saja. Menarik juga tidak. Keren juga tidak. Bahkan kelihatan kumuh ketika orang-orang baru menyaksikan kegiatan tidak berguna macam itu.

Saya pastikan tidak ada yang menarik. Tapi, mungkin ini yang cukup menarik. Bagi saya menarik. Tidak tahu untuk yang lain. Ada satu pohon sebelah gudang, cabangnya sampai di atap kamar saya. Setiap hari ada tiga ayam yang selalu bertengger di situ. Bukan punya siapa-siapa. Hanya punya tetangga dari Medan.

Curhat ini adalah suapan “Gizi Intelektual”.

 Ayamnya cantik-cantik. Bulu ayam maksudnya. Sesekali mereka mengikuti ayunan kayu karenat tiupan angin sepoi-sepoi pagi dan malam hari. Santai. Kadang-kadang ayam-ayam itu juga melebarkan sayap secara bersamaan. Yang paling kanan, biasanya memiliki sayap paling lebar dan mempunyai bulu yang indah. Elok sekali dipandang. Sedangkan yang paling kiri memiliki mata paling teduh. Indah. Berwarna. Untuk yang di tengah silakan pikirkan sendiri. Jangan manja. Mikir. Coba mikir.

Ayam-ayam itu jarang berpindah tempat. Di sekitar itu aja. Bahkan di situ-situ saja. Selalu berjejer rapi. Berkokok dengan girang. Ada kedamaian. Ada rasa syukur yang berkelimpahan.

Setiap hari saya menikmati dentingan bunyi dan nada suara kokok ayam-ayam itu. Mereka gagal membangunkan saya setiap pagi. Ini yang saya benci. Justru mereka yang meninabobokan saya. Kasihan sekali saya. Juga Anda yang sering dininabobokan oleh suara kokok ayam. Sama-sama dikasihani.

Sekarang, saya siap menjalani tahun kedua di tanah rantau dengan posisi kamar yang sama, di sebelah gudang. Untuk itu saya tidak berjanji untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari tahun pertama. Jalani saja dulu. Hari-hari akan membentuk saya dari hari senin menjadi hari selasa dan seterusnya. Semoga hari jadi haru, semoga candu jadi canda, semoga patah jadi semangat, semoga kalah jadi tabah, dan semoga kau jadi milikku, hehehe.

Saya akhiri dulu sekelumit kisah tentang kamar di tanah rantau. Nanti kapan-kapan saya cerita lagi. Mungkin tentang kamar saya yang akan jadi gudang dan gudang yang akan jadi kamar saya. Sekian dulu.

***

Ketiga ayam milik tetangga kamar saya hilang waktu tahun baru kemarin.

Gambar: https://id.pinterest.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.