Sekseko: Makanan Tradisional Orang Manggarai Yang Mulai Dilupakan

Sekseko dan kopi pa'it. Hmm, nikmatnya!

 182 total views,  1 views today


Bung Fadil | Redaksi

Nusa Bunga—sebutan untuk pulau Flores—merupakan sebuah pulau yang terletak di kawasan timur Indonesia. Seiring dengan semakin terkenalnya Indonesia sebagai salah satu negara yang kaya akan tempat-tempat wisata, Flores pun semakin ramai diperbincangkan. Juga semakin banyak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Bagaimana tidak, alam dan orangnya yang menawan selalu mengundang siapa saja untuk mengunjunginya.

Salah satu destinasi wisata terkenal yang dimilikinya adalah Pulau Komodo yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat. Objek wisata ini bahkan telah masuk ke dalam salah satu Situs Warisan Dunia dan Cagar Biosfer UNESCO berkat keberadaan hewan purba Komodo. Komodo hanya bisa dijumpai di Pulau Komodo (Kawasan Taman Nasional Komodo) dan beberapa tempat lain di pulau Flores.

Akan tetapi, jalan-jalan ke suatu tempat tentu kurang lengkap jika tidak mencicipi makanan (kuliner) khasnya bukan? Sama seperti daerah lain di Indonesia yang kaya akan kuliner, Flores juga memiliki makanan yang mampu membuat lidah penikmatnya tidak mau berhenti bergoyang seperti tarian India. Bahkan kuliner di daerah ini bisa membuat setiap orang  ketagihan dengan rasaya yang unik dan jarang bisa dijumpai di daerah lainnya.

Kekhasan kuliner daerah Flores pada dasarnya terletak pada bagaimana makanan tersebut diolah. Umumnya aneka hidangan modern secara turun temurun merupakan hasil olahan pangan hasil pertanian dan alam di sekitarnya. Ini berkembang jauh sebelum masyarakat Flores mengenal jenis makanan yang lebih modern, seperti padi dan gandum. Sekarang, meskipun hampir sebagian besar masyarakat Flores menjadikan beras sebagai makanan pokok masih banyak masyarakat yang memilih jagung atau umbi-umbian sebagai makanan pokoknya.

Salah satu kuliner olahan hasil pertanian yang wajib kamu coba dari pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu makanan olahan jagung. Jagung bagi masyarakat Flores sangat istimewa. Ia tak hanya sebagai makanan olahan kudapan, tetapi juga merupakan makanan pokok selain nasi.

Jagung sama halnya seperti ubi. Beberapa olahan jagung dan ubi dimakan seperti halnya nasi, dan dimakan dengan lauk pauk.

Masyarakat Manggarai mengolah jagung atau latung dalam bahasa setempat menjadi beberapa jenis makanan. Sebut saja Lenco, Rebok, Wesang, Luwuk, Latung Cero, Bombo, sekseko dan lainnya. Namun, seiring perkembangan zaman beberapa makanan tersebut sudah jarang ditemui dalam keseharian masyarakat.

Salah satu makanan olahan jagung yang wajib dicoba adalah Sekseko. Sekseko dibuat dengan cara menggiling jagung, baik menggunakan mesin maupun menggunakan tenaga manusia yaitu dengan menggunakan watu penang (batu yang menghancurkan jagung dengan cara dipukul).

Tepung yang dihasilkan dari olahan tersebut disisihkan. Untuk membut Sekseko, tepung tersebut dicampurkan dengan kelapa tua yang diparut dengan takaran yang sama. Kelapa dan tepung dicampurkan hingga menyatu secara keseluruhan. Setelah itu disangrai seperti kopi hingga warna tepung jagung tadi berubah sedikit menguning. Demikian proses olahanya sehingga setalah itu lantas disebut Sekseko. Setiap daerah punya nama masing-masing untuk olahan ini, ada yang menyebutnya Rebok. Untuk menambah cita rasanya biasanya ditambahkan gula pasir atau gula merah (Gola Malang).

Tepung dari Jagung setelah diolah sedemikian rupa adalah salah satu jenis makanan cemilan tradisional bagi orang Manggarai yang mendiami wilayah bagian barat dari pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Cemilan Sekseko ini disuguhkan kepada tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Sekseko juga menjadi salah satu oleh-oleh khas yang dibawa ketika seseorang akan merantau keluar pulau Flores.

Sekseko ini biasanya menjadi cemilan menemani segelas kopi khas Manggarai (kopi tuk). Cara menikmatinya hampir mirip dengan Rebok (Jagung yang disangrai kemudian ditumbuk hingga menjadi tepung).

Satu catatan bahwa jika sedang menikmati Seksesko tidak dianjurkan untuk berbicara atau ketawa karena akan menimbulkan Cekes (batuk). Cukup imus (senyum) saja. Jika ke Manggarai jagan lupa mencicipi makanan yang satu ini dan direkomendasikan untuk dikan sebagai oleh-oleh. Semoga warisan leluhur ini terus dilestarikan oleh generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.