Selamat Hari Guru Untuk Sekolah Dasar Inpres Munde

SD Munde dan kenangan-kenangannya

 405 total views,  1 views today


Dendi Sujono |Kontributor

Gema Perayaan Hari Guru baru saja berlalu. Tak mengapa jika kutulis tentang kisah ini meski sedikit terlambat. Di luar hujan turun dengan derasnya, sederas ucapan selamat dari insan negeri “zamrud kathulistiwa”. Beberapa kata berlalu begitu saja, sebagian tinggal, tersemat indah di nurani di hari raya tanpa upacara. Beberapa nama melintasi angan, mengenang mereka adalah suatu kehormatan.

Ya, nama-nama masa lalu dari barisan kenangan tentang situasi sekolah. Lapangan rumput penuh mberong, hutan jati berbaris rapi, dan deretan pohon kemiri yang buahnya jatuh dan siap dipungut atas kebijakan sepihak kepala sekolah. Hehehe.

Baris paragraf kedua hanya sejumput ingatan dari kenangan tentang masa-masa SD di Sekolah Dasar Inpres Munde. Setiap hari guru tiba, ingatan membawaku terbang ke halaman sekolah yang kini telah menjadi sekolah menengah pertama satu atap.

Waktu itu gedung sekolah tak seelok kini. Pohon Lamtoro dan batang Pohon Mangga raksasa masih berdiri tangguh di belakang kelas 1 dan kelas 5. Sayang kisah tangguh batang-batang kayu peneduh saat istirahat siang itu lenyap seiring kencangnya angin yang menumbangkan keperkasaanya hingga membuat sebagian gedung Sekolah Dasar yang berdiri sekitar tahun 80-an itu hampir roboh.

Di tahun 90-an, di sekitar sekolah masih berdiri kokoh bangunan permanen untuk tempat tinggal para guru. Kemudian waktu memudarkan gedung itu kala para guru mampu membangun tempat bernaung untuk mereka sendiri. Lalu gedung itu runtuh perlahan dan bagian-bagiannya menjadi tempat berteduh saat menghafal perkalian dengan lagu yang khas; satu kali satu satu, dua kali dua empat, dst.

Di halaman depan setiap kelas selalu ada taman dengan bunga favorit sepanjang masa yakni flamboyan yang dikreasi dalam aneka bentuk. Bisa berupa nama kelas, atau simbol hati dan anak panah. Demi melindungi taman itu dari serangan hewan peliharaan masyarakat sekitar, dibuatlah pagar yang rapi dari batang kesi dan bilah-bilah bambu yang dipaku di sekeliling taman.

Di depan taman itu terhampar lapangan bola sepak yang luas dengan gawang membujur dari timur ke barat. Saat istirahat adalah saat yang paling mengasyikkan. Kesebelasan, ketigabelasan bahkan keduapuluduaan ramai merumput menendang kulit tak bundar dari sisa-sisa koran bekas dan daun jati yang dibungkus plastik sandal jumbo dan dijahit tali anyaman dari pohon waru.

Sementara itu, para guru akan bercanda ria di depan kantor, bercerita dan tertawa lepas tanpa diganggu gadget dan tugas merapikan RPP atau sejenisnya. Lalu lupalah mereka akan bel jam tanda masuk karena kepala sedang memikirkan nama anak-anak yang akan disuruh menimba air untuk penuhkan gentong di rumah mereka masing-masing.

Kepala sekolah saya yang perkasa dan terkejam waktu itu adalah Bapak Karel Dahi (Alm.). Terpujilah bapak di surga, tamparan bapak yang begitu keras menjadikan saya mampu membaca, tapi sayang membenci matematika.

Saat kelas dua, guru saya Bapak Herman Anggal (Alm.). Ia melatih jiwa spiritual saya melalui kisah para nabi dan pahlawan bangsa. Nilai-nilai kami akan terpampang apik dari angka 8 sampai 9 jika telah 9 sampai 10 kali bolak balik Wae Sulu mengangkut air ke rumah beliau. Bahagia di surga bapa guru, darimulah saya tahu kalau Panglima Polem itu adalah Napoleon Bonapartenya, Indonesia.

Saat kelas tiga guru saya adalah Ibu Tin Ojing. Ia sebenarnya masih sepupu ayah saya tapi cerewetnya minta ampun karena mendapat pesan titipan dari ayah. “Sekali-kali dia bikin onar, libas!” pesan Bapak. Tapi berkat beliau saya menjadi paham tentang isi PSPB, alias Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, yang sekarang sudah tak jelas di mana rimbanya.

Waktu kelas 4 guru saya adalah pendatang baru. Wajah lama tapi guru pindahan dari sekolah lain yakni Pak Maximus Tandang (Alm). Istirahat kekal bagimu yang selalu membawa sepotong rotan untuk melibas kaki kami jika nilai tak mencapai angka 10. Dari beliaulah saya tahu kalau sulap itu bohongan dan trik balik mata. Wkwkwk.

Ketika kelas lima guruku Ibu Oni, sepupu bapakku juga yang mengemban pesan titipan yang sama seperti guruku di kelas 3. Tapi saat ini saya sudah sedikit lebih pintar karena sangat mengerti tentang simbiosis mutualisme dan rantai makanan. Sayangnya harus berbagi cubit pipi dengan teman sebangku lantaran tidak tahu bahasa daerah kacang hijau yang kami sebut rori.

Masalahnya bukan di situ; teman sebangku saya itu perempuan, namanya Tersi Sarman. Menegangkan sodara-sodara. Berhadapan dengan perempuan, sebangku apalagi bersentuhan itu sesuatu yang mengerikan. Bisa jadi seperti kata Pak Mus, guru BP3 waktu itu, debarannya seperti Adam berjumpa Hawa untuk pertama kali. Hadeh.

Di kelas lima, saya mendapat nama baru, Brem. Itu karena sebuah kisah kecil yang inspirasinya kudapat dari kisah para pahlawan, hasil kontemplasi-meditatif di kebun dekat sekolah, namanya Waeliang. Brem ini akan kuceritakan di lain kesempatan.

Akhirnya ketika naik kelas 6 guru kami adalah Pak Yakobus Mando. Ia menjabat menjadi Kepala Sekolah menggantikan Bapak Karel yang turun takhta karena memasuki masa purna bakti sebulan setelah kami naik kelas enam.

Ia menampar saya beberapa kali lantaran hobi baru yang sedang saya tekuni hasil belajar kilat yakni makian. Ancamannya untuk menggantung setiap siswa jika kedapatan usil, berbohong dan melakukan tindakan kejahatan lainnya berhasil membuat siswa kendur untuk berulah. Dan, dari dialah saya mendapat inspirasi tentang masa depan dan akhirnya memilih masuk seminari; senang menjadi imam namun rindu isteri. Eh.

Beberapa kali setiap aku kembali untuk berlibur, kusempatkan ke sana untuk mencumbu kenangan yang masih tertinggal. Banyak hal yang berubah, tapi setiap aroma ceritanya masih terhirup dari tanah dan kembang flamboyan yang sedang mekar. Ranting-ranting kembang sepatu yang mulai mengering, mengabarkan tawa dan canda setiap insan dari hari yang telah lalu.

Selamat hari Guru ke Sekolah Dasar Inpres Munde. Baik bagi guruku yang mungkin mulai renta berhadapan dengan gagapnya teknologi atau mungkin generasi baru yang ligat menanggapi masa. Terimakasih untuk setiap kenangan yang telah berbuah ketangkasan menantang zaman. Terimakasih untuk setiap kata yang telah menghasilkan keberanian untuk mengarungi masa depan. Aku di sini hari ini tiada arti jika tanpamu. Salam rindu ke SDI Munde, Waerana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.