Sendratari Lalong Seber, Literasi dari dan untuk Manggarai Timur (Sebuah Catatan Hati ke Catatan Kaki)

Hal-hal baik, kreativitas, literasi dan senyummu (Sumber foto: Dokumen pribadi penulis)

 468 total views,  2 views today


Rian Seong |Kontributor

Kabupaten Manggarai Timur sudah deklarasikan diri sebagai salah satu kabupaten literasi di NTT. Walau usianya masih belia, 14 tahun, Manggarai Timur sudah berani deklarasikan diri. Dalam keheningan dan kesenyapan, seakan terang obor itu benar-benar menerangi ruang gelap yang sunyi dan sepi. Tak ada nada dan suara riuh sampai ke masyarakat luas yang asyik pilih kemiri di kebun. Tak ada tayangan di live streaming facebook, yang mungkin bisa ditonton oleh sekelompok orang yang jeda judi kartu.

Dalam satu kesempatan, di penghujung sore, penulis berkesempatan minum kopi dan sempat disuguhkan ‘kobok’ oleh Bapak Bupati. Beliau intens mengatakan bahwa, deklarasi ini sebagai salah satu sistem yang harus ada di kabupaten Manggarai Timur. “Apapun persiapan dan situasinya, kita jalan saja dulu. Yang kurang akan dibenahi, yang sudah ada akan dipertahankan dan ditingkatkan.”

Memang, sesuai ‘ramalan’ Bapak Bupati, ada yang kurang, dan ada yang lebih. Hal-hal yang menjadi kelebihannya adalah, sudah mulainya pergerakan sekolah-sekolah yang mengadakan pelatihan jurnalistik, baik seminar ataupun workshop literasi. Hal ini digalakkan bersama Media Pendidikan Cakrawala (MPC) NTT, juga media lokal Tabeite.com, yang giat menyusuri jalan terjal literasi di Manggarai Timur, dengan mendampingi guru dan siswa untuk giat membaca dan menulis (literasi dasar) serta menghasilkan beragam karya ilmiah. Sebut saja MPC NTT, saat ini sudah menjadi media partner Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Manggarai Timur, terutama mengambil peran sentral dalam deklarasi seminggu yang lalu.

Ada beberapa kelebihan mumpuni lainnya, untuk konteks literasi di Manggarai Timur, semisal muncul nama-nama penulis besar kepunyaan Manggarai Timur, sebut saja Dr. Marsel Robot, Frans Sarong, Markus Makur, dan tentunya masih banyak lainnya. Belum lagi dengar cerita prestasi dari Seminari Kisol. Olee, ini sudah pas, cocok kalau memang harus deklarasi, ta…!

Sendratari Lalong Seber

          Ada yang unik pada momen deklarasi. Tidak biasanya ide seperti itu muncul. Lazimnya, deklarasi atau pengukuhan semacamnya hanya dilakukan secara seremonial, semisal ada bedah buku, atau seminar saja, dan ditutup dengan pemukulan gong atau penekanan tombol sirene. Ya, membosankan tentunya. Apalagi untuk konteks literasi. Sayang beribu sayang, apabila basa-basi seremonial semata. Maka, Dinas PKO Manggarai Timur mempercayai MPC NTT untuk berkolaborasi mendesain acara deklarasi. Langsung saja Dirut MPC NTT bekerjasama dengan beberapa seniman, membentuk Tim Kreator MPC, guna memeriahkan acara deklarasi ini. Sebuah sajian Sendratari Kolosal adalah pilihan terbaik para seniman, agar sajian holistik untuk literasi bisa dinarasikan untuk deklarasi.

Mengapa Sendratari Kolosal?

Menurut penulis, sajian Sendratari (seni-drama-tari-dan musik) adalah sebuah tingkatan literasi yang kompleks. Untuk mementaskan sebuah karya, seorang script writer wajib menyusun naskah untuk garapan tersebut. Otomatis, sebelum menulis, ia pasti membaca beragam literatur, baik mitologi, sejarah, ataupun perkembangan peradaban sebuah daerah atau wilayah. Setelah itu, ia ‘menyerahkan’ naskahnya kepada penata tari (gerak-drama) dan penata musik, ataupun juga penata busana dan dekorasi. Jadi, semua sajian pementasan harus menarasikan naskah. Tak boleh turut suka. Tari atau gerak (drama) wajib berdialog menceritakan naskah, musik pun wajib berdialog menciptakan suasana dan membawa pesan naskah, apalagi penata busana ataupun dekorasi. Semua berkiblat pada naskah yang ada. Nah, inilah yang dinamakan pekerjaan literasi, di mana semua akan holistik menarasikan sebuah pesan literasi pada garapan pementasan.

Lalong Seber

Ini dijadikan judul plan B-nya, setelah judul pertama ‘Pondik Seber’ ditolak karena ‘katanya’ akan munculkan polemik baru apabila narasi ini terus digaungkan. Walau penulis,yang kebetulan berperan sebagai Produser dan script writer, sudah memberikan penjelasan dan pengertian yang baik. Sekelompok orang memandang karya seni ini dari kacamata politik, sehingga menolaknya. Mereka menjelaskan bahwa judul ini seakan menyebutkan bahwa pemerintahan Kabupaten Matim adalah seperti tokoh Pondik, sebab dalam mitologi masyarakat Manggarai sebagai seseorang yang jago tipu, suka buat masalah, pemalas, dan cap buruk lainnya. Nyatanya, bukan demikian. Ketika Pondik dilekatkan frasa Seber, bak gayung bersambut adalah Visi Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur saat ini, akan menjadikan si Pondik benar-benar seber (rajin dan ulet), Pondik akan berubah. Dalam garapannya, frasa Seber ini diwakili oleh garapan naskah, ruang gerak dan tari, serta alunan musik, desain fashion yang tentunya mengangkat pesan seber.

          Itulah yang sebenarnya dinamakan sebagai pekerjaan literasi, yakni membuat si Pondik berhasil berubah karena tersirat di dalam garapan karya sendratari ini. Akhirnya judul Lalong Seber berhasil dinegosiasi, walau sebenarnya judul ini sudah tersirat di dalam Pondik Seber. Sebenarnya e, lawa…!

          Memang keunikan ini baru terjadi di kabupaten yang deklarasikan diri sebagai kabupaten literasi. Sebenarnya sebuah garapan pementasan mesti dikritik atau diprotes sehabis pementasan, tetapi kali ini, ia digosipkan sebelum pementasan. Apakah ini menandakan bahwa separuh masyarakat Matim sudah literat? Kritis berlebihan? Ataukah? Di mata saya sebagai seniman, karya ini sudah berhasil sebelum pementasan. Asik!

Deklarasi Akan Jadi Sistem

          Sebuah sistem mesti dibangun. Melihat dan merasakan langsung proses deklarasi, ikut terlibat sebagai Tim Kreator MPC, penulis sungguh ingin merekomendasikan bebrapa hal. Pertama, perlu adanya komunikasi intens antar lini, antar SKPD, antar komunitas, antar media, agar persiapannya benar-benar matang dan professional. Sayang seribu sayang, deklarasi (yang sepi) ini tidak bisa disaksikan oleh seluruh masyarakat Manggarai Timur, minimal anak-anak sekolah, Taman Baca, Komunitas Literasi, karena deklarasi digandeng bersamaan perayaan Hardiknas, 3 Mei 2021. Sebenarnya, tayangan virtual atau live streaming, akan mendekatkan mata, jiwa, dan raga, supaya gaung deklarasi sampai ke pelosok akar rumput. Itu baru enak.Kedua, perlu dukungan berkelanjutan untuk komunitas literasi di Manggarai Timur, baik Taman Baca, media, dan juga komunitas seni dan budaya yang terlahir dalam ruang-ruang sanggar sekolah atau sanggar komunitas di Manggarai Timur. Ketiga, perlu adanya deklarasi lanjutan semisal deklarasi kampung literasi, atau desa literasi, dengan pengadaan (pembukaan) beberapa Taman Baca di setiap kampung, atau pembuatan perpustakaan desa, sanggar seni dan budaya di desa.

Perlukah perpusatakaan atau lapak baca dibuka di pasar? Mungkin…hehe. Obor pembawa terang literasi sudah ditancapkan untuk memancarkan terangnya. Silahkan ambil apinya, dan bakarlah ruang-ruang semangat di jiwa anak-anak muda, Pondik-Pondik milenial, agar cahaya literasi menerangi jagad cakrawala raya, untuk memanusiakan manusia, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk bonum commune.Kalau bukan kita, siapa lagi, kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Akhirnya, tak ada yang kebetulan di atas muka bumi ini. Segala sesuatu ada maknanya. Teruslah bersama berjuang, sampai puisi kehilangan nada, dan musik kehilangan kata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.