Senjakala Sungai Wae Musur

 611 total views,  2 views today


Erik Jumpar|Tua Golo

Suatu sore, desiran air mengalir di celah bebatuan. Iramanya memecah kesunyian. Kuda besi kebanggaan saya usai dibersihkan. Tiga bocah laki-laki tiba-tiba muncul. Usia mereka rata-rata sepuluh tahun. Nafas mereka ngos-ngosan, keringat bercucuran turut membasahi tubuh. Sepertinya mereka usai berlari kencang dari tempat tinggalnya masing-masing, agar lekas menceburkan badan ke sungai.

Tak menyia-yiakan banyak waktu, mereka menanggalkan satu demi satu penutup tubuhnya, lalu diletakkan begitu saja di tepi sungai. Sambil tersenyum satu sama lain, dua dari antara mereka mengambil posisi untuk melompat jauh ke dalam sungai, sementara satunya lagi memilih untuk berenang di tepian yang dangkal.

Mereka berasal dari Kampung Golo Mongkok, Desa Watu Mori, Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur. Anak-anak itu sedang merayakan indahnya masa kecil, fase hidup yang penting dalam cerita hidup anak manusia yang tak perlu dirampok oleh siapapun.

Tanpa takut dengan arus Sungai Wae Musur yang sangar, tubuh mereka yang mungil melompat jauh ke dalam sungai. Mereka terjun ke dasar sungai selama dua sampai tiga menit, lalu muncul ke permukaan dengan menengadahkan kepala ke atas permukaan untuk menarik napas sejenak, kemudian kembali menyelam ke dalam dasar sungai. Ritme seperti itu terus dilakukan sampai mata mulai memerah, bahkan menunggu perintah dari kerabat dekat agar pulang ke rumah masing-masing.

Di sela-sela mereka lelah dalam berenang, badan mulai kegigilan, mereka menepi ke tepi sungai dan bercerita. Di antara mereka ada yang bertingkah usil dengan bercerita tentang kekonyolan yang pernah terjadi, sementara yang lain tertawa terpingkal-pingkal saat isi candaan mengena di hati.

Sembari melanjutkan obrolan, mereka melontarkan ejekan untuk sahabat kecil mereka yang takut berenang ke bagian sungai yang dalam. Namanya Jio, anak kecil berusia 10 tahun, sering dijadikan “anak bawang” ketika jumlah pemain berjumlah ganjil manakala hendak memulai pertandingan sepak bola di lapangan sepak bola SD.

“Duh! Kenapa tidak berani berenang di bagian yang dalam?” Komentar dari Nanok, sahabat kecilnya.

“Iya im, Jio tidak berani,” tanggap Fito, tetangga rumah dari Jio.

Jio cengegesan. Tanpa membuka suara, ia hanya menanggapinya dengan senyuman yang menjuntai di bibirnya. Mereka terus melanjutkan obrolan. Topik pembicaraan mereka tak berat-berat amat, hanya untuk mengisi waktu kosong di sela-sela tubuh mereka kedinginan.

Melihat mereka tertawa riang, ingatan saya kembali ke delapanbelas tahun lalu, tentang cerita Sungai Wae Musur masa silam. Anak-anak desa dengan segala keterbatasan pilihan dalam hidup, biasanya menghabiskan waktu dengan bermain di sungai. Bagi kami, di masa itu, Sungai Wae Musur menjadi salah satu jawaban untuk menghibur diri dan memperbudak waktu.

Saat kami masih kecil, pesona Sungai Wae Musur memikat. Aktivitas warga untuk mengambil hasil alam di sekitar sungai belum masif. Badan sungai belum lebar. Tebing dengan tinggi duapuluhan meter menjulang di tepian sungai. Airnya jernih dan segar. Ikan, katak dan udang berlimpah. Tumbuhan merambat tak beraturan di sekitar Daerah Aliran Sungai.

Di masa itu, saban senja anak-anak desa pergi ke sungai untuk membersihkan badan. Namanya anak-anak, tentu tak hanya untuk membersihkan badan bak mandi di kamar mandi. Kami menghabiskan waktu untuk berenang, lalu bercengkerama sesaat sebelum mentari kembali ke peraduan.

Lazimnya, anak-anak yang memiliki kelihaian dalam berburu memanfaatkan waktu senggang untuk mencari binatang bawah air. Peralatan berburu yang dipakai sederhana. Bermodal senapan tradisional yang terbuat dari kayu. Dibentuk menyerupai senapan modern, pelurunya terbuat dari kawat sepanjang sepuluh senti meter.

Demi menangkap buruan yang ada di dalam sungai, tak cukup hanya bermodalkan senapan, mereka membutuhkan kacamata untuk menyelam. Kacamata yang dimaksud tidak dibeli di toko, tak sebeken kacamata yang dipakai oleh “dive master” di perairan sekitar Selat Sape. Namun dibuat sendiri dengan peralatan yang sederhana. Gagangnya terbuat dari kayu, kacanya diambil dari kaca jendela bekas dari rumah-rumah warga, lalu dibuat seperti kacamata.

Sejak dulu kala Sungai Wae Musur begitu masyhur. Bahkan, menurut kesaksian dari salah satu kerabat dekat kami, di tahun 1970-an, saat mereka menginjak usia remaja, Sungai Wae Musur menyimpan sejuta kekayaan bawah air yang berlimpah.

“Dulu Sungai Musur itu sangat kaya. Ikan, belut, udang, dan katak berlimpah. Ukurannya sangat besar. Kami tidak kewalahan untuk mencari lauk,” jelas Bapak Rikus Gandut.

Wae Musur sedang dilanda banjir.

Berkat yang mengalir dari Sungai Wae Musur membuat mereka giat untuk menyelam. Di zaman mereka, anak usia remaja dituntut untuk bisa menyelam. Hasilnya dibawa pulang ke rumah untuk disantap bersama anggota keluarga yang lain.

“Kalau ada anggota keluarga yang hebat dalam menyelam, ia akan disanjung oleh almarhum ayah di dalam keluarga kami,” lanjutnya mengenang masa kecil.

Rentetan cerita indah mulai dari paragraf ke sepuluh di atas hanyalah kenangan. Narasi tentangnya perlahan sirna digilas keangkuhan. Cerita tentangnya tidak seagung dulu lagi. Sungai Wae Musur memasuki usia senja.

Sekarang cerita tentangnya berubah total. Banjir bandang selalu datang menerjang. Akibatnya badan sungai melebar. Penghuni bawah airnya tak lagi berlimpah. Jumlah tangkapan warga lokal tidak selimpah cerita-cerita di masa silam.

Barangkali kita tiba di titik puncak, titik terburuk dalam cerita tentang Sungai Wae Musur yang masyhur. Kalau diperbolehkan untuk melihat ke dalam diri, dan merefleksikan titik terendah dalam kehidupan kita, kemungkinan besar ada tingkah penuh angkuh yang ditunjukkan oleh manusia. Misalnya, tangan-tangan tamak yang menyetrum menggunakan genset atau pembalak liar di hulu sungai yang merambah hutan sesuka hati. Imbasnya bisa kita nikmati sekarang, tentu argumentasi ilmiahnya tak perlu diajukan lebih jauh di dalam catatan ini.

Kita memasuki suatu fase yang genting; Senjakala Sungai Wae Musur. Selamat menikmati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.