Sepasang Mata di Dinding “Smandu” Borong

Sepasang mata dan makna (sumber foto: Google)

 2,112 total views,  2 views today


Alfred Tuname|Kontributor

Ada sebuah adagium yang bunyinya, “caritas in oculo tuo”. Terjemahan bebasnya, cinta terpancar dari matamu. Ya, cinta dan benci selalu bisa terlihat dari tatapan. Gairah juga bisa muncul dari tatapan. Dari mata, orang bisa membaca tanda, mencecah pesan.

Dalam mitologi Yunani, kisah tentang mata muncul dalam cerita Medusa. Medusa adalah seorang pendeta cantik yang dikutuk Athena karena ia “berhubungan” dengan Poseidon, dewa laut. Rambut si cantik Medusa pun berubah jadi sekumpulan ular. Mata Medusa adalah sihir yang mematikan. Keterpanaan pada mata Medusa membuat seseorang terbujur kaku. Pancaran sinar mata medusa tidak saja membuat jantung berhenti berdetak, tetapi juga membuat kelembutan kulit dan kegagahan otot menjadi retak lalu melebur jadi abu tanah.

Itulah magis-nya mata dan tatapan. Saking magisnya, kata “mata” itu pun menjadi penanda utama asal, ujung atau sumber. Maka ada kata “matahari” (:sumber terang hari), “mata air”(;sumber air), “mata panah” (:ujung tajam panah), et cetara. Karena “keutamaan” itu, maka hilang mata, lenyaplah dunia. Persis, hilang mata air, kering sungai/sumur.

Dinding tembok gedung sekolah SMAN 2 Borong (Smandu), Manggarai Timur (Matim), tak kering oleh cat hijau lime. Di sana, ada potongan coretan gundah pun suka yang tertempel apik. Anak-anak milenial sekolah menyebutnya Majalah Dinding atau Mading. Tak hanya gambar semiotis, ada juga cerpen dan puisi penanda ada literasi yang baik. Menarik!

Pada dinding itu, sepasang puisi menarik dipandang dan di-plototin. Judulnya, “Penglihatan” dan “Serdadu”. Dua potong puisi itu ditulis oleh seorang putri bernama Erlina Intan. Penulis tak mengenal penyair muda ini. Namanya juga tak muncul pada Lomba Cipta dan Baca Puisi tingkat SMA/SMK se-Matim (April 2022), yang diselenggarakan di sekolah itu. Ia tak tampak, tapi sajaknya mencolok.

Kesannya, dari mata turun ke hati. Puisinya, dari mata tunjuk ke kebenaran. Itulah pesan singkat dari puisi “Penglihatan”.  Bahwa orang akan sukar percaya tanpa melihat; orang sukar percaya tanpa tatapannya menyentuh obyek (gaze).

Melalui “Penglihatan”, mungkin secara tak sengaja, penyair sedang mengungkap manusia modern yang mengeram dalam kebenaran Thomistik: percaya karena melihat/menyentuh. “Dengan lihai mencari sandaran kebenaran/Sukar untuk ditebak tanpa dua bola mata besar/Sudah tentu akan ada kepastian/Inilah mataku yang penuh pembuktian”.

Dalam tradisi Kristiani, Thomas adalah tokoh yang enggan percaya kepada kebangkitan Yesus Kristus pada peristiwa Paskah. Ia hanya percaya ketika mata melihat dan tangannya menyentuh bekas ujung lembing yang menusuk lambung Yesus, dan bekas paku yang menembus telapak kaki dan tangan Yesus. 

Nah, manusia modern adalah “manusia Thomas” yang gandrung pada hal-hal yang bersifat empirik-scientis. Kebenaran adalah sesuatu yang harus kasat mata; kebenaran adalah sesuatu yang tercecap indra. Kadang pula manusia modern tak percaya pada apa yang dilihatnya sendiri. Karena itu diusahakan melihat dua kali atau lebih. “Dan akhirnya, dengan mata besar ini aku menyebrang/Nyata dengan kejujuran penglihatan”. Mata harus melakukan zoom-out berkali-kali.  

Padahal ada sesuatu yang melampaui mata. Ada yang tak bisa tertangkap mata, sebab mata bisa menua lalu pudar. “Usia senja” mata akan mengaburkan semua yang ada di bumi. Sesuatu yang empirik-scientis itu pun tak pernah baku. Selalu dikoresi, difalsifikasi. Pluto tak pernah menjadi planet terakhir, sebelum ditemukan planet Eris. Diprediksi masih ada planet lain yang belum tertangkap oleh keterbatasan teknologi manusia.

Sesuatu yang melampau mata itu adalah “percaya meski tanpa melihat”. Itulah iman. Iman itu menyelamatkan manusia dari kefanaan. Iman itu menjadi energi batin yang melahirkan harapan sehingga manusia luput dari kalkulasi doomsday. Doomsday ini bukan berasal dari “Atas”, tetapi ciptaan manusia modern an sich.

Pada puisi “Serdadu”, doomsday adalah tangan dengan pedang berlabur emas.“Pedangmu nan perkasa/Dibaluri emas, tanganmu/merobek ragaku”. Dunia akan berakhir bila ada tangan yang gratil. Techne, kerja tangan, bisa melahirkan teknologi mutakhir untuk membantu manusia. Persis pedang untuk menyembelih hewan korban. Teknologi mutakhir juga bisa melahirkan nuklir di tangan Kim Jong-un, Pemimpin Tertinggi Republik Demokratik Rakyat Korea Utara. Suatu ketika apabila “Aku melihat awan hitam bersembunyi/di balik dadamu”, setengah dunia akan menjadi gelap. Sebab, kuku Kim Jong-un telah menyentuh tombol yang meluncurkan nuklir menuju musuh-musuh politiknya.

Musuh biasanya muncul dari pandangan “mata kuda”: melihat searah sembari menghakimi yang tak sejalan. Pedang diasah untuk menarik garis pisah antara kawan dan musuh.  Di mata serdadu yang berseteru, silang pedang menimbulkan api dendam yang lama padam. Ya, mata serdadu adalah mata perang.

Dunia memang selalu dihuni oleh dua lancip mata: mata serdadu dan mata pengemis. Mata serdadu meminta poin kemenangan; mata pengemis meminta koin harapan. Keduanya sama-sama dalam “perang”. Yang satu mengemis sesuap minyak bumi dan emas; yang lain berharap sebutir nasi, sesendok air. Masing-masingnya untuk bertahan hidup (survive).

Di mata serdadu, musuh adalah serigala bagi manusia lain (homo homini lupus). Mata serdadu itu mata galak; mata musuh itu mata yang tidak enak dipandang. Dalam cerpen “Mata Yang Enak Dipandang” (Gramedia, 2019) karya Ahmad Tohari, dikisahkan bagaimana pengemis melihat orang hanya dari matanya. “… Perhatikan mata mereka. Orang yang suka memberi receh punya mata lain… Mata orang yang suka memberi, kata teman-teman yang melek, enak dipandang”. Semacam ada cinta yang terpancar dari mata mereka. Ya, di mata pengemis, orang yang suka memberi adalah malaikat.

Sepasang puisi Erlina Intan pun adalah mata peri: menyamarkan yang tampak, menyingkap yang kedap. Dan itulah puisi. Teruslah cipta puisi biar semakin banyak yang terungkap!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.