“Setelah Corona” Satuan Waktu Baru Bagi Manusia

 487 total views,  1 views today


Popind Davianus

Jika virus corona adalah titipan Tuhan, maka virus ini sukses mengubah banyak hal. Karyawan yang tekun bekerja tiba-tiba harus di-PHK, siswa yang sedang semangat-semangatnya datang sekolah tiba-tiba harus sekolah dari rumah dan kami yang dengan derai air mata mengukur kebaya buat mama dalam rangka persiapan wisuda saya, tiba-tiba wisudanya ditiadakan. Hais.

Pandemi ini belum ada ujungnya, tidak ada satu pun yang bisa memastikan kapan ia berakhir. Alih-alih pemerintah, pemuka agama atau ilmuwan memprediksi ujung dari pandemi ini, semua omongan mereka tidak bisa dipercayakan sepenuhnya tanpa kita mematuhi apa yang menjadi instruksi bersama atau dalam kalimat lain kita bahu-membahu melawan virus corona.

Semisal, ketika diinstruksikan agar tetap di rumah saja  untuk memutus rantai penyebaran virus corona, maka patuhi! Cara paling ampuh untuk mengusir pandemi ini adalah  membatasi kontak fisik dengan orang lain.

Ini pembukaan tulisan yang terlalu bertele-tele. Mestinya yang menghimbau adalah juru bicara covid-19 yang akhir-akhir ini sering nongol di TV, bukan saya.

Balik lagi. Dari sekian banyak hal yang menimpa kita karena virus corona, yang paling menarik menurut pandangan saya adalah satuan waktu “setelah corona”. Satuan waktu baru bagi kita semua, makhluk hidup bernama manusia.

Selain karena ada hal yang bisa diulik di balik penggunaan istilah tersebut, juga dikarenakan dampak lainnya sudah ada pengamatnya masing-masing.

Seperti bidang ekonomi oleh pakar ekonomi, bidang kesehatan oleh pakar kesehatan dan yang menyebalkan, ajakan supaya tidak panik oleh pemerintah tapi nyatanya mereka (pemerintah) panik juga.

Jika dalam ilmu matematika kita mengenal beberapa satuan waktu seperti detik, menit, hari, minggu, bulan, tahun, dasawarsa dan lainnya, maka satuan waktu terbaru di tengah pandemi ini adalah “setelah corona”

Selama ini, secara spontan kita mungkin pernah menjawab “setelah corona” ketika ada yang menanyakan waktu dengan kata tanya kapan.

Kapan kita bisa nongkrong lagi manteman? Nanti bro, setelah corona

Kapan kita bisa main futsal lagi? Nanti ya, setelah corona

Satuan waktu setelah corona sebetulnya adalah jawaban untuk konteks waktu yang belum punya kepastian.

 Karena pandemi ini belum tahu ujung pangkalnya, maka jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan yang berkaitan dengan waktu adalah setelah virus corona. Jawaban ini sebenarnya menggambarkan kepatuhan sekaligus ketakutan.

Ketika kampanye di rumah saja gencar dihadirkan di berbagai media, banyak yang patuh untuk tetap di rumah saja dan segala aktivitas yang tidak mendesak sudah melahirkan jawaban penolakannya secara halus, “setelah corona”.

Selain patuh, sebenarnya ada porsi ketakutan dalam jawaban “setelah corona”. Angka kematian di Indonesia semakin hari semakin meningkat drastis, pun yang terjangkit angkanya juga meningkat. Pemerintah dan masyarakat semakin ke sini semakin merasa terancam dengan keberadaan virus corona, walau pun awal-awal ada oknum yang malah menjadikan virus corona sebagai guyonan. Kalian tahulah siapa oknum dari pemerintah yang saya maksud.

Dari ketakutan ini kemudian, tebentuklah konstruksi jawaban yang sedikit terdengar lebih elegan, lebih berani, yaitu “setelah corona”. Sebenarnya ada ketakutan terselubung di balik jawaban tersebut.

Ada pula yang diuntungkan dari jawaban “setelah corona”, mereka adalah kaum yang selama ini bingung dengan pertanyaan kapan nikah. Karena pandemi ini belum ada ujungnya, maka jawaban ketidakpastiaan waktu nikah terwakilkan dengan jawaban “setelah corona”. Kapan sih setelah corona itu? Belum tahu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.