Sikap Waras Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa

 386 total views,  1 views today



Itok Aman|Redaksi

Media online adalah salah satu bukti kreativitas manusia-manusia cerdas. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, dan familinya. Sebagai pengguna media, banyak yang kita lakukan untuk menunjukkan (secara tidak langsung) siapa diri kita sebenarnya.

Banyak orang memamerkan karya-karyanya untuk diketahui publik, entah untuk dipuji atau dikritik atau juga untuk menunjukkan keberadaannya, bahwa dia benar-benar ada. “cogito ergo zum — saya berpikir maka saya ada” Rene Descartes, filsuf Perancis. Sekadar meleset dari pernyataan Descartes, saya menggeser sedikit ke “saya berkarya maka saya ada,” terlihat lebih relevan bagi pengguna media.

Sebagai pengguna media yang fana dan tidak bisa menghasilkan karya-karya hebat, saya mengacung salut serta rasa hormat terhadap orang-orang yang mampu berkarya. Sekecil apapun itu, patut diapresiasi sebagai penghargaan atas perjuangan dan pengorbanan mereka dalam berusaha menjadi diri mereka sendiri.

Selain itu, di media ini banyak orang berkarya untuk mencari perhatian, memikat tanggapan publik, mencari uang, dan lain-lain. Tidak jarang di beranda media saya, saya temui beberapa postingan yang kerap kali melecehkan Orang Dengan Gangguan Jiwa. Mengunggah gambar dan/atau video ODGJ hanya untuk memantik kelucuan.

Sesuatu yang tidak layak! Tidakkah kita berpikir bahwa mereka melakukan aksi-aksi di luar akal sehat manusia normal sebagai penderitaan yang tidak mereka sadari? Layakkah kita menjadikan itu sebuah guyon untuk menciptakan tawa? Saya merasa sedih dengan keduanya; sedih terhadap penderita ODGJ dan orang-orang yang katanya waras namun mengunggah gambar/video ODGJ yang jelas-jelas melecehkan mereka. Kalau bukan kewarasan kita, siapa lagi yang memperjuangkan hak hidup dan keadilan sosial bagi mereka?

Tiba-tiba saya ingin bertanya ketika kita menertawakan mereka lalu menyebarkan tingkah laku mereka ke beranda media untuk dijadikan sebagai objek lelucon.

Berbicara mengenai humor atau dunia lawakan, dalam term filsafat humor hadir dalam tataran kelirumologi. Di sana, humor mempreteli koherensi. Jika seseorang merasa logikanya diganggu karena mengangkat sesuatu anggapan yang selama ini menurut dia benar tetapi ternyata keliru maka dia akan tertawa.

Peran humor maupun komedi sebetulnya memperbaiki kekeliruan dengan cara yang santai dan menggelitik. Bukan mengejek. Lalu, pertanyaan saya, siapa yang keliru dari menertawakan Orang-orang Dengan Gangguan Jiwa ini? Sebenarnya siapa yang tidak waras atau yang jiwanya terganggu di sini? Saya pribadi lebih simpatik kepada orang-orang yang mengunggah foto atau video saat memberikan makanan atau minuman serta pakaian dan sumbangan lainnya kepada ODGJ itu (yang walaupun mungkin ada sebagian dari jemaah dunia maya menanggapi sikap mereka yang melakukan itu hanya sebagai pencitraan) setidaknya masih ada yang bisa belajar dari sikap mulia itu ketimbang kita menyebarkan ketidakwarasan ODGJ di media online ini. Sungguh, saya merasa terganggu.

Mari, ubah sikap dan reaksi kita terhadap ODGJ. Berikan mereka pelayanan dan perhatian, masih terlalu banyak hak mereka yang tidak kita perhatikan. Masih terlalu banyak cinta yang belum mereka dapat, masih terlalu banyak di antara kita yang sadar bahwa mereka layak mendapatkan hak yang sama dengan kita. Kalau bukan kita (yang bilang diri) waras untuk memperhatikan mereka, siapa lagi?

Masalah kita sampai hari ini masih sama, saat yang lain dengan tulus memperjuangkan hak orang-orang dengan gangguan jiwa malah kita yang jiwanya tidak terganggu mengganggu mereka dengan tingkah-tingkah kita tidak sewajarnya dilakukan oleh orang-orang yang notabene dibilang waras.
Sedih saya!

Tambahan; Saya menulis ini bukan berarti saya selalu bersikap baik terhadap orang-orang di sekitar saya, kadang saya keliru dan salah. Ada saat-saat tertentu dalam hening yang saya gunakan sebagai refleksi sehingga melahirkan suara hati seperti yang saya tulis di atas. Bukan pula sebuah pencitraan. Untuk apa melakukan hal yang membuang waktu secara cuma-cuma itu? Hanya saja, kita saling menyadarkan selagi ada yang masih sadar.

Apakah Anda menilai tulisan ini bagian dari pencitraan? tetapi hanya ini ruang bagi saya yang tidak sekolah ini untuk berbagi berbagai hal yang positif dan edukatif semampu saya. Saya tidak peduli Anda menilai saya apa, intinya saya sudah sering melakukan sendiri bagaimana memberikan perhatian saya menghargai dan mencintai orang-orang yang dengan gangguan jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.