Sikuara: Tanjakan Seribu Harapan

Foto pribadi

 379 total views,  6 views today


Ervino Hebri Handoko|Kontributor

Dua hari yang lalu (Jumat, 18/6/2021) pukul 08:30 WIB,  saya menemukan  sebuah berita gembira dari tautan yang dibagikan  kawan lama saya waktu SMP, Nardi Jaya. Beliau menaikan sebuah berita yang cukup menggembirakan yaitu informasi  tentang bantuan tower internet  untuk 66 Desa di Matim. Sebelum membaca keseluruhan isi berita, saya langsung menayakan   peluang  kecamatan Kota Komba  dalam proses  penerimaan bantuan tersebut.  “Ada dua e bro, Desa Bamo dan desa  Mokel Morid”, jawabnya singkat.  Hemm, nyesak rasanya. Desa Komba yang letaknya berdampingan dengan  ibu kota kecamatan  tidak masuk dalam radar perhatian pemerintah. Serasa jadi anak tiri. Ah sudalah.

 Harapan saya pun pupus seketika. Padahal ini adalah impian yang sudah cukup lama saya dambakan, mulai dari zaman HP lemok  sampai zaman android. Sia-sia. Doa, harapan, jeritan, berlalu begitu saja. Rasanya seperti di-ghosting, janji manis yang keluar dari mulut mereka yang saat ini sudah  duduk manis di  kursi dewan hilang tanpa jejak. Suara perubahan yang dulu mereka teriakan dengan kencang kini tak bergema.  Sampai di sini saya sadar,  kadang, kita perlu memberi perhatian yang terukur, kepercayaan yang sewajaranya kepada mereka yang menawarkan ratusan janji manis di panggung demokrasi,  karena mengharapakan sesuatu yang kelak tidak mungkin kita dapatkan  adalah salah satu bentuk patah hati yang kita ciptakan sendiri.

Kabar duka di atas kembali membawa saya pada sebuah tempat yang tidak jauh dari kampung tercinta yaitu Sikuara, tempat segala raga bertemu pandang,  segala rindu ditumpahkan, segala jeritan hati disampaikan, segala harapaan yang hampir pupus dikuatkan, dan mungkin segala kenangan yang terkubur, kembali bersemi.  Sikuara merupakan satu-satunya tempat yang cukup strategis untuk menjangkau jaringan internet bagi kami penduduk sekitar. Terletak di atas bukit dengan irama jalan yang penuh tanjakkan, namun  disempurnakan dengan pemandangan alam sekitar yang cukup memanjakan mata.  Dari kejauhan puncak  gunung Inerie terlihat sangat jelas, desiran ombak lautan pun nyaris terdengar.

Tempat ini tidak begitu asing bagi pencinta kilo meter.   Jika kita melakukan perjalanan melewati  jalur Trans Flores dari Borong ke Bajawa pasti melewati tempat ini.  Hampir setiap saat kita menemukan beberapa orang begitu santai mampir di tempat ini, sekadar melepas lelah atau pun bertukar kabar dengan kenalan, keluarga, sahabat, bahkan pacar di pulau seberang. Sikuara, menjadi satu-satunya tempat  yang paling nyaman dan strategis untuk mendapatkan signal. Sikuara juga menjadi saksi bisu perjuangan siswa/i  SMP SATAP Munde untuk  menyelesaikan ujian akhir sekolah yang beberapa waktu lalu yang sempat viral di salah satu stasiun  TV nasional.

Kisah dramatis tentang Sikuara dan perjuangan signal warga sekitar menjadi semacam antithesis dari pepatah latin yang mengatakan Tempora muntatur, et nos Mutatur in illis (waktu berubah, dan kita pun ikut berubah didalamnya).  Betul, waktu selau berubah, dan pasti kita akan ikut berubah di dalamnya,  namun  tidak demikian dengan   sebagian masyarakat desa Komba dan Watu Nggene. Waktu berubah, namun mereka  tidak mengalami perubahan. Miris rasanya,  daerah yang bersebelahan dengan ibu kota Kecamatan,  yang di dalamnya terdapat dua  Sekolah Dasar ( SDK Wae Sepang dan SD  Bonggirita) dan satu SMP (SMP SATAP Bonggirita) sama sekali tidak memiliki jaringan internet apalagi di tengah sistem  pendidian saat ini yang serba online. Suara perubahan yang selalu diagungkan oleh pemerintah  nyaris berbanding terbalik dengan realitas lapangan. Banyak teriakan, jeritan masyarakat tentang kenyataan ini, namun tak didengarkan. Bahasa perubahan hanyalah kata-kata kosong yang tidak memiliki makna.

Bapak Mikhael Donsali  salah satu guru di SDK Waesepang ikut bersuara tentang situasi ini. Beliau bercerita tentang  begitu beratnya tanggung jawab guru saat ini berhadapan dengan sistem pendidikan yang serba online. Rasa-rasanya, mengharapkan jaringan internet  seperti  manusia yang  sedang rindu memetik bulan.  Beliau pun menceritakan bagaimana susahnya mencari jaringan untuk memberikan pelayanan pendididkan kepada  murid-muridnya. Sikuara kadang menjadi jawaban dan tempat yang paling tepat untuk  menjawab setiap keluhan mereka. Untuk mendapatkan jaringan, mereka pun harus bertarung dengan teriknya panas mata hati, hujan, dan angin.  Perjuangan yang cukup  menyita waktu dan tenaga. 

Berhadapan dengan situasi ini, beliau mengharapakan perhatian serius dari pemerintah.  Beliau  mengharapkan perlakukan yang sama, sehingga mereka dan anak didik boleh merasakan kemerdekaan belajar dengan jaringan yang pantas  sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak lainnya. Harapan dan impian sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Mikhael adalah doa kita bersama. Kita tentu berharap, kata keadilan sosial tidak menjadi kata-kata kosong, tetapi menjadi kata-kata yang hidup, memberi kekuatan, dan kekebasan bagi semua masyarakat.

Semoga suara kita terdengar, dan direspon oleh yang mempunyai kewenangan. Sehingga tidak ada lagi  cerita-cerita konyol, dramatis, mungkin juga romantis dari  kami penghuni daerah perbatasan yang kadang luput dari jangkauan yang di atas.  Kami anak-anak perbatasan mengharapkan perhatian pemerintah, dengan demikian pesona   bukit sikuara   akhirnya menjadi sebuh kenangan, karena harapan para pencari jaringan terpenuhi sudah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.