SMPN Satap Munde dan Seni Merawat Budaya

Darah kami merah dan putih. (Foto; Dokumentasi Pribadi)

 402 total views,  2 views today


Nando Sengkang|Redaksi

SMPN Satap Munde, sebuah sekolah di pelosok Manggarai Timur-NTT, masih belum menggema. Bagi saya cocok dijuluki “Sekolah Kampung.” Namanya saja masih begitu asing dan tenggelam dalam hegemoni sekolah-sekolah terkenal di Manggarai Timur. Pasalnya, sekolah tersebut baru berdiri tahun 2010. Bermodal memboncengi ruang kelas SD Munde, sekolah ini mulai merangkak, berjalan perlahan, hingga mampu berlari mandiri. Artinya, sekarang sudah memiliki gedung-gedung sederhana yang mampu memberikan pelayanan ilmu yang kondusif. Serta mencetak pelbagai generasi penerus bangsa di bawah sentuhan tangan para guru dengan imbalan sederhana: pahlawan tanpa tanda jasa.

Perkenalan singkat di atas adalah nyanyian kata-kata dalam artikel saya yang pertama tentang “Sekolah kampung” ini di tabeite dengan judul, “Cahaya” SMPN Satap Munde: Asa Pembelajaran Daring Untuk Sekolah di Kampung (16 Mei 2020). Konteks pada saat itu ialah sekolah online dalam “jebakan” pandemi Covid-19.

Alih-alih pelbagai sekolah di Manggarai-NTT sibuk menerapkan kebijakan “libur total”, SMP Satap Munde melakukan suatu gebrakan baru dan berbeda, yaitu menyediakan Ipad untuk menunjang proses belajar-mengajar. Sebelum diserahkan kepada para siswa dalam beberapa kelompok sesuai tempat domisili, mereka dibekali kursus singkat dan beberapa pengarahan edukatif agar tidak gugup dan gagap dalam menggunakan Ipad. Kebijakan yang sungguh bijak itu membuahkan hasil, yaitu para murid tetap mencicipi menu ilmu,  walau raga berada di rumah dalam kondisi ala kadarnya: tanpa sentuhan make-up ala remaja yang masih bertumbuh.

“SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA DARI lembah SATAP MUNDE” (Dok. Yanto Anggal)

PernaK-Pernik yang Ciamik

Selain kebijakan saat sekolah daring, SMPN Satap Munde terus melakukan pelbagai kreativitas dalam mencetak “Generasi Hebat Bangsa”. Kreativitas tersebut tak terlepas dari peran para guru sebagai pioner utama dalam memberikan contoh bagi para murid. Yang terbaru adalah dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-92, 28 Oktober 2020. Dan Yanto Anggal, seorang guru perintis yang masih setia dalam pengabdian di lembah sunyi itu, mengunggah beberapa foto unik di akun facebook Janto Sadam dengan nyanyian kalimat singkat, “SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA DARI lembah SATAP MUNDE”. Kalimat-kalimat tersebut demikian singkat nan sederhana. Sebab yang mengagungkan adalah beberapa foto yang mewakili, yaitu  Upacara Sang Merah Putih dengan keunikan pernak-pernik ciamik. Apa itu?

SMPN Satap Munde melakukan Upacara Sang Merah Putih dengan mengenakan busana-busana lokal Manggarai, khususnya budaya Rongga dan Kolor, yaitu Kain Songke dengan balutan Selendang Manggarai yang membuat putra-putri Manggarai semakin gagah dan gemulai. Serta mahkota indah yang menghiasi kepala si manis-kaum hawa, yaitu Bali Belo. Saat, mengenakan Bali Belo para wanita Manggarai pada umumnya seperti menjelma bagaikan Queen of Sheba yang penuh teka-teki datang mengunjungi Salomo pada tahun 1559. Sedangkan, Kaum Adam (pria) juga mengenakan mahkota yang sederhana, yaitu Nggombe (topi adat khas Budaya Rongga). Ketika mengenakan Nggombe, Nana Rongga-Manggarai siap dijuluki “Ampun Nana Jago”.

Upacara tentu semakin berwarna dan upacara semakin hikmat kala Sang Merah Putih berkibar diterpa bayu. Lalu menyusul nyanyian “Indonesia Raya”, diperkenalkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta). Sekarang nyanyian historis tersebut ,menggema di lembah sunyi SMPN Satap Munde.

Seni di Lembah Sunyi

Kebijakan para guru SMPN Satap Munde tersebut merupakan ‘seni merawat budaya’. “Seni” adalah kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa)-kata KBBI. Bagi John W. Gardner (1912-2002), politikus Amerika-Serikat, “Hidup adalah seni menggambar tanpa penghapus.” dan bagi Nietzsche (1844-1900), filsuf Jerman, “Seni membuat Jiwa begitu ceria.” lalu bagi pembaca, seni itu apa?

Di Lembah sunyi SMPN Satap Munde, makna seni yang sederhana telah digambarkan tanpa penghapus dan jiwa mereka sedang menari-nari ceria. ATAU?

1 thought on “SMPN Satap Munde dan Seni Merawat Budaya

  1. Thanks for a marvelous posting! I really enjoyed reading
    it, you are a great author. I will be sure to bookmark your
    blog and will eventually come back very soon. I want to encourage you to
    definitely continue your great writing, have a nice day!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.