Lagu Surat Cinta Untuk Starla Tidak Lucu, Kita Semua Punya Peluang Untuk Melakukan Kesalahan

Surat cinta masih untuk Starla (gambar; titiknol.co)

Loading


Popind Davianus II Redaksi

Percaya atau tidak, saya termasuk generasi yang sempat bertukar kabar dan menyampaikan perasaan kepada tambatan hati melalui alat komunikasi yang biasa disebut “surat cinta”. Surat cinta biasanya dititip lewat jembatan, orang yang dipercaya dapat mengantar surat cinta.

Kalau tidak salah mengenang, pada masa itu dijual khusus kertas yang diperuntukan menulis surat cinta dan dijual per-rim. Kalau hanya punya satu pacar, kertas yang dibeli itu jumlahnya masih sanggup untuk dibagi-bagikan ke teman di asrama. Tetapi kalau Anda punya pacar sampai selusin, sebaiknya urungkan niat untuk membagi kertas satu rim tadi kepada orang lain.

Kertas-kertas itu, kalau diingat kembali, desainnya terlampau lebay. Pada setiap sudutnya tertera gambar hati. Jumlah hatinya banyak. Berlapis-lapis dan memenuhi setiap sudut kertas. Tetapi pada masanya, menggunakan kertas khusus untuk surat cinta jauh lebih bergengsi ketimbang menggunakan sobekan kertas dari buku tulis. 

Saya kesusahan mengingat kembali, siapa saja yang pernah saya kirimkan surat pada masa itu. Walau sempat terlintas, saya sepertinya takut menyebut mereka. Takut mereka sudah punya suami, takut juga pacar saya akan marah. Jadi cukup saya yang tahu–kalau Anda tahu, cukup disimpan di dalam hati, tidak perlu dibongkar.

Ketika saya selesai SMP, saya tidak lagi menemukan pemandangan bertukar kabar melalui surat cinta. Sudah ketinggalan zaman. Saat itu mulai menjamur aplikasi seperti BBM, Line, Twitter, Facebook, Instagram hingga yang paling enteng melakukan percakapan pribadi lewat WhatsApp.

Saat kuliah, ingatan tentang surat cinta bangkit kembali melalui lagunya Virgoun, vokalis sekaligus gitaris band genre pop dan rock Last Child. Tentu lewat lagunya, Surat Cinta Untuk Starla. Walau ia tidak lugas menyebut bagaimana pengalamannya menulis surat cinta di masa lalu, namun judul lagunya mengingatkan saya betapa asyiknya merayu kekasih melalui selembar kertas. 

Surat Cinta Untuk Starla sempat menjadi salah satu lagu populer di tanah air. Virgoun terhitung sukses mengemas lagu tersebut. Pilihan nadanya syahdu masuk ke telinga pendengar. Pilihan kata-katanya menendang perasaan. Boleh dibilang, lagu paling romantis yang pernah ada di Indonesia salah satunya Surat Cinta Untuk Starla. 

Saat itu, banyak perempuan menginginkan untuk menjadi tokoh Starla seperti dalam lagu yang diperlakukan romantis oleh pengarangnya.

“Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu. Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi.”

Betapa puitisnya penggalan lirik di atas, ada keinginan hidup bersama hingga menua dibahasakan dengan pilihan diksi yang hampir sempurna.  Perempuan mana yang tidak meleleh hatinya mendengarkan perpaduan kelembutan musik dan suara Virgoun. 

Lagu tersebut kini ramai didengarkan kembali. Sayang situasinya telah berubah. Orang-orang tidak lagi mendengar demi memaknai diksi yang romantis dan menikmati alunan musiknya, melainkan didengar untuk menertawakan keadaan yang tengah dialami oleh pemilik lagunya.

Padahal, semua manusia berpeluang melakukan kesalahan. Starla, saya dan teman-teman pembaca Tabeite punya kesempatan untuk melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh pencipta lagu Surat Cinta Untuk Starla itu. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *