Surat Cinta, Mengingat Kembali Rosa Mistika, Natalia dan Almarhum Bapak Yere

 841 total views,  1 views today


Penulis : Ervino Hebry Handoko |Kontributor

Sekarang dengan pelbagai pekembangan teknologi komunikasi hampir tak ada lagi yang menggunakan surat cinta sebagai sarana untuk mengutarakan perasaan kepada lawan jenis apalagi menggunakan jasa perantara atau dalam bahasa nenek moyang kami, jembatan.

Sekitar tahun 2006, surat cinta bersampul biru sangat familiar di kalangan kaum hawa SMPK Rosa Mistika Waerana. Surat cinta bersampul biru tersebut biasanya dijual di toko milik almarhum Bapak Yere yang terletak persis di depan sekolah. Masa SMP menyimpan segudang cerita. Banyak pengalaman unik tercipta di sini. Hampir setiap orang memulai petulangan cinta pertamanya di sini. Rasa cinta, ingin memiliki bahkan cemburu, tumbuh dari sini.

Saya ingat betul saat pertama kali menulis surat cinta. Saat itu, saya jatuh cinta dengan sosok seorang gadis, sebut saja Natalia. Sampai saat ini saya masih menertawakan kekonyolon pada masa itu, betapa polosnya saya mengutarakan perasaan melalui sepucuk surat bersampul biru dengan kalimat lebay ABG masa itu. Tentu, setiap orang mempunyai rumusan menulis yang berbeda-beda, namun dalam menulis kalimat pengantar surat cinta ada rumusan massal yang hampir diikuti oleh semua murid di SMPK Rosa Mistika. Entah apa yang merasuki kami sehingga merasa nyaman-nyaman gimana gitu loh. Begini bunyinya:

Teruntuk (Natalia) sang pujaan hatiku,

Sebelum kumerangkai kata menjadi kalimat,

terlebih dahulu kuucapkan salam hangat di awal kata,

dan salam manis di akhir kalimat


Setelah pengantar surat massal ini selesai dicoret-coret, isi suratnya tergantung masing-masing isi kepala. Tetapi yang pasti, penutup surat pasti disertakan dengan beberapa pesan yang dirumuskan dalam sebuah akronim seperti Kamis: kalau makan ingat saya, atau Sisir: simpan surat ingat rahasia.

Akronim yang terakhir ini paling penting, karena waktu itu, guru-guru menganjurkan kami untuk tidak pacaran, alasannya biar kami fokus belajar. Atas pertimbangan itu, kebanyakan dari kami berpacaran secara ala militer Korea Utara, cepat, tepat, senyap, diam-diam.

Lucunya, meskipun ada aturan larangan untuk pacaran, tetap saja kami melangggar. Memang, pak guru tidak mengerti, perasaan kalau dikekang bisa sakit, ibarat kentut semakin ditahan, perut semakin sakit, pun perasaan ew kraeng tua.


Pertama kalinya saya berani mengungkapkan perasaan pada seorang gadis tepat kelas tiga jam tiga pula. Gadis tersebut adik kelas kami. Parasanya cantik, badannya seksi, senyumnya manis. Sa pu mata nyaman dan tak bosan memandangnya. Sedikit informasi, banyak teman-teman berusaha untuk mendapatkannya. Beberapa sekadar ancang-ancang namun beberapa harus puas dengan jawaban kalau cintanya ditolak.

Melihat pergerakan teman-teman, sembari mengumpulkan beberapa informasi mengenai Natalia, saya pun menyusun strategi, mempersiapakan amunisi untuk meruntuhkan pertahanan hatinya yang tertata rapi dan kokoh, dengan harapan suatu saat saya bisa menetap dalam hatinya

Ketika saya mengutarakan perasaan, saya menggunakan metode khusus. Saya sengaja meminjam salah satu buku pelajarannya dengan alasan mempersipakan diri menghadap UN. Selang beberapa hari, saya mengembalikan bukunya sembari menyelipkan sepucuk surat yang isinya seputar isi perasaan.

Hal yang paling mendebarkan adalah menanti balasan. Butuh beberapa hari untuk memperoleh jawaban pasti darinya. Penantian saya membuahkan hasil, dia memberi lampu hijau, kalau saya diterima dengan suara mutlak tanpa persyaratan. Yang membuat saya lebih bahagia, ternyata dia sebenaranya memiliiki perasaan yang sama. kikuk prikitiuw.


Kami berpacaran cukup lama, kurang lebih dua tahun sampai saya melanjutkan pendidikan di SMA St. Fransiskus Xaverius Ruteng. Sebelumnya kita sudah sepakat untuk melanjutkan pendidikan di tempat yang sama, sayangnya kenyataan berkata lain, dia harus melanjutkan pendidikan di tempat berbeda sesuai dengan keinginan orang tuanya.

Pacaran beda sekolah dan kota membuat intensitas perjumpaan dan komunikasi semakin berkurang hingga pada akhirnya kami memilih jalan masing-masing. Tidak ada kata putus di antara kami.

Itulah cinta, bisa diibaratkan seperti Wifi, dekat pasti akan selalu terhubung, jauh pasti ada anjuran untuk cari perangkat lain. Kwkwkwk. Hal yang paling penting adalah bahwa kami mengakhiri hubungan tanpa ada maksud untuk saling melukai, buktinya sampai sekarang masih bersahabat meskipun dia sudah memiliki pujaan hati. Itulah


Surat cinta yang mempertemukan kami, surat cinta yang mengawetkan hubungan. Dan yang paling penting, surat cinta membikin rindu almarhum Bapak Yere.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.