Surat Cinta untuk Suster

Sumber foto: Hipwee.com

1,162 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Semoga kedatangan surat ini menjadi satu serpihan bahagia yang tak kauduga. Dan aku selalu berharap ketika mulai merangkai kata-kata di ujung pena, bahwa surat ini tidak menjadi luka atau perih di hatimu yang suci.

Untuk Suster Elan

di

Kesunyian Biara

Suster mungkin akan bertanya siapa gerangan yang berani-beraninya menulis surat dengan pengantar lebay ala anak-anak sekolahan yang sedang puber. Atau Suster akan mengutuk penulis surat ini karena sangat lancang mengeluarkan kata-kata demikian. Jika setelah kalimat ini Suster baca dan ingin memutuskan untuk merobek surat ini ya tidak apa-apa. Tempat sampah adalah rumah paling cocok untuknya. Namun, jikalau Suster masih mau melanjutkan membaca surat ini terima kasih, terima kasih Suster. Terima kasih banyak.

Suster Elan yang baik,

Sejak hari pertama Suster bersama teman-teman lain juga beberapa Frater tiba di stasi kami, saya merasa senang luar biasa atas kunjungan kalian.  Saya memperhatikan kalian semua satu per satu turun dari mobil kayu atau kami di kampung sering menyebutnya Oto Kol. Sampai sekarang saya juga belum tau mengapa mereka membaptis mobil dengan bak kayu sebagai Oto Kol mengapa tidak Oto Sawi, Oto Wortel atau lainnya. Yah.. itulah kami di kampung suster. O ya, saat menyebutnya mobil juga saya merasa agak aneh. Namun karena tidak ingin dikatakan kampungan saya sebut saja mobil walau sebenarnya saya dan seisi kampung menyebutnya Oto.

Kunjungan para suster dan frater adalah sebuah rahmat besar. Jika kami adalah benih dan kalian adalah penyemai maka kami ini adalah benih yang jatuh di tengah semak duri. Saya rasa penginjil Matius bisa benar sesuai dengan kondisi kami ini suster. Namun kunjungan kalian seperti seorang yang memisahkan semak duri dari benih. Kami selalu percaya begitu Suster, bahwa para Suster dan Frater adalah utusan Tuhan yang mewartakan kebaikan dan kebenaran, cinta kasih dan perdamaian atau singkatnya Firman Tuhan begitu e Suster. Saya sangat mengagumi kalian terutama Suster Elan yang kini sedang membaca surat ini. Alasannya nanti akan saya sampaikan sebentar karena saya ingin bercerita juga tentang seorang Frater yang pemikirannya agak kiri, tetapi kok bisa jadi Frater ya? Maksudnya begini Suster, cara berpikirnya bagus sekali namun agak melenceng dari kemauan Gereja begitu. Entahlah Frater itu mengikuti ajaran Yesus atau mengikuti ajaran Gereja. Aduh, nanti saya singgung lagi sebentar e Suster.

Suter Elan yang selalu saya kenang,

Perkenalan awal yang begitu singkat saat saya menghantarmu ke penginapan yakni di rumah kakakku sendiri. Hiron dan Selvi senang atas kehadiranmu terutama Osa adik bungsuku yang tinggal bersama mereka. Semoga Suster belum lupa dengan momen ketika saya mengulurkan tangan lalu menyebut nama “Dimas.” lalu suster membalas “Elan.” Setelahnya memang tidak ada percakapan sepanjang jalan saat kita di atas motor Honda. Ketika Suster bergeser mendekat ke punggung di sebuah jalan buruk saya merasa seperti disetrom listrik tegangan tinggi, terutama saat Suster memegang pundak kanan saya.

“Maaf Suster jalannya buruk.” kata saya sedikit kaku.

“Iya benar sekali, semoga ada bantuan dari pemerintah e.”

“Iya Suster.”

Setelah itu tidak ada lagi percakapan hingga tiba di rumah kan? Suster tersenyum lega dan saya membalasnya. Kita saling menukar percakapan beberapa saat tanpa kata-kata. Saya tidak mampu menatap sorot matamu jadi saya harus menunduk Suster. Sorot mata yang hangat dan bahkan menjelmah pelukan-pelukan yang tiba-tiba muncul saat saya sedang sendiri seperti saat ini.

Suster Elan,

Awalnya saya berpikir kamu hanyalah seorang gadis yang mendampingi para Suster dan Frater, karena kamu mengenakan pakaian bebas dan tanpa kerudung seperti Suster Maria dan Jumida, serta suster lainnya. Malam saat perkenalan di Kelompok Basis Gereja (KBG) baru saya tahu ternyata dalam biara ada tingkatan-tingkatan formasi. Terlepas dari semuanya itu saya kadang bertanya-tanya kenapa e Suster Elan bisa memutuskan diri masuk biara dan hidup selamanya di sana?

Jujur, ketika kamu berbicara ada aura lain yang lembut membungkus setiap kata dan ketika kamu menatap ada cahaya lain yang ikut bersinar pelan dari kembar bola matamu. Ketika kamu berjalan ada derap lain yang meminta untuk diikuti. Maksudnya begini Suster, derap lain adalah cara atau teladan hidup karena teladan hidup seperti itu yang diidamkan orang-orang termasuk saya. Saat ini, kata-kata hampir kehilangan tempatnya bahkan kata-kata yang keluar dari mulut Imam atau Uskup sekalipun kalau tanpa teladan hidup Suster,  itu hilang, oh hilang Suster,  lenyap memang. Teladan hidup kadang berbicara lebih nyaring dari kata-kata manis atau motivasi-motivasi indah.

Jujur Suster,  kadang khotbah menjadi sangat membosankan dan saya kadang juga tertidur di gereja mendengar kata-kata dari Imam yang teladan hidupnya. Ya tahu sendiri to Suster, kadang saya berpikir kalau ada nomor HP Bapa Paus nanti saya sms atau telepon saja kita punya Bapa Suci agar sebaiknya para imam diperbolehkan memiliki istri. Mohon maaf suster saya harus omong seperti ini dan o ya, di sini saya mau berbicara tentang seorang Frater itu.

Pada malam pertama saya ikut di KBG kaka, tempat suster tinggal dan malam berikutnya saya di KBG kami. Frater ini berbicara kalau anak-anak sekolah jangan terlalu berpikir untuk jadi Imam atau Suster karena untuk membantu sesama dan membanggakan keluarga tidak selamanya harus jadi Imam atau Suster, dia bahkan berbicara kepada keluarga-keluarga agar mendorong anak-anak mereka belajar banyak terutama bahasa Inggris supaya bisa mendapat beasiswa di luar  negeri lalu pulang menerapkan di kampung semua ilmu yang mereka dapat itu. Kalau memang anak sangat berkeinginan masuk biara ya silahkan jangan larang kemauan anak. Suster e, pas saya dengar itu saya kaget ngeri, dan ada benar juga sih, itu pertama.

Berikutnya, dia bilang anak-anak tidak seharusnya sekolah di Seminari-Seminari Menengah kalau selama ini yang kita lihat tamatan Seminari-Seminari tidak jauh berbeda dengan sekolah non-Seminari. Percuma toh. Katanya, sekolah mahal-mahal tamatannya juga ya.. begitulah. Frater itu juga bilang keuntungan non-Seminari itu anak-anak bebas pacaran terutama untuk anak laki-laki setelah tamat SMA misalnya memutuskan menjadi Imam atau biarawan. Bebas pacaran tetapi bukan seks bebas e. Kami sempat tertawa mendengar candaannya. Kata frater mereka setidaknya sudah merasakan lembutnya genggaman tangan pacar, atau hangatnya pelukan mesra ketika memboncengi pacar ke sekolah dan mungkin sesekali mencubit pelan pipi pacar yang manja.

Jadi, ketika mereka memutuskan untuk membiara, mereka telah melewati itu sebagai kenangan indah. Jangan sampai kalau selama SMA misalnya tidak punya pacar ketika, jadi Imam atau biarawan baru pacar dengan orang punya istri atau orang punya anak gadis. Itu saya tambah kaget suster. Saya rasa Frater itu benar juga e. Itu kenyataan yang miris dan sudah jadi rahasia publik to Suster. Mengatakan kebenaran kan apa yang diajarkan Yesus e Suster. Namun Gereja mau supaya ada penerus atau perpanjangan tangan Yesus di bumi sebagai pelayan seperti para Imam, biarawan-biarawati. Sekarang Frater itu ikut kemauan Yesus atau kemauan Gereja ? Saya bingung sendiri Suster. Ah lupakan saja.

Suster Elan yang saya kasihi,

Di penghujung surat ini, saya ingin mengatakan sesuatu yang lebih penting menurut saya dari semua pengantar surat dan curhatan di atas. Suster, sebenarnya saya jatuh cinta dengan Suster. Setelah tulis ini, saya berhenti lama sebelum melanjutkan surat ini.

Tentu saya menunggu jawaban Suster dan semua jawaban itu saya siap terima entah Suster menerima saya jadi pacar dan memilih keluar dari biara serta bersama kita membangun keluarga atau jawaban yang lumayan menyakitkan ketika Suster bilang tidak dan tetap pada pendirian Suster menjadi pelayan Tuhan sebagai biarawati.

Terserah Suster mau bilang apa tentang saya, sebagai lelaki lancang dan kurang ajar pun saya terima, namun saya tahu Suster juga punya hati dan berhak membuka dan menutup pintunya. Bahkan Tuhan sendiri tidak bisa membuka pintu hatimu, karena Tuhan telah memberi kehendak bebas untuk suster dan kehendak bebas untuk saya yang boleh menulis dan mengetuk pintu hati Suster yang lembut dengan kata-kata yang tidak lebih dari jejak tinta yang berserakan di atas kertas putih ini.

Suster Elan yang saya dambakan,

Saya juga pernah jatuh cinta dan saya pernah mematahkan beberapa hati, demi memperjuangkan satu hati, yang ternyata hati itu mematahkan hati saya sendiri. Saya tidak memilih pergi, dialah yang membuat saya pergi. Mendiamkan saat saya benar-benar mencintainya, mengabaikan saat saya sangat merindukannya. Tentu hal itu sangat menyakitkan. Oh… sangat. Sampai saya menunggu waktu dan gadis yang tepat, untuk saya ungkapkan perasaan yang lama saya pendam. Gadis itu adalah kamu Elan. Kamu. Maaf saya harus memanggil kamu Elan, karena saya sangat mencintaimu, sangat mencintaimu Elan. Semoga kamu tidak mematahkan hati saya dan membuat saya pergi, semoga kamu tidak mendiamkan perasaan saat saya benar-benar mencintaimu, mengabaikan saat saya benar-benar merindukanmu Elan.

Di sini di antara pepohonan nyiur dan coklat serta lambaian dedaunan padi ladang, di sebuah stasi yang jauh dari keuskupan dan keributan deru mesin kota, jauh dari jaringan Telkomsel dan lampu listrik, saya menunggu jawabanmu dengan cemas. Elan, saya jatuh cinta denganmu.

Klahit – Maumere, 2019;

Yang mencintaimu,

Dimas Yohanes.

Penulis: Lee Risar|Meka Tabeite|

2 thoughts on “Surat Cinta untuk Suster

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *