Surat Keberatan untuk Calon Mertua

Sumber: Liputan6.com

446 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Curhatan Donny Djematu

Teruntuk calon Mertua, apa kabar kalian? Semoga hari-hari kalian menyenangkan dan dipenuhi dengan cinta kasih. Saya memutuskan menulis surat ini sebagai bentuk kecemasan dan kekhawatiran.

Sebelumnya, saya memohon maaf jika kedatangan surat saya ini mengganggu waktu kalian yang tengah sibuk menghitung; kali-bagi atas nilai belis dari putri kalian. Maaf juga jika bahasa surat saya ini kurang berkenan, tidak renyah bahkan (mungkin) tidak etis untuk orang sekelas kalian yang nyaris tidak peduli dengan perasaan dan hati putri kalian.

Jadi, begini calon mertua. Banyak informasi yang saya peroleh tentang putri kalian yang hendak dinikahkan dengan lelaki pilihan kalian. Sedang dia sendiri tidak setuju untuk dijodohkan. Jika jodoh masih diurus orangtua, bukankah itu berarti kita telah berjalan mundur ke zaman Siti Nurbaya. Iya toh? Saya tahu, kalian pasti kecewa terhadap putri kalian yang tidak menghargai kemauan orangtuanya. Bentuk kekecewaan itu berlanjut hingga standar belis yang sangat tinggi yang kalian bebankan kepada laki-laki lain yang berani-beraninya meminang putri kalian.

Ada ego bertopeng adat yang kalian bangun. Dengan dalih belis sebagai warisan nenek moyang. Kalian mengurung putri kalian dengan standar belis yang tinggi. Sebagai laki-laki yang hanya bermodal cinta yang tulus, saya bisa apa?

Kalian menempatkan kebenaran seolah-olah hanya milik orangtua. Kalian lupa, disaat yang sama, kalian sebenarnya sedang merenggut kebahagian putri kalian.

Jika kami saling cinta, saling memahami satu sama lain, kurang apalagi? bukankah fondasi rumah tangga adalah cinta itu sendiri. Masalah apakah saya bisa membahagiakan putri kalian dikemudian hari. Itu komitmen yang sudah saya bangun jauh sebelum kalian menolak saya sebagai menantu kalian.

Calon mertua yang saya banggakan, saya berpikir itu saja kecemasan saya sehingga sampai saat ini saya tak kunjung bertandang ke rumah kalian. Sekali lagi, mohon maaf jika bahasa dan cara saya kurang berkenan di hati kalian. Mohon maaf juga bila isi surat ini terkesan menuduh atau menyudutkan kalian, sesungguhnya ini benar-benar hanya kecemasan saya sebagai seorang anak muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *