Surat Terbuka Untuk Ema DPRD Manggarai Timur

Sumber Foto : riaumandiri.co

356 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Ema DPRD yang saya muliakan.

Sebelum saya mengutarakan isi hati ini, secara jujur saya ingin katakan bahwa jauh lebih terhormat bagi saya untuk menyapa Bapak-bapak, dengan sapaan khas ala Manggarai Timur yakni Ema (Ayah, Bapak), dan Ema DPR saja tanpa huruf “D”.

Sapaan ini terkesan begitu sopan dan membuat kita menjadi begitu akrab, sekalipun saya yakin sebagian besar dari Ema DPR tidak mengenal saya. Ema DPR, sesungguhnya saya ini bukan siapa-siapa. Saya seorang pemuda Matim yang saat ini sedang berkelana di negeri orang. Secara fisik kita memang berada jauh, terpisah oleh ruang dan waktu. Kendati pun demikian kita memiliki cita-cita dan harapan yang sama tentunya, yakni membangun Matim yang sejahtera dari tahun ke tahun.

Oh iya, beberapa waktu yang lalu media massa menyuguhkan berita tentang pelantikan Ema DPR untuk masa jabatan 2019-2024. Momen yang spesial ini diselenggarakan di Lehong, tepatnya di ruang sidang utama Kantor DPRD Matim. Atas peristiwa yang gembira ini, saya secara pribadi mengucapkan profisiat dengan penuh cinta terhadap kesuksesan besar (great success) yang Ema DPR peroleh dalam pesta demokrasi kali ini.

Saya pun merasa bangga karena masyarakat Matim telah berhasil memilih 30 orang putera terbaik dari daerahnya. Di pundak Ema sekalian, masyarakat Matim serahkan seluruh harapan dan kerinduan hati mereka. Ema DPR juga pastinya bahagia ketika rakyat mempersembahkan kepercayaan dan cintanya yang utuh hanya untuk Ema. Lebih membahagiakan lagi karena perjuangan dari Ema sekalian pada akhirnya membawa hasil yang sangat memuaskan. Bahagianya bukan kepalang.

Ema DPR, saya yakin Ema sekalian sepakat jika saya katakan bahwa kemenangan yang diperoleh bukanlah akhir dari segala-galanya. Sebaliknya, menjadi titik awal untuk mengabdikan diri secara total demi kesejahteraan rakyat Matim. Lagi pula, selama masa kampanye kemarin, Ema sekalian menyampaikan banyak janji kepada rakyat Matim. Hati rakyat diwarnai oleh kegembiraan yang besar. Pada saat yang sama, mereka pun berharap bahwa janji-janji yang telah diucapakan ini, pelan-pelan akan terealisasi.

Ema DPR yang saya banggakan.

 “Time is coming”-waktunya sudah tiba. Inilah saatnya Ema DPR bekerja dan melayani kepentingan rakyat Matim. Inilah waktunya bagi Ema DPR untuk memenuhi permintaan hati, permohonan dan keluhan rakyatmu. Ini adalah kesempatan yang tepat dan spesial bagi Ema DPR untuk menyatakan cinta dan kepedulianmu terhadap rakyat yang sedang dililiti oleh berbagai penderitaan. “Take your time”. Gunakan waktumu sebaik mungkin. Sebab, pada hakikatnya Ema DPR adalah perwakilan dari mereka semua yang seringkali mengalami ketidakadilan. Ema DPR adalah “penyambung lidah” dari masyarakat-masyarakat kecil yang suaranya sering diabaikan.

Ema DPR, waktu lima tahun ke depan merupakan sebuah proyek yang harus diisi. Kita sama sekali tidak menginginkan Matim terus berjalan di tempat dan rakyatnya terus menderita. Sekalipun kita akui bahwa Matim adalah sebuah wilayah kabupaten yang masih terlalu mudah. Ada begitu banyak hal yang harus ditingkatkan dalam berbagai aspek baik itu pembangunan fisik maupun peningkatan mutu Sumber Daya Manusia. Oleh karena itu, mungkin juga benar jika Ema DPR katakan bahwa membangun Matim tidak semudah dengan membalik telapak tangan atau semudah yang dibicarakan. Tetapi Ema DPR harus ingat bahwa rakyat Matim telah mempersembahkan kepercayaan yang mulia kepada Ema sekalian. Kolaborasi yang unggul, sikap untuk mengutamakan kepentingan rakyat menjadi satu-dua juru kunci yang harus dipegang dalam membangun Matim yang makin makmur.

Berkaitan dengan kemajuan dan perkembangan Matim itu sendiri, kalau boleh saya memohon, izinkanlah untuk menyampaikan beberapa hal penting (tentu dari banyak hal substansial lainnya) yang seringkali menjadi rintihan hati rakyat Matim, termasuk saya sendiri.

Pertama, saya secara pribadi dan masyarakat Matim pada umumnya merindukan para pemimpin yang bijaksana. Ema DPR, di dunia ini banyak orang pintar dan genius tetapi mungkin sedikit yang bijaksana. Acapkali terjadi bahwa dengan kepintarannya, seseorang dengan mudah mengambil hati rakyat, berbuat baik saat hendak membutukan rakyat. Namun setelahnya, Ia sibuk dengan dirinya sendiri dan rakyat pun dilupakan. Rakyat dipermainkan. Inilah sebuah pengkhianatan yang secara rutin dirasakan oleh rakyat.

Ema DPR, saya mohon tanpa bermaksud untuk menasihati apalagi menggurui, saya mohon sekali lagi, jadilah bijak. Karena dengan kebijaksanaan yang dimiliki, Ema DPR dapat membuat suatu keputusan yang benar-benar menjunjung tinggi kepentingan rakyat.

Kedua, kondisi jalan raya di wilayah Matim yang kian memprihatinkan. Mungkin Ema DPR pernah melintasi wilayah Elar Selatan atau beberapa wilayah yang masih terisolasi di Kecamatan Poco Ranaka Timur dan Sambi Rampas. Kalau Ema DPR pernah melintas wilayah-wilayah tersebut apalagi di musim hujan, maka saya dan Ema DPR mempunyai pengalaman yang serupa. Sedih nian, Ema DPR.

Bayangkan apa yang terjadi jika jalan raya menjadi buntuh? Segala urusan pun menjadi “mati”. Orang yang sedang sakit berat tidak bisa dirujuk ke RSUD Ruteng, karena wilayahnya tidak bisa dijangkau oleh kendaraan. Lalu, para petani pun terus dililiti oleh kesulitan yang hebat untuk menjual hasil komoditinya. Padahal jika sarana transportasinya menjadi lancar, maka kesulitan-kesulitan seperti di atas tidak akan terjadi secara berkelanjutan.

Ketiga, Ema DPR mungkin sering berbelanja di toko-toko milik para pengusaha kaya di kota Borong. Nah, apakah pernah Ema menemukan hal yang aneh di sana? Bagi saya, ada sih hal aneh yang mengusik hati dan pikiranku. Harga sepotong celana panjang, katakan Rp249.600,00. Saya membayar dengan jumlah uang Rp249.500,00 (minus Rp100,00) dan pelayan toko meminta untuk menggenapinya. Saya pun menyodorkan uang sejumlah Rp250.000,00 dan pelayan toko harus megembalikan kepada saya sejumlah uang Rp400,00. Anehnya, bukan uang yang diberikan kepada saya tetapi 2 buah permen karet atau sugus. Adilnya di mana? Aneh kan toh Ema DPR? Mungkin ini fenomena biasa bagi kebanyakan orang. Akan tetapi, hemat saya ini merupakan salah satu bentuk pemerasan secara nyata dari para pengusaha kaya yang ada di wilayah Matim. Atas feneomena ini satu permintaan dari saya yakni bolehkah Ema DPR membuat sebuah Peraturan Daerah atau kebijakan untuk menyingkapi pemerasan seperti ini?   

Ema DPR yang saya muliakan

Demikian saja dulu curahan hati saya, rakyat yang mencintaimu. Maaf jika ada salah kata. Ema DPR sebenarnya sih, saya masih ingin mencurahkan beberapa hal penting lainnya tentang Matim, kabupaten kecintaan kita. Akan tetapi, besar keyakinan saya bahwa dalam perjumpaan bersama dengan rakyat, Ema sekalian akan mendengar begitu banyak litani penderitaan dari mereka. Sedengkanlah telingamu dan bersegeralah menolong mereka.

Ema DPR, kutitipkan pesan singkat untuk mengakhiri surat sederhana ini. Ema, sesibuk apa pun ema sekalian bekerja, ambillah waktu walau sebentar saja untuk istirahat. Lepaskanlah lelahmu. Biarkah stamina dan energi tubuhmu tetap stabil. Kami tidak mau ema DPR sakit. Sebab, hal itu akan menghambat Ema sekalian dalam memperhatikan nasib rakyat. Apalagi, karena “kecapean”, Ema ketiduran saat sidang soal rakyat. Oh noooooooo….

Sekian dan salam hormat dari saya serta selamat bekerja. Kami menantikan Matim yang terus maju dan rakyatnya makin sejahtera. Tabe.   

Penulis : Valentinus Robi Lesak|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *