Surat Terbuka untuk Kaka Bidan di Desa Susah Sinyal

497 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Apa kabar Kaka bidan desa? Semoga sedang baik-baik saja di sana. Di sini, saat mulai menulis surat ini, kopi adek sisa separuh, tentu dengan beberapa batang rokok eceran dari warung kopi di depan indekos adek, yang boleh ngutang itu. Masih ingat warung kopi itu kah? Yang kapan hari kita pernah menghabiskan waktu berjam-jam di situ menadah wifi tuan pemilik warung. Kaka bidan sibuk youtube-an artis korea, sedang adek nonton Miyabi atau Kakek Sugiono, kalau tidak salah ingat sih.

Semenjak Kaka bidan wisuda dan pulang ke desa, warung itu makin rame. Pada keempat sisinya sudah dipasang gambar Persebaya, Persatuan Sepak Bola Surabaya. Pada langit-langit bubungnya dipenuhi lampu warna-warni, tapi kalau sepi pengunjung, lampu itu sengaja dimatikan. Untuk menghemat kali ya? Kan ada anjuran untuk mengehemat listrik.

Uniknya lagi, di dekat meja kasir dipasang whiteboard alias papan tulis putih berukuran kecil, di situ tertera nama adek dan beberapa anak kos lainnya. Sudah tahu kenapa di situ ada nama kami?

Begini, semenjak saham warung kopi itu dipegang Pak RT, semua nama manusia yang hendak mengutang ke sana, ditulis dan dipamerkan di whiteboard itu. Tapi keren juga. Di papan itu semua manusia dari agama apa saja melebur menjadi satu. Ada yang bernama Lukas, Mahmud, Nazarudin, Komang, Putut dan Mikael.

Sudahlah!! Adek terlalu banyak cakap.

Begini bidan desa yang baik. Semenjak kamu pulang ke desa 2 tahun lalu, adek merasa kesepian. Kita mulai jarang whatsapp-an, sms-an apalagi bertemu dan ciuman. Bersyukur adek adalah tipe manusia yang tidak suka mengambil kesimpulan tanpa data yang akurat. Beberapa orang datang silih berganti, merayu adek untuk secepat mungkin melupakan kamu. Mereka selalu mengada-ngada. Mereka bilang, di sana kamu sudah punya yang lain, pasangan yang jauh lebih matang secara psikologis dan ekonomis ketimbang adek. Pasangan baru yang lebih dewasa cara berpikirnya dan sudah punya penghasilan sendiri.

Ingat!! adek tidak mudah terpengaruh. Bukankah kita pernah berjanji, tidak ada yang bisa memisahkan kita selain hukum alam, seperti salah satu dari kita meninggal dunia karena tanah longsor, banjir bandang atau tersambar petir.  Selain itu, no way.

Saya sepenuhnya meyakini, bahwa di sana Kaka bidan sibuk dengan pekerjaan mulia. Memasang infus kepada pasien yang tidak berdaya, membantu ibu hamil melahirkan, membagi susu kepada bayi yang miskin. Semua itu dilakukan, tidak lebih, tidak kurang karena bidan bagian dari tangan kanan Tuhan. Tanpa kalian bisa jadi yang infusnya tidak terpasang akan meninggal dunia, ibu hamil yang proses melahirkannya tidak dibantu bisa kesakitan, atau bayi yang tidak mendapat susu nutrisinya bisa terganggu bahkan harus menyusu kepada bapaknya. Kan tidak tegah?

Pekerjaan itu sungguh mulia. Pekerjaan yang tidak semua orang bisa lakukan. Belum Kaka bidan berjalan kaki dari kampung ke kampung mengadakan posyandu. Capeh, keringat mengalir ke mana-mana hingga bau badan mencolok, gajinya? hehehe itu-itu saja bukan? Maka, kaka bidan tidak kurang satu pun untuk saya kecewakan, Kaka bidan desa yang baik.

Tetapi di atas semuanya itu, saat Kaka bidan desa jarang memberi kabar, adek paham. Di desa yang Kaka bidan tinggal, sinyal susah.

Kita adalah dua pasangan yang jauh di mata, dekat di hati, kandas di sinyal. Tidak apa-apa, justru cinta itu diuji saat kita di puncak kangen, kita tidak saling whatsapp-an, sms-an, atau telepon-nan,tetapi cinta kita tetap berkembang bahkan menjular sampai kepada nafsu untuk membikin anak.

Adek tidak sekalipun menyarankan Kaka bidan untuk menaiki pohon jambu, pohon gamal atau pohon pisang. Jangan!! Cinta memang butuh perjuangan, tetapi jangan terlalu lebay juga. Pas-pas saja. Adek berjanji untuk jaga mata, jaga hati dan jaga kamu dari serangan mantri-mantri di puskesmas sana. Kalau ada yang macam-macam, segera hubungi adek. Biar kalau terjadi apa-apa adek siap pasang badan untuk kita kabur sama-sama.

Kaka bidan desa, kopi adek sisa ampasnya saja, mari adek sudahi surat terbuka ini. Kalau ada pasien yang macam-macam, tidak usah dipasang infus. Kaka bidan tidak sekadar tangan kanan Tuhan bagi pasien tapi bagi adek juga. Ingat!! Sekali lagi kalau ada pasien macam-macam, tidak usah dipasangi infus.

Muahhhh, lop u Kaka bidan di Desa Susah Sinyal.

Penulis : Popind Davianus|Tuagolo|

1 thought on “Surat Terbuka untuk Kaka Bidan di Desa Susah Sinyal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *