Susahnya Menghadapi Humor Grup WhatsApp Anak Kos

Cewek suka cowok humoris. Asalkan ganteng.

 433 total views,  1 views today


Apek Afres | Redaksi

Saya suka humor. Dari humor yang murah meriah sampai yang mahal pun semuanya saya suka. Saya tidak tahu persis hierarki humor itu seperti apa. Tapi sejauh yang saya tahu, ada beberapa jenis humor. Ada humor standar. Ada humor bapak-bapak. Ada pula humor anak kos-kosan.

Jenis humor yang terakhir ini merupakan menu makanan harian saya sebagai anak kos. Namanya saja humor anak kos-kosan. Humor jenis ini kadang-kadang garing. Kadang-kadang kental. Kadang-kadang Anya. Eh, maksudnya renyah. Saking tak menentunya, humor ini kerap dianggap sebagai humor tahu-tempe atau humor mie-telur: selalu ada dan bikin kenyang.

Cobalah lihat beberapa humor anak kos-kosan berikut. “Carilah anak kos yang ketika uang kosnya ditagih larinya ke ATM, bukan ke kos-kosan teman hingga tidak pulang-pulang.” Atau humor “Tebal di kumis, tipis di dompet.” Bahkan, saya tak bernai menyebutnya garing, apalagi lucu.

Humor semacam ini seringkali mengagetkan, perlahan-lahan masuk, menusuk, mengusik, dan kemudian menggelitik nalar dengan cara yang santuy.

Sebagai anak kos saya juga terjerembab dalam dunia per-humor-an anak kos semacam ini. Banyak dari antara humor ini yang bikin teror, lucu, bahkan eror. Ia juga punya dimensi kesenangan tersendiri. Di satu sisi, ia hadir sebagai wadah penghibur. Di sisi lain, ada raut sinis yang termuat di dalamnya terhadap sesama anggota kos. Biasanya hal sepele sering diutarakan lewat humor yang agak geli. Istilahnya bikin malu secara halus. Halusnya juga berjalan mulus. Pukul down.

Sejauh ini, saya sudah merasakan kejam-perihnya jadi anak kos. Salah satunya adalah berpindah-pindah kos sampai empat kali. Namun, saya akhirnya menemukan sebuah alasan kenapa berkali-kali saya pindah kos. Saya sebetulnya tidak ke mana-mana, hanya mencari rasa nyaman dan humor yang baru. Kos boleh pindah, kenangannya tidak pernah pindah-pindah. Setidaknya begitu.

Salah satu pusat penyebaran humor anak kos adalah grup WhatsApp. Humor-humor di grup WhatsApp kos-kosan ini memang selalu bikin seru dan heboh. Subuh-subuh pun jadi. Dari isu receh sampai isu berat. Isu “19 detik” tidak terlewatkan meskipun 90 menit permainan Real Madird VS Barcelona lebih menyakitkan. Barcelona yang kena tusukan, sakit.

Beberapa hari lalu, ketika saya sedang asik-asiknya mendengar lagu-lagu John Mayer, tiba-tiba grup WhatsApp kos-kosan kami yang diberi nama Dajjalcorporation penuh dengan notifikasi. Seperti biasa, kayaknya saya menerima humor baru yang lebih horor untuk kali ini.

Tapi kali ini, humor yang muncul di baris-baris pesan WhatsApp mengangetkan semua anak kos. Sebab kali ini, penyebar pesan humor tersebut adalah bapak kos kami. Beliau bergabung satu grup dengan anak-anak kos lantaran beliau sudah menganggap kami seperti anaknya sendiri. Baik sekali pokoknya.

Begini kira-kira pesan humor yang beliau share di grup WhatsApp:

Bayar uang kos itu urusan keenam dan seterusnya, karena satu sampai kelima kalian harus taat kepada sila Pancasila.”

“Hampir 99% lelaki beristri yang sudah punya anak, kalo lihat anak orang lain pasti ingat anak sendiri, tapi kalau lihat istri orang lain, lupa dgn istrinya sendiri, kecuali Bapak Kos kalian.”

“Hati perempuan itu seperti bayar uang kos, bisa nyicil.”

“Saya bekerja keras karena sadar uang tidak punya kaki buat jalan sendiri ke kantong saya. Semoga kalian juga sadar.”

Buseeeet deeh! Jantung saya berdetak kencang. Kekuatan humor bapak kos kami menjelma menjadi tombak yang mengikis pertahanan selera humor kami. Saya tidak bisa berkata apa-apa.

Bapak kos, yang sejauh saya ketahui tidak banyak bicara, ternyata terjerat dalam per-humor-an anak-anak kos. Ia menutup pesan WhatsApp-nya seperti ini:

Hati-hati dengan bapak kos, kalau tidak hati-hati namanya bukan bapak kos, tapi mantan kos.”

“Jangan lupa bayar uang kos besok sore.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.