Syukur ada Facebook

 400 total views,  1 views today


Fian N|Redaksi

Hallo, apakah masih ada orang di sana? Masih setiakah menunggu kabar dari saya? Masih setiakah menantikan tulisan dari saya? Pada kesempatan ini, saya kembali menulis untuk Anda dalam keadaan yang lebih tampan. Hahahah… saya harus percaya diri. Sebab, pujian dari Anda belum tentu  setulus Facebook. Tidak perlu basa-basi lagi, mari kita simak omong-kosong di bawah ini. 

Facebook pertama kali diluncurkan pada tahun 2004. Facebook adalah sebuah layanan jejaring sosial yang berpusat di Menlo Parck, California, US. Di bulan September tahun 2012, Facebook memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif (sumber: wikipedia) (tidak terhitung perempuan dan anak-anak. hahah hahah ini narasi penulis). Sekarang saya meminta Anda untuk bayangkan saja, sudah berapa banyak pengguna aktif Facebook sampai di bulan April tahun 2020? Jangan dulu bayangkan berapa banyak pengguna aktif tetapi coba bayangkan berapa banyak kenangan yang dibagikan sejak menggunakan Facebook? Bagaimana saya dan Anda melihat kenangan-kenangan yang dibagikan itu? Seperti apa wajah saya di tahun 2012 jika dilihat dari kacamata 2020? Saya tidak menceritakan seperti apa wajah kita, silakan temukan sendiri wajah Anda di baranda kenangan.

Facebook menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin menitipkan diri di sana. Pernah ada yang mengatakan dengan penuh gurau,  ‘saya ber-facebook maka saya ada.’ Ada dalam indentitas diri yang virtual. Bukan identitas yang sesungguhnya. Kesedihan hanyalah sebuah bentuk mencari perhatian agar ada yang ber-empati bisa juga menimbulkan simpati dari pengguna media sosial lainnya. Ada interaksi kebahagiaan di dalamnya meskipun itu bentuk kesedihan yang diwujudkan secara lain. Sebab, pada satu sisi, manusia tidak pernah sungguh-sungguh bahagia. Acap kali tampilan virtual itu merupakan bentuk curahan hati dan shering diri kepada publik. Inilah narasi individu sebagai makhluk sosial. Narasi diri ini menjadi lebih mudah diwujudkan karena struktur sistem perangkat media siber menghadirkan apalikasi-aplikasi (facebook) untuk maksud itu (Alfons Duka, 29).

Kembali kepada Facebook dan kenangan yang sebenarnya ingin saya tampilkan di sini. Kenangan itu ada ketika ada kesempatan (media) untuk menciptakan kenangan itu. Jika saya memosting foto atau status pada baranda Facebook di tanggal 23 April 2020, maka saya akan melihat kenangan yang sama itu di tanggal dan bulan yang sama di 2021. Waduh, sampai di sini, semoga kita tetap rileks ee. Jangan terlalu tegang. Cukup listrik yang bertegangan tingggi, ….hahahahah.   

Saya harus jujur, bahwa saya selalu merasa lucu ketika melihat perbandingan antara saya yang di 2015 dan 2020. Tampak lucu dan lugu, acu. Jelek, iya. Tapi bisa bikin Anda merem-melek dengan imutnya saya, ….hahahah haha… jangan iri ee. Bagaimana dengan Anda? Kalau yang perempuan, yang pastinya tidak seperti saya. Kalau yang lelaki, pasti ada sedikit kemiripan dengan saya, …eheheh…. ayo jujur. Apa yang akan Anda katakan dengan kenangan itu? Apa perasaan Anda? Kaget? Tertawa? Malu? Mungkin, iya. Mungkin juga tidak. Soalnya, saya tidak bisa menebak isi kepala dan juga perasaan Anda. 

Sampai di sini, Facebook masih tetap setia menjadi rumah bagi jiwa yang kesepian dan yang merasa paling patah hati, yang mungkin butuh sandaran pada dinding Facebook. Siapa saja boleh menitipkan kenangan demi kenangan di sana. Tak ada yang melarang  Anda. Ada yang menitipkan kesedihan, kesenangan, kehilangan, dan luka. Nasrullah seperti yang dikutip Alfons Duka pernah menulis demikian, “Melalui narasi diri, individu siber atau diri virtual membangun indentitas sosial sekaligus mengharapkan pengakuan publik atas identitas itu. Bila publik menerimanya, pribadi siber-virtual merasa puas. Inilah cara seorang individu siber mengonstruksi diri. Konstruksi diri melalui pengakuan publik ini menjadi pendorong untuk membangun citra diri.”

 Pun saya berkata, syukur ada Facebook, kalau tidak, kita lupa bahwa dulu seseorang mencari sekaligus mencuri perhatian publik melalui generasi yang terjebak dalam B612  dan Camera 360. Dari wajah yang hitam eksotis (khas Indonesia Timur) berubah menjadi hantu yang cantik dan tampak tampan. Jika itu yang pernah Anda posting di Facebook  di beberapa tahun yang lalu, coba Anda lihat kenangan itu sekarang. Kalau Anda tidak tertawa, itu sungguh terlalu la, ….hahahahaha.

 Akhirnya, saya menjadi salah satu dari sekian generasi yang harus mengucapkan terima kasih kepada Facebook, yang sudah dengan setia menjaga kenangan kita pada rumahnya. Rela dititip luka, tangis, sedih dan tawa. Meski lelah, kita hanya mampu disabarkan oleh tahun yang berganti. Sebab, kenangan itu abadi pada jejak digital untuk manusia virtual seperti kita.

Sudahkah Anda baca omong kosong saya di atas? Kalau sudah, terima kasih telah masuk dalam jejak digital bersama saya di Tabeite.

                                                            Pogopeo, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.