Tabeite Goes to School Bagian Kedua; SMPK St. Stanislaus adalah Rumah bagi Hal-hal Baik

Bercerita dan berbagi ilmu

 668 total views,  1 views today


Krisan Roman|Redaksi

Setelah sukses besar pada kegiatan di SMPN 5 Sambi Rampas, tim Tabeite mendapat tawaran untuk menyelenggarakan Tabeite Goes to School sesi ke dua di pusat kabupaten Manggarai Timur tercinta. Bapak Dhony Djematu, salah seorang guru di SMPK St. Stanislaus Borong -yang juga awak Tabeite, mengundang tim Tabeite melalui Tuagolo; Erik Jumpar, untuk membahas hal tersebut. Setelah diskusi yang biasa saja plus tidak seberapa seru, mereka sepakat untuk melaksanakan kegiatan di sekolah tempat Dhony mengabdi. Tuagolo kemudian balik meminta Dhony, kali ini dalam kapasitasnya sebagai awak Tabeite untuk bersama saya, Im Kartini, dan Mita Barung menemani Tuagolo dalam kegiatan tersebut. Waktu itu awak Tabeite yang lain berhalangan. Kesibukan mereka macam-macam, ada yang sedang kuliah di luar pulau, membangun kampung halaman, sampai sibuk menanam porang di kebunnya. Kami berlima bersedia ikut karena kebetulan kami adalah kumpulan penganggur di dapur redaksi. Saya sebenarnya sedikit malu untuk jujur soal hal ini. But it’s okay. Eaaa.

Hari itu tanggal 18 Desember 2020. Pagi dengan cuaca yang cukup bersahabat untuk ukuran bulan ke dua belas yang harusnya sudah musim penghujan. Cuacanya cerah, secerah masa depan anak bangsa bila tak ada janji palsu tuan dan puan yang itu, upss. Saya yang sedang menikmati kopi dihubungi Erik, memberi kabar bahwa ia telah tiba di SMPK St. Stanislaus, di Golo Karot. “Kraeng di mana? Mari su, saya su sampe di esempe Stanis”, bunyi pesan yang Erik kirim via messenger. Wadaw, saya hampir lupa. Hari ini jadwal Tabeite Goes to School bagian ke dua. Saatnya kami berkunjung ke SMPK St. Stanislaus Borong. Saya yang –thank God, sudah selesai mandi, segera bersiap menyusul Erik.

Ngaaang.. Sepeda motor melaju santai dari arah Wae Reca menuju Golo Karot. Sepeda motor itu bukan milik saya. Kalian pasti berpikir saya mengendarai sepeda motor milik ayah saya, kan? Basi! Kalian salah! Pemiliknya saya tidak kenal. Yang saya tahu, itu adalah motor ojek yang mangkal di seputaran Golo Cigir. Sebagai bocah dari kampung yang tak terbiasa dengan situasi lalu lintas ramai di Borong saya tidak punya cukup nyali untuk mengemudi. Hanya berani menumpang; takut salah jalur.

Setiba di Golo Karot, Erik, Im, dan Mita sudah menunggu saya di pendopo perpustakaan daerah. Kami kemudian dijemput Dhony Djematu yang hari itu jadi tuan rumah namun juga merangkap sebagai tamu. Luar biasa sekali orang ini. Hanya Dhony yang bisa seperti itu. Dhony beda na!

Oleh Dhony, kami; tim Tabeite, diajak untuk masuk ke lingkungan SMPK St. Stanislaus Borong, bertemu dengan kepala sekolah Bapak Anton Mali. Pak Anton menyambut kedatangan tim Tabeite dengan hangat. Setelah berbincang beberapa hal, tim Tabeite ditemani Pak Anton menemui para siswa/I SMPK St. Stanislaus yang sudah berkumpul di salah satu ruangan. Menurut Dhony, siswa/i yang hadir hari itu adalah para staf OSIS. Siswa/I lainnya tidak bisa ikut karena ada hal lain yang mesti mereka kerjakan.

Kegiatan kami dibagi dalam tiga sesi. Sesi pertama adalah sesi perkenalan. Erik sebagai tuagolo memperkenalkan para anak buahnya kepada para siswa dan siswi SMPK St. Stanislaus. Sesi berikutnya setelah perkenalan adalah sesi materi. Tim Tabeite berbicara menjelaskan apa itu literasi, apa pentingnya membaca dan menulis, serta memperkenalkan tabeite dan bagaimana menulis ala Tabeite. Selama tim Tabeite bicara, para siswa serius mendengar. Bukan main, mereka seakan-akan menerima hal baru hari itu. Tim Tabeite benar-benar takjub dengan respon para siswa SMP di pusat kabupaten ini; anak sekolah jaman now, di tengah kota pula, namun sangat paham sopan santun dan tata kerama. Terlepas dari apa pembicaraan kami menarik atau tidak, kami kagum karena mereka mau serius mendengarkan. Mereka adalah siswa dan siswi yang patut dicontoh di tengah keadaan bangsa yang hampir kehilangan budaya sopan santun dan saling menghargai.

Sesi terakhir setelah sesi materi, diadakan lomba kecil bagi para siswa/i seperti yang diadakan di SMPN 5 Sambi Rampas. Sesi ini, saya pikir adalah yang paling seru. Para siswa dan siswi ditantang untuk menulis. Menulis apa saja. Menulis soal apa saja. Ada yang menulis puisi, cerpen, cerita pengalaman dan lainnya. Tulisan siswa siswi SMPK St. Stanislaus bagus-bagus. Untuk ukuran siswa SMP, saya pikir mereka luar biasa. Dari puluhan tulisan, dipilih tiga tulisan terbaik menurut penilaian tim Tabeite. Ketiga pemenang yaitu Ichan dengan puisinya, Yolanda dan Incha Syukur dengan cerita pengalamannya, mendapat hadiah buku dari tim Tabeite. “Jangan tanya berapa harga buku ini, cukup ketahui bahwa ini adalah bentuk motivasi dari tim Tabeite untuk teman-teman di SMPK St. Stanislaus yang punya hobby menulis, agar kembangkan bakat tersebut”, ujar Im Kartini ketika memberikan hadiah kepada Ichan.

Sebelum kegiatan berakhir, sebagai ungkapan rasa terima kasih SMPK St. Stanislaus, Messi dan Linno; dua siswa berbakat yang dimiliki sekolah ini berdiri menghibur tim Tabeite. Linno dengan puisi, Messi tampil dengan Stand up Comedy. Dua anak ini harusnya berjumpa Itok Aman. Mereka punya bakat yang sama. Dua anak ini seperti Itok, tapi dengan versi yang lebih tampan dan lebih jago.

Sebelum pamit, tim Tabeite diajak Dhony dan Pak Anton untuk mengobrol di pendopo sekolah sambil menikmati bubur kacang hijau buatan siswi SMPK St. Stanislaus. Pak Anton selaku kepala sekolah berterima kasih dan mengapresiasi kegiatan Tabeite hari itu. “Kegiatan mulia seperti ini sangat diperlukan oleh sekolah di jaman ini demi meningkatkan motivasi siswa untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang mereka miliki. Stanislaus adalah rumah bagi hal-hal baik. Kalau adik-adik dari Tabeite berkenan, saya mau mengajak adik-adik untuk bekerja sama dengan SMPK St. Stanislaus, dalam hal ini saya mau kegiatan Tabeite Goes to School lain kali bisa singgah lagi di SMPK St. Stanislaus. Atau lebih bagus lagi jika kegiatan ini menjadi kegiatan rutin di sekolah ini. Nanti kita tinggal bicarakan mau diadakan dua bulan sekali, atau bagaimana baiknya”, ujar Pak Anton sebelum melepas tim Tabeite pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.