Tabeite Goes To School Part 1, Berbagi Semangat Literasi di SMPN 5 Sambi Rampas

Jemarinya sangat lincah dalam menyatukan benang dan mengawinkan warna. Tenunan orang Congkar sangat khas, motifnya bergaris dengan perpaduan warna yang bervariasi, berbeda dengan motif daerah lainnya di wilayah Manggarai Raya.

 545 total views,  2 views today


Erik Jumpar|Tua Golo

Sebelum bantal menjemput kami untuk membaringkan badan, tuan rumah tempat kami menginap, Bapak Rofinus Musdin, mewanti-wanti seluruh redaktur Tabeite agar tetap konsisten dalam segala hal, kemungkinan juga dalam menepati janji dengan pacar.

“Besok bangun tepat waktu. Jangan sampai kesiangan. Tolong konsisten dengan janji yang telah dibuat,”ingatnya.

“Siap, Bapak,” jawab Itok Aman.

Pagi pun tiba. Mentari pagi menyelusup di celah dedaunan, embun turut menempel pada dedaunan yang sedang menghijau. Meski bangun pagi sedikit telat, redaktur Tabeite tetap mempersiapkan diri agar terlihat cantik dan tampan. Tahu toh, kalau Itok Aman dan Popind Davianus sudah menyisir rambut dengan gayanya masing-masing, dijamin anak gadis satu dusun akan jatuh hati. Belum lagi kalau Imm Kartini bersolek lama di depan kaca, satu kesebelasan sepak bola akan klepek-klepek.

Di hari itu, Sabtu (12/12/2020), kami memulai kegiatan Tabeite Goes To School Part 1 di SMPN 5 Sambi Rampas. Lembaga ini beralamat di Kampung Ngkolong Desa Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur. Lokasinya jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Manggarai Timur. Kampungnya susah sinyal, seperti kata Abdur Arsyad, sinyal pikir-pikir sebelum masuk di kampung ini.

Redaktur Tabeite mengawali perjalanan dari Wangkar, menyusuri jalanan dengan kondisi yang cukup bagus. Jalanannya  berkelok-kelok, ditambah dengan tanjakan yang cukup terjal. Mata kita di perjalanan dimanjakan dengan aneka pohon tumbuh subur yang memadati lahan warga. Tanah ini terberkati, alam dan segala isinya selalu tersenyum sumringah.

Sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan warga. Menariknya, ada yang mengenakan jilbab, lainnya lagi tak berjilbab. Mereka berjalan beriringan tanpa saling mencurigai. Desa ini bercorak plural dengan budaya menghargai perbedaan yang sangat kental.

Di salah satu teras rumah warga, kami menyaksikan ada seorang ibu sedang menenun kain songke. Jemarinya sangat lincah dalam menyatukan benang dan mengawinkan warna. Tenunan orang Congkar sangat khas, motifnya bergaris dengan perpaduan warna yang bervariasi, berbeda dengan motif daerah lainnya di wilayah Manggarai Raya.  

“Wah, keren. Itu mama tua sedang menenun,” komentar Imm Kartini.

“Iya ee. Itu kain songke orang Congkar dengan motifnya yang berbeda dengan daerah lain di Manggarai,” tanggap saya.   

Semakin jauh dari Wangkar, tepat di dekat Kampung Ngkolong, rasanya jarak ke langit semakin dekat, kami berada di ketinggian. Lukisan alam dengan lekukan bebukitan yang menghijau terpampang di depan mata. Sementara di ngarai, rumah-rumah warga berhimpitan dengan pepohonan yang menjulang tinggi.

“Kita harus berswafoto di sini,” gumam saya dalam hati.  

Begitu sampai di sekolah, kondisi sekolah amat tenang, letaknya di lereng dengan pemandangan di sekitarnya sangat menghijau, kemudian kami bertemu dengan dua orang siswa. Supaya tak kebingungan, satu di antara kami menanyakan letak ruangan guru.

“Adik, di mana ruangan guru?” Tanya Popind Davianus dengan dialek Congkar yang kental.

“Ruangan guru paling ujung, Kakak,” jawab salah satu di antara mereka sembari menunjuk ke arah ruangan yang dimaksud.  

Saat seluruh redaktur mengayunkan langkah menuju ruangan guru, Bapak Robi Sandrin keluar dari ruangan guru untuk menjemput kedatangan kami. Ia lalu mempersilakan kami untuk masuk ke ruangan guru.

“Ayo, kita masuk,” ajaknya.

Guru-guru yang sedari tadi sedang memasang lemari keluar dari salah satu ruangan untuk menyambut kedatangan kami. Ekspresi sumringah terpancar dari raut wajah mereka, seperti terlihat ketulusan dalam merayakan perjumpaan.

“Selamat datang di sekolah kami. Beginilah kondisi sekolah kita,” tutur Kepala Sekolah, Bapak  Adolfus Sukarman.      

“Terima kasih, Bapak,” tanggap kami semua.

Perjumpaan dalam nuansa penuh kehangatan mulai bergulir. Isi pembicaraan mulai ngalur ngidul ke sana kemari. Itok Aman dengan aneka guyonan yang tak pernah kurang mulai beraksi, acapkali guyonannya mengocok perut seisi ruangan.

“Kita minum kopi dulu,” ajak Bapak  Adolfus Sukarman.     

“Tunggu kegiatan di kelas selesai saja, Bapak.” Jawab satu di antara kami.

Bapak Robi Sandrin selaku kepala urusan di bidang kesiswaan mengajak kami untuk mulai berkegiatan di salah satu ruang kelas. Di dalam ruangan yang telah terpampang spanduk dari Tabeite, empatpuluh siswa telah menanti kedatangan kami.

“Selamat pagi,” sapa mereka dengan serempak.

Seluruh redaktur menyambut dengan sapaan sembari melemparkan senyuman. Kami bersyukur dengan perjumpaan yang terjadi. Ruang temu bertema literasi sebagai gerakan luar jaringan dari Tabeite dimulai.

Di awal kegiatan, kepala sekolah memberikan sambutan singkat. Ia menyampaikan kepada seluruh peserta didiknya untuk memanfaatkan perjumpaan dengan baik.

“Sekarang sekolah kita kedatangan adik-adik dari Tabeite. Kehadiran mereka untuk mendukung semangat belajar kita dalam meningkatkan kualitas diri,” tandasnya.

Ia turut menyampaikan terima kasih untuk redaktur Tabeite yang telah merelakan waktunya untuk berkunjung. Baginya, kehadiran Tabeite sebagai ajang untuk memberi semangat dan dukungan dalam berliterasi di lembaga yang dipimpinnya.

“Terima kasih Tabeite sudah datang berkunjung ke sekolah kami. Semoga kunjungannya mampu memberi semangat bagi adik-adik kita untuk semakin akrab dengan buku,” tutupnya.

Setelah ia memberikan sambutan, Bapak Robi Sandrin mengambil alih jalannya kegiatan. Sebelum memulai kegiatan, ia mempersilakan kami untuk memperkenalkan diri. Seperti petuah pepatah lama, tak kenal maka tak sayang, dikenal maka disayang, seluruh redaktur pun memperkenalkan diri satu demi satu.  

Sesi perkenalan berakhir. Redaktur mulai memainkan perannya untuk membawakan materi.

Bagian awal, saya sebagai Tua Golo diberikan kesempatan untuk membawakan materi. Isi pembicaraan yang dibawakan berkutat pada dalih akan pentingnya membaca.

“Dengan membaca, kita akan mengenal dunia. Informasi baru di luar sana hanya dapat kita jangkau kalau saja kita giat dalam membaca.”  

Giliran materi selanjutnya dibawakan oleh Itok Aman, penulis buku Candramawa dan Arunika itu membawakan materinya dengan gaya yang berbeda. Materi yang ia bawakan dipadu dengan ragam humor yang mengocok perut seisi ruangan.  

“Menulis amat penting. Tujuannya supaya kita tidak melupakan sesuatu, kecuali melupakanmu itu tidak mungkin saya lakukan,” jelasnya sambil menunjuk ke salah satu siswi.

Sontak saja seisi kelas jadi riuh bersama dengan tawa yang membahana. Pembicaraan terus berlanjut, ia kembali masuk ke inti materi dengan membuat sebuah analogi.

“Kalau kalian pergi berbelanja ke pasar, biasanya orangtua kita membuat nota belanja. Nota belanja itu tujuannya agar  seluruh barang yang dibeli tak ada yang terlupakan,” jelasnya.

Seperti kata Pramodeya Ananta Toer, sastrawan besar yang pernah dibuang di Pulau Buru, menulis itu berkerja untuk keabadian. Menulis sebagai langkah untuk menoreh jejak sebelum hilang dan pulang.

“Buku yang sudah saya tulis sebagai bukti kalau saja saya pernah ada,” tutupnya.

Perjumpaan literasi ala Tabeite dirayakan dengan penuh sukacita. Sebagai sebuah perayaan yang meriah, Bapak Robi Sandrin memadukan kegiatannya dengan berpuisi dan bernyanyi.

Ia kemudian meminta salah satu siswa untuk membawakan puisi. Siswa yang dituju kemudian maju ke depan kelas, puisinya berjudul Menjadi Baik Dengan Membaca. Isinya menerangkan tentang pentingnya membaca, ajakan yang positif demi meningkatkan wawasan berpikir agar meninggikan kualitas diri.

Tak mau kalah dengan tuan rumah, Itok Aman memberanikan diri untuk berpuisi. Ia membawakan  puisi berjudul Matahariku, diambil dari buku Candramawa dan Arunika. Demi menambah kesenduan kala Itok Aman berpuisi, Popind Davianus memainkan musik instrumen.

Matahariku

Kau serupa bayang matahari, menguning keemasan kela senja

Entah mengapa debur ombak, desir angin terdengar

Menyebut namamu di telingaku.

Aku membiarkan diriku menjerit kesakitan, biar kau mengobatinya

Aku rela kedinginan agar kau menghangatkannya

Aku membiarkan diriku tertidur biar kau datang temui aku dalam mimpiku….

Itok Aman terus berpuisi. Seisi kelas jadi sunyi, tak ada suara, hanya tatapan penuh penghayatan. Itok menuntaskan puisinya penuh haru, disambut dengan tepuk tangan yang memecah kesunyian.

Setelah Itok Aman berpuisi, dilanjutkan dengan berbagi pengalaman dalam menulis, Imm Kartini mendapat giliran. Bagi redaktur dari Kecamatan Poco Ranaka ini, menulis sebagai kerja-kerja baik untuk merawat akal agar tetap sehat.

“Menulis sebagai jalan untuk merawat akal. Dari menulis, saya mendapatkan banyak pelajaran untuk merawat akal agar kian nakal,” jelasnya.

Ia menandaskan agar seluruh  peserta  mulai membiasakan menulis dari hal-hal yang sederhana. Di bagian akhir, ia menganjurkan agar mereka memiliki buku hariannya masing-masing.

“Kalau adik-adik memiliki buku harian, maka di situ kita bisa menulis kegiatan sehari-hari, entah saat kita ke kebun atau saat ada kegiatan di sekolah,” tutupnya.

Mentari terus menari, panasnya terasa sampai ke dalam ruangan, kabar baiknya seisi kelas tetap antusias mengikuti jalannya kegiatan. Sebagai materi pamungkas, Popind Davianus mendapatkan giliran untuk berbagi pengalaman berliterasi.  

Dalam paparannya, ia turut memberi motivasi agar anak-anak Congkar tetap semangat dalam belajar. Dengan begitu, mereka mampu bersaing dengan siapa saja di luar sana.

“Belajar yang rajin, agar kita dapat menaklukkan dunia. Meskipun kita lahir dan besar di sini, jangan sampai minder untuk menjadi lebih baik lagi dari hari ini,” jelasnya.

Ia turut mengingatkan bahwa dari semangat belajar yang tinggi, membaca yang ulet, dapat meningkatkan diri dalam menulis.

“Kalau saja kita rajin untuk membaca, maka pekerjaan menulis akan semakin mudah.” Tutupnya.

Acara hampir pungkas. Setelah semua materi dibawakan, sebagai aksinya, peserta yang membawa alat tulis diminta untuk menulis apa saja, bisa puisi atau artikel. Tulisan terbaik akan dihadiahkan sebuah buku. Sementara untuk peserta yang tidak membawakan alat tulis, mereka diarahkan untuk membaca puluhan buku yang kami bawa.

Selama duapuluh menit, ritual yang amat bermanfaat itu berjalan, kelas jadi sunyi. Peserta tampak serius untuk menulis dan membaca, ada yang mengkerut dahinya, lainnya terlihat biasa-biasa saja.

Demi mempersingkat waktu, redaktur meminta peserta untuk mengumpulkan tulisannya. Mereka lalu ke depan kelas, mengumpulkan tulisannya. Redaktur bekerja ekstra untuk menyeleksi tulisan terbaik.

“Mereka mulai terbiasa untuk menulis. Ini berita baik,” komentar Imm Kartini.

Proses seleksi tulisan telah selesai. Tulisan terbaik jatuh di tangan Yustin, pelajar kelas sembilan. Ia menulis puisi berjudul Sahabat, isinya menggambarkan tentang kehilangan sosok sahabat yang telah pergi menuju kampung keabadian.

“Itu hasil imajinasi saja, Kakak,” jelasnya saat ditanya oleh Itok Aman.

Tua Golo Tabeite, Erik Jumpar sedang memberikan hadiah berupa buku kepada salah satu peserta yang menulis dengan baik

Redaktur sepakat bahwa yang mulai menulis, entah sudah baik atau belum, patut direspek. Toh, menulis sebuah proses panjang dan berlika-liku, selama kita terus mengasah diri, maka hasilnya akan berbuah manis.  

Perjumpaan pun selesai. Kami lalu menutup kegiatan dengan mengajak seluruh peserta untuk tetap menjaga semangat, sebab semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi siapa saja. Kuncinya tetap kerja keras dan kerja cerdas.

Usai kegiatan selesai, seperti kebiasaan warga +62 pada umumnya, seluruh peserta, guru-guru dan redaktur Tabeite berfoto bersama. Dengan memilih latar di luar ruangan, foto bersama dilakukan dengan ragam ekspresi penuh sumringah.

“Sekarang kita ke ruangan guru,” ajak salah satu guru.

Perjumpaan di hari itu diakhiri dengan menikmati kopi. Mentari di luar ruangan semakin tinggi, ragam obrolan kembali diperbincangkan dalam nuansa penuh kehangatan. Itok Aman kembali memainkan andil dengan candaan yang mengundang tawa.

Dasar cangkir terlihat, isyarat kalau waktu kian beranjak, kami merayakan perjumpaan terakhir dengan meminta tanggapan kepala sekolah terkait kegiatan dari Tabeite.

“Kegiatannya sangat positif. Kami beruntung mendapatkan kunjungan dari Tabeite. Jaga semangat untuk seluruh teman-teman Tabeite,” jelasnya.           

Sebagai tambahan, Bapak Robi Sandrin menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh kru Tabeite.

“Anak-anak sangat antusias. Mereka menyampaikan kepada saya untuk dibuat lagi kegiatan yang lain di masa yang akan datang,” jelasnya.

Akhirnya, Tabeite Goes To School Part 1 tuntas, redaktur Tabeite kembali ke Wangkar. Perjumpaan yang telah kami lakukan ditutup dengan secuil harapan agar generasi Manggarai Timur kian hari kian baik, menjadi generasi optimis bukan pesimis.

Terima kasih seluruh redaktur yang terlibat. Panjang umur hal-hal baik. Peluk sejuk, jabat erat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.