Tangisan Nasi yang Dibuang

 471 total views,  6 views today


Mario F. Cole Putra|Kontributor

Pertengahan tahun 2002 adalah kali pertama saya menginjak Tanah Nuca Lale, Manggarai. Itu adalah saat di mana terjadi pergantian tahun ajaran dari 2001/2002 ke 2002/2003. Waktu itu, saya baru naik ke kelas 3 SD. Karena libur sekolah terasa amat panjang, keluarga kami memutuskan untuk mengadakan liburan ke kampung halaman, Manggarai.

Bapa dan mama sudah lama tinggal di Kupang, tepatnya di Sikumana. Mereka dikaruniai empat orang anak (termasuk saya) yang semuanya lahir di Kupang. Pergantian tahun ajaran itu menjadi momen terindah dan terasyik bagi kami yang belum pernah menginjak tanah kelahiran bapa dan mama.

Sebelum berangkat, mama mengingatkan  kami untuk wajib membawa jaket. Menurut beliau, daerah yang akan kami kunjungi ini udaranya jauh berbeda dengan Kupang. Dan benar. Manggarai sangat dingin. Bahkan jaket yang kami bawa itu tidak mempan menahan dinginnya udara Manggarai. Sampai-sampai ketika siang pun, kami terpaksa mengenakan jaket.

Mula-mula, kami menetap di Karot, Ruteng. Tepatnya Lorong Pering atau Loper sebutan anak-anak di sana. Karot adalah tempat lahir mama. Suasana kekeluargaan begitu tinggi. Barangkali, karena kami baru datang dari jauh dan keluarga Karot juga sangat rindu dengan kami, makanya mereka begitu semangat menyambut kami.

Keluarga sangat welcome. Itu terlihat dari makanan-makanan yang dihidangkan setiap hari. Enak-enak semuanya. Pagi, siang, malam. Setiap hari. Selalu ada daging ayam. Eiittss, for your information, daging ayam itu khusus buat saya yang tidak suka makan Ikan Cara, hehehehe.

Sudah beberapa malam kami menginap di rumah tempat mama dilahirkan. Di malam kedepalan, suasana bahagia tetap sama. Dan itu terlihat dari makan malam kami. Apalagi saya yang tiap saat disuguhi daging ayam. Hanya saja, saya agak malas makan. Gara-gara mamakoe paksa-paksa untuk tambah makanan, padahal sayur dan lauk sudah habis.

Nana, hang tambah. Mai ga nana. Hang tambah”, ajak mamakoe.

Melihat daging yang disiapkan tadi sudah habis, nafsu makan saya menjadi hilang.

“Ma, sonde mo tambah lai”, bisik saya pada pada telinga mama.

Ogon e ase”, kata mama pada mamakoe yang sedari tadi membujuk saya untuk menambah makan.

Namun, mamakoe bukannya menarik diri, malah semakin agresif untuk menambah makanan pada piring saya. Ketika sendok nasi pertama masuk ke piring, saya belum terlalu bersungut-sungut. Saya mulai meronta-ronta ketika sendok nasi kedua jatuh di piring sembari menutupi beberapa tulang ayam bagian dada.

“Cukup, Ase. Asi tambah e. Nanti dia tidak mau makan”, kata mama saya membujuk adiknya yang terus-menerus membujuk saya untuk menambah makanan.

“Makan banyak kah nana. Supaya cepat besar. Nanti kalau sudah besar, nana bisa jadi polisi, seperti bapa tu’a yang di Bogor tuh”, kata mamakoe dengan nada membujuk.

Tanpa banyak berkata, bersamaan dengan hati yang terpaksa, saya mulai menarik piring dan sendok. Untuk saya, kalau mood sudah buruk, makan apa saja pasti tidak enak. Lagian, daging yang disiapkan untuk saya sudah habis dijarah saudara-saudara saya. Yang tersisa di piring hanya tulangnya saja. Sayur juga sudah habis. Yang ada hanya nasi putih. Tidak mengenakan untuk anak kelas 3 SD.

Sungguh berat mengangkat nasi putih kosong yang tidak ditemani teman-temannya yang bernama sayur dan daging ayam itu. Bebannya begitu tidak mengenakan hati. Dengan tangan yang lemas, saya mendorong sendok masuk ke dalam mulut. Saya lalu membayangkan, betapa tak mengenakannya nasi ini. Ini baru satu sendok, belum sendok kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Tiba-tiba, muncul ide di kepala. Ide agar nasi di piring lenyap dalam sekejap.

“Beta mau buang ini nasi sa”, kata saya dalam hati.

Perlahan-lahan saya mengangkat piring, menyelinap dengan langkah pasti menuju dapur. Di situ, ada pintu menuju kebun belakang rumah. Dari pintu itu, sudah terlihat ada pohon kering yang sudah di kerumuni oleh Labu Jepang. Diam-diam saya menuju pohon kering berdaun Labu Jepang itu. Tanpa banyak kata dan tanpa berpikir panjang, saya membuang nasi-nasi itu tepat di bagian akar pohon kering. Dan, mission complete. Piring bersih dari nasi kosong tanpa teman-temannya. Saatnya istirahat malam dengan tenang.

Tengah malam, kira-kira pukul 00.35 ada suara anak menangis dengan amat sedihnya. Om Endis, paman saya yang duluan mendengarkan suara tangisan itu. Dia memang tidak bisa tidur kalau ada suara yang mengganggu. Dia berpikir kalau yang menangis itu adalah salah satu dari kami yang baru datang dari Kupang, sehingga dia biasa-biasa saja menanggapi.

Namun, sepuluh menit kemudian, om Endis merasa risih, karena kedua orangtua kami tidak terbangun untuk mendiamkan kami yang sedang menangis. Rupanya, itu bukan suara tangisan dari keponakannya dan dari anak-anaknya.

Om Endis lalu membangunkan bapa saya. Ternyata bapa saya juga merasa risih dengan suara tangisan itu. Diakuinya kalau dia sudah mendengar tangisan itu sejak pukul 00.00. Karena mendengar diskusi dari bapa dan om, kami yang lain akhirnya terbangun dan dengan seketika mendengar suara tangisan itu. Anak-anak yang terbangun tadi langsung ketakutan. Termasuk saya yang terkenal penakut ini.

Lalu, bapa dan om pergi ke arah suara tangis itu. Mereka menuju dapur. Di dapur, suara tangisan menjadi sangat jelas. Terlebih, ketika bapa membuka pintu dapur. Suara tangisan itu masuk ke dapur, menerobos ke ruang tengah tempat kami yang lain berkumpul dalam ketakutan. Saya mencoba menutup telinga rapat-rapat. Tapi tak bisa. Suara itu masuk ke lorong-lorong telinga kiri dan kanan lalu menyatu di kepala, mendominasi pikiran, lalu meniembulkan wajah memyeramkan yang pernah saya nonton di televisi beberapa malam lalu sebelum berlayar menuju tanah ini.

Bapa dan om memberanikan diri menuju sumber suara. Suara itu tepat berada di bawah pohon kering berambut Labu Jepang. Karena takut terjadi apa-apa, bapa membawa kayu besar yang diambil dari dapur, sedangkan om mengambil parangnya yang juga sempat ia taruh di dapur. Perlahan-lahan, mereka menuju ke sana. Kami yang lain juga menuju dapur dan bergegas melirik dari balik pintu dapur ke arah bapa dan om berjalan. Suara tangis itu sendiri masih jelas di telinga kami.

Setelah sampai di bawah pohon, bapa dan om terkejut. Kami yang sedang melihat aksi bapa dan om juga ikut terkejut. Ternyata, mereka mendapati setumpuk nasi di bawah pohon itu. Nasi itu menangis tersedu-sedu.

Pagi harinya, kami semua berkumpul di ruang tengah tempat meja makan berada. Kami diinterogasi satu per satu mengenai siapa pelaku pembuangan nasi itu. Karena takut, tak ada satupun yang bersuara. Pertanyaan yang telah dilontarkan baru terjawab lima menit kemudian. Saya mengakui kesalahan itu. Saya yang membuang nasi itu dengan alasan sayur dan lauk sudah habis.

Setelah itu, kami semua dinasihati oleh bapa dan om. Karena menurut cerita orangtua, kita jangan pernah membuan-buang nasi. Bapa dan mama juga sudah sering memberitahu kami di Kupang agar jangan pernah membuang-buang nasi. Nanti nasi menangis. Dan, itu ada benarnya juga.

Sejak saat itu, saya bertobat. Semua makanan yang saya tumpahkan ke piring, akan saya habiskan tanpa bekas. Saya berjanji tidak akan membuang-buang nasi (dan makanan apa pun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.