Tanta Ernie adalah Wajah Generasi Kita, Bukan Maudy Ayunda

"If you know, you know." Sumber gambar: Vantage.id

 535 total views,  3 views today


Frumens Arwan | Tua Golo

Sekadar disclaimer di awal, tulisan ini mengandung unsur penodaan dan pencemaran nama baik. Tapi asyik kok kalo dibaca sambil minum kopi. Ehem.

Seseorang harus mengatakan kepada Maudy Ayunda yang cantik dan cerdas itu bahwa: ia sama sekali tidak mewakili generasinya, generasi kita. Ia barangkali merupakan hati nurani generasinya, ideal generasinya, tetapi ia tidak mewakilinya. Mendekati pun tidak. Saya sendiri memang berharap Maudy bisa mewakili generasinya, tetapi sayangnya tidak. Ada yang lain.

Saya akan menunjukkan kamu siapa yang benar-benar mewakili generasi kita. Kenal Tanta Ernie? Bagi generasi Youtube atau yang sedikit lebih “tinggi” dari itu bagi generasi Instagram dan Twitter, nama Tanta Ernie bukanlah nama yang asing. Kata “Tanta” di depan namanya bukanlah sekadar embel-embel. Itu adalah “gelar” yang disematkan untuk segala daya pikat yang melekat pada dirinya. Maksud saya tubuhnya.

Kalau kamu masih tidak mengenal nama Tanta Ernie, saya bisa mengatakan bahwa kamu adalah anak baik-baik, yang juga berasal dari keluarga baik-baik. Kamu belum terpapar roh jahat. Atau bisa jadi belum ada teman laknatmu yang berniat meracuni kepolosanmu. Tapi, tidak apa-apa. Itu baik untuk masa depanmu.

Atau saya bisa memberikan nama lain yang mungkin familiar di mata dan telinga kamu, seperti Kimi Hime atau Livy Renata. Mama Gisel mungkin? Bullshit dah kalau kamu tidak kenal nama-nama legend ini. Pada dasarnya, semua mereka memiliki satu kesamaan: mereka adalah pemersatu bangsa. If you know, you know.

Mengapa tidak ada contoh laki-laki? Andai saja mereka ada, silakan tambahkan sendiri. Saya sedang tidak tertarik membicarakan laki-laki.

Kembali ke soal Tanta Ernie tadi. Wanita paruh baya pengagum Madona ini adalah trend baru di dunia media sosial hari ini. Ia muncul begitu saja tatkala pandemi muncul sebagai wabah. Jika pandemi adalah racun, dia adalah penawarnya. Ia memenuhi jagat maya, mulai dari media sosial hingga stasiun televisi. Ia diundang ke berbagai stasiun TV dan podcast Youtube. Ia benar-benar menjadi wajah dari generasi kita saat ini.

Apa yang membuat Tanta Ernie menjadi sedemikian terkenal? Singkat saja: ia adalah obat penawar untuk gairah paling purba dalam diri laki-laki, yakni birahi. Kalau ia sedang menjadi trending di Twitter, Tiktok atau Youtube, hanya ada tiga kemungkinan yang terjadi. Pertama, ia baru saja mengunggah foto seksi. Kedua, ia mengunggah foto seksi. Ketiga, ia mengunggah foto seksi lagi.

Kamu yang mengenalnya mungkin merasa kaget, lucu, marah atau jijik, tetapi ia sebenarnya adalah cerminan kita, perwakilan generasi kita. Semua yang kita inginkan, semua yang ingin kita dapatkan, semua yang kita impikan, tercermin dalam dirinya. Itu mencakup gaya hidup, bentuk tubuh, cara berbusana, gaya rambut, riasan wajah, dan sebagainya.

Lantas, bagaimana dengan Maudy Ayunda? Mengapa harus membandingkannya dengan Tanta Ernie? Maudy Ayunda adalah model perempuan yang sempurna dari generasinya. Sempurna dalam arti bahwa selain cantik, ia juga pandai dan berprestasi. Dalam masyarakat kita, kategori-kategori semacam itu sudah cukup mendekati kata “sempurna”. Ibaratnya, ia adalah model perempuan yang telah diambil dari dunia idea-nya Platon.

Label “pandai” dan “berprestasi” itulah yang justru membuat Maudy berbeda dari anak muda generasinya. Bagaimana tidak, ia telah menyelesaikan studi tingkat perguruan tingginya di dua universitas terkemuka dunia, yakni University of Oxford di Inggris dan Stanford University di Amerika Serikat. Ia bisa berakting, bernyanyi dengan baik, dan juga menguasai sejumlah bahasa asing. Bahkan baru-baru ini ia menjadi Juru Bicara Presidensi G20. Wow!

Masalahnya, seperti yang saya bilang di awal, Maudy yang “pandai” dan “berprestasi” itu bukanlah representasi dari generasinya. Maudy bukanlah influencer bagi generasi kita. Hanya segelintir orang yang bersedia menjadi seperti Maudy atau mengikuti gaya hidup Maudy.

Mengapa? Jawabannya: tidak mudah menjadi seperti Maudy Ayunda! It isn’t fucking easy! Semudah itu menjelaskannya. Menjadi cerdas, disiplin, berprestasi tidak semudah melakukan aktivitas rebahan sambil nonton Youtube, joget-joget di Titktok, menulis tweet berisi cacian dan makian di Twitter atau membicarakan keburukan orang di Facebook.

Sebaliknya, representasi generasi kita adalah para tiktokers, selebgram, yang secara lebih spesifik saya katakan sebagai kelompok yang menjual kebodohannya, ketelanjangan dirinya, lekuk tubuhnya, dan bahkan kejahatannya, hanya demi viral atau demi dilihat banyak orang. Demi viewers. Mengapa? Itu mudah dan menyenangkan.

Saya mencoba mengkategorikannya secara lebih spesifik karena bagi saya masih ada kok orang-orang pandai yang menjadikan Tiktok atau platform media sosial lainnya untuk melakukan hal-hal positif, semisal mengedukasi orang, menolong orang, dan sebagainya. Jadi, saya sama sekali bukan orang yang ingin “membunuh” Tiktok dan semacamnya. Saya juga hobi nonton Tiktok kok, di postingan WA teman-teman saya.

Sekali lagi, pertanyaannya adalah siapa sih yang benar-benar merupakan influencer dari generasi kita? Dia yang menjadi Jubir Presidensi G20 atau dia yang suka memamerkan baju kurang kain di Instagram? Dia yang meninggalkan dunia entertainment demi pendidikan atau dia yang meninggalkan pendidikan demi joget-joget di Tiktok (tentu bukan Tanta Ernie yang saya maksud di sini)? Dia yang memamerkan foto belahan dada atau yang memamerkan ijazahnya di Universitas of Oxford? Dia yang memamerkan lekuk tubuhnya atau dia yang memamerkan buku-buku rekomendasi yang menurutnya wajib kita baca?

Jika kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kamu akan tahu siapa sebenarnya yang paling sering kita ikuti gaya hidupnya. Maudy Ayunda atau barangkali juga Najwa Sihab tidak mewakili generasi kita, tetapi Tanta Ernie, Livy Renata, atau Kimi Hime. Maudy hanyalah sesuatu yang seharusnya, tetapi bukan yang sebagaimana adanya.

6 thoughts on “Tanta Ernie adalah Wajah Generasi Kita, Bukan Maudy Ayunda

    1. Makasih masukannya Kak. Lebih tepatnya Maudy lulus S1 di University of Oxford dan S2 di Stanford University. Dia sempat keterima di Harvard University utk S2nya, tapi ia lebih milih kuliah di Stanford.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.