Tempat Berkumpul Paling Favorit Versi Anak Kampung

sumber foto: Garasijogja

389 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini


Penulis: Erik Jumpar|Redaksi|

Tinggal di kampung dengan kondisi serba terbatas, suka tidak suka, mau tidak mau, harus dijalani dengan sepenuh hati. Luput dari ingar-bingar seperti di daerah perkotaan menuntun anak-anak desa agar tidak menyerah dengan keadaan. Jangan harap ada tempat-tempat hiburan berkelas laiknya di kota besar. Demi menyambung hidup dari bulan ke bulan saja sekelas rakyat jelata macam kami ini susahnya minta ampun, apalagi hendak menuntut hiburan yang ekslusif di tengah hidup yang kian hari kian keras.

Tantangan tinggal di kampung memang aduhai susahnya, saya kerap kali mengalaminya. Bila dibandingkan sukarnya dengan move on  dari mantan yang pergi tanpa permisi hampir sama sih rasanya, tidak ada bedanya. Berawal dari sinyal yang pikir-pikir baru masuk kampung seperti kata Abdur Arsyad itu, juga cerita tentang provider yang mendominasi akses komunikasi dengan tarif  yang aduhai mahalnya, sungguh menghempaskan anak desa macam kami ini dalam pertarungan mengakses bokep hiburan berkelas di dunia maya.

Di saat orang-orang di mamakota sana dilanda gelisah, galau dan merana akibat kemacetan yang begitu panjang walau di jalan yang beraspal nan mulus, sementara kami di kampung kian lama berbekalkan dedak saat lewati jalanan buruk di Manggarai Timur, tanah kebanggaan redaktur Tabeite itu. Bayangkan! Apalagi ruang temu yang keren-keren seperti di kota besar, seperti bioskop, mall, café, restoran dan lain-lain, tentu tidak ada sama sekali bro dan sis.

Namun, sebagai anak desa yang  sudah dimanjakan dengan hidup yang keras sejak zaman antah berantah, menyerah dengan keadaan tentu tak baik. Engko bakalan dicap sebagai pecundang kelas kakap oleh orang sekampung saat meratapi ketertinggalan hingga tak punya nyali untuk unjuk gigi. Karena itu, demi memenuhi kebutuhan rekreasi saat berada di kampung, ada ruang temu yang paling favorit menurut orang kampung macam kami ini.  

Melalui permenungan panjang untuk tak kembali ke pelukanmu, saya menjaring tempat paling ideal sebagai ruang temu untuk orang kampung macam kami. Usai melakukan wawancara dengan tukang tuak di bawah pondok yang ada di tepi sungai Wae Musur, saya menemukan setidaknya ada empat tempat berkumpul paling favorit versi anak kampung.

Pondok dari penyadap moke putih

Ada yang menarik dalam kehidupan orang Manggarai saat senja hendak pergi menjemput malam. Biasanya, orang akan berbondong-bondong menuju pondok dari para penyadap moke putih. Orang Manggarai menyebutnya lolu. Lolu sebagai aktivitas mendatangi tekape dari para penyadap moke putih (ata pante tuak).

Mendatangi tempat penyadap moke putih bertujuan untuk menikmati suguhan moke putih yang baru saja dipanen dari pohon aren. Moke putih disuguh dalam cangkir yang dibuat dari bambu muda. Bambu dipotong membentuk cangkir. Orang Manggarai menyebutnya sinduk.

Menariknya saat menikmati moke putih yang disajikan dalam sinduk ada sensasi tersendiri. Sensasinya berbeda jauh jika dibandingkan dengan suguhan moke putih yang dituang ke dalam gelas atau mok, apalagi jika pondok dari para penyadap moke putih terdapat di tepi sungai. Sungguh sensasinya benar-benar terasa.

Cerita-cerita tentang hidup dibagi saat perlahan-lahan moke putih mulai dinikmati. Ruang temu yang tadinya biasa-biasa saja akan menjadi istimewa saat diwarnai dengan candaan yang menghangatkan suasana. Benar bahwa di pondok penyadap moke putih menjadi tempat berkumpul paling favorit untuk orang kampung, saya pernah merasakannya. Anda juga harus mencoba. Ayo!

Rumah Penjual Sopi

Sopi menjadi minuman favorit saat orang-orang  berkumpul di Flores. Sebenarnya bukan hanya di Flores ada sopi, sebab setiap daerah memiliki minuman keras khas lokal. Hanya namanya saja yang berbeda. Tujuannya sama; membuat orang menjadi perkasa.

Sopi membuat ruang temu  menjadi lebih ramai dan asyik, entah untuk bikin kacau di kemah pesta, omong besar sampai lupa daratan, bahkan membuat ulah dengan memecahkan piring milik tuan pesta, ataupun sekedar untuk bercerita tentang hidup.

Sopi mengajarkan orang kampung tentang persaudaraan. Hal ini dapat terlihat saat orang mulai berkumpul di suatu tempat, perlahan-lahan pun mulai patungan demi membeli sopi. Usai sopi dibeli akan dinikmati sembari melontarkan candaan demi candaan yang kerap kali memancing gelak tawa.  Ada cerita tentang hidup saat ruang temu berjalan bersama gelas sopi, ada kepolosan saat orang bercerita tentang kehidupannya sendiri. Tidak perlu mengernyitkan dahi, jika sore hari rumah dari para penjual sopi dikeremuni para pembeli.

Kemah Pesta

Pesta di kampung merupakan momentum yang selalu ditunggu-tunggu. Kendati musim kemarau yang berkepanjangan berakibat fatal pada rendahnya pendapatan, tak berarti akan mengurungkan niat rompes-rompes untuk mengikuti pesta.

Pesta menjadi ruang temu yang diidam-idamkan bagi anak muda. Ada kerinduaan tersendiri saat pesta jarang diadakan, ada cerita tentang pertemuan bersama saat pesta diadakan, juga ada pertemuan memadu cerita dengan undangan yang lain saat pesta dimulai.  

Tiba di kemah pesta biasanya rompes-rompes tadi akan duduk di dalam kemah sembari bercanda satu sama lain. Pertemuan yang tadinya bernuansa formal perlahan-lahan bergeser dalam suasana yang tidak kaku. Sopi biasanya juga menjadi salah satu suguhan yang selalu dicari-cari saat pesta sedang berlangsung.

Tumpukan Kayu Kering yang Dibakar (sarap api)

Kebiasaan memanaskan badan ini dilakukan setelah mandi sore, saat di mana hawa dingin merasuki tubuh. Kayu kering dikumpul dan disusun sedemikian rupa, kemudian dibakar. Setelah apinya kian membara, perlahan-lahan orang akan duduk mengerumuni api sembari berbincang-bincang tentang berbagai topik. Topik pembicaraannya aneh-aneh, mulai dari; politik, budaya, pedekate yang gagal hingga obrolan tentang Cebong dan Kampret yang belum move on sama sekali.

Saat bara api kian membara, pembicaraan pun masih berlanjut. Hangatnya api seolah-olah meracik hangatnya persaudaraan. Nuansa persaudaraan terlihat bersama dengan candaan demi candaan dilontarkan.

Tradisi sarap api turut membentuk demokrasi di kampung-kampung. Pasalnya, saat kebiasaan memanaskan badan dijalankan akan diikuti dengan diskusi kecil-kecilan dari orang-orang kampung. Perdebatan sengit terkadang tak dapat dielakkan. Tidak berlebihan kalau dibilang, tradisi sarap api dapat melahirkan rekomendasi kebijakan di tingkat kampung. Hadeh.

Di tengah ketertinggalan kami yang ada di kampung-kampung, empat tempat berkumpul di atas telah kian lama membentuk peradaban sebagai orang kampung. Peradaban bangsa manusia bukan hanya dipengaruhi oleh teknologi yang kian maju, namun kampung dengan segala kesederhanaan justru bercerita apa adanya tentang hidup itu sendiri. Ayo pulang kampung, perantau!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *