Tentang Dunia Kecil Saya yang Lucu dan Kadang Garing

Masa kecil adalah mutiara. Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/anak-anak-sungai-mandi-1822704/

 210 total views,  5 views today


Apek Afres | Redaksi

Semua orang berkutat dengan dunia mereka sendiri, entah itu dunia yang fantastis, dunia kesepian, dunia masa lalu dan dunia-dunia lain yang mereka ciptakan untuk memayungi diri sendiri. Ada yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa dihitung dengan angka, dan juga tidak bisa didapat dengan sekeping atau secarik dolar. Tidak terkecuali saya yang semakin dicintai kekasih ini. Saya sering berteduh dan menyelinap di dunia kecil impian saya sendiri.

Dunianya tidak segemerlap kota-kota besar di Amerika pun tidak seindah tangan kekasih ketika megusap air mata kerinduan. Dunia saya cuman kumpulan cerita demi cerita yang perlahan-lahan merakit sesuatu hingga tercipta suatu tempat yang hanya bisa memberi senyuman, tetapi tidak bisa memberi kecupan.

Semakin ke sini saya merasakan jejak perjalanan hidup saya membentuk dunia-dunia kecil yang kadang-kadang lucu, kadang-kadang juga garing. Jejaknya ambivalen. Di tepian yang satu mengalir nuansa yang menciptakan bunyi sedangkan di tepian yang lain semakin dijerat sunyi. Saya tertawa sendiri ketika di dunia kecil saya melihat monyet berusaha makan cabe atau juga merasa dibodohi ketika melihat burung dalam sangkar milik tetangga berbicara tentang sapi yang sedang makan rumput di padang yang luas. Lebih asiknya lagi ketika pacar teman saya berbicara tentang kumis tebal saya kepada kekasihnya. Syukur-syukur mereka tidak menceritakan celana dalam saya yang tidak pernah ganti selama dua tahun belakangan ini.

Pernah suatu hari saya mengelilingi kota tempat saya tinggal untuk memastikan bahwa bukan hanya saya yang terjerembab dalam dunia kecil yang saya sendiri tidak tahu namanya ini.  Anonim tetapi menceritakan banyak nama. Saya singgah dekat perempatan kota sembari meresapi dunia saya sendiri dan mencoba menyelinap ke dunia orang-orang sekitar. Kenapa bapak tua itu naik sepeda sambil tersenyum? Kenapa bus kota itu melaju begitu cepat? Kenapa orang dalam mobil itu menatap langit penuh dengan gairah? Lalu, kenapa saya menikmati hal-hal semacam itu?

Tidak ada konklusi yang menerangkan secara jernih atau keluar sebagai pemenang dunia kecil terindah. Setiap momen setidaknya memberi arti tertentu; arti yang menelurkan warna kehidupan. Kumpulan sangkar dunia-dunia kecil pun ada yang semakin mengecil juga ada yang semakin membesar; melonjak untuk membuntuti hal-hal estetik demi memoles perjalanan hidup. Itulah dunia kecil saya yang kebanyakan garingnya. Berusaha memahami dunia milik orang lain, tetapi tidak bisa mencerna cerita-cerita dunia kecil milik sendiri.

Ketika setiap lembaran cerita ini saya rangkai dalam sebuah buku kumpulan cerita, mungkin bukunya akan cepat menguning; ada rasa debu, namun terasa pahit jika dikunyah. Ini semacam rasa “kopi dangdut” yang di-cover banyak orang itu. Tidak tahu “kopi dangdut” sejenis kopi apa, yang pasti bukan sejenis kopi tubruk atau kopi asli dari Colol Manggarai Timur. Tetapi ada alunan yang mengasah asa dan rasa. Memberikan sesuatu yang jujur, indah, dan kegetiran yang mendalam, bahwa di luar ranah fakta dan fiksi dunia kecil saya, kejadian-kejadian seperti ini lumrah terjadi, yang pada akhirnya tidak seindah di dunia kecil saya dan tidak seburuk di dunia kecil milik orang lain. Problematika kadang tidak sebecanda yang kita bayangkan.

Agak sulit memilih sekaligus memilah cerita yang menjadi favorit, sebab setiap cerita rasanya membuat saya berhenti sejenak untuk mengulik apa maknanya. Semisal dalam film seri Korea yang sedang naik daun, Squid Game, ada satu karakter perempuan yang mengalah kepada pemain perempuan lain dalam game adu kelereng. Padahal, konsekuensinya jelas menyakitkan. Yang kalah pasti akan ditembak mati. Saat momen seperti inilah ketentuan ending di setiap cerita dalam dunia kecil saya menemukan jalan keputusan akhir. Saya mengorbankan sesuatu yang mungkin tidak berguna bagi dunia kecil saya, tetapi memberi jalan terang bagi dunia kecil milik orang lain.

Pada akhirnya saya menyematkan diri saya sebagai prajurit di dunia kecil saya sendiri yang lucu dan kadang-kadang garing ini. Sebagai seorang pencari makna yang berharap menaklukkan kebodohan dan ketidakberadaban sudah cukup. Hidup selalu mengajar saya untuk membawa payung, siapa tahu hujan, ya toh?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.