Terima Kasih Untuk Mereka yang Telah Pergi

 486 total views,  2 views today


Erik Jumpar|Redaksi

Waktu melangkah kian maju, tak terasa tahun 2020 sudah tiba di bulan Maret. Sialnya, di tahun Tikus Logam ini, hanya saya, satu dari redaktur Tabeite yang baru kali ini kembali menulis. Maafkan saya, Bro dan Sis! Padahal redaktur yang lain sudah memaksakan saya sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali agar kembali menulis.

Pemicunya disebabkan oleh kesibukan pribadi demi menyiapkan tetek-bengek dalam urusan menghalalkan gadis desa di dapil seberang. Kalian tahulah, Bapak dan Mama mantu mana yang mengizinkan anak gadisnya menikah dengan pemuda desa tak berpenghasilan tetap macam kami ini.   

Meski begitu, kerinduan untuk tetap menoreh jejak dengan menulis pada media kecil kami yang terkadang kurang ajar ini enggan bisa dibendung. Rasanya hampir sama dengan perjuanganmu untuk melupakan mantan. Dicoba berulang-ulang kali, ujung-ujungnya akan selalu ada rasa yang tersisa.

Saya terkadang merenung, mungkinkah Tabeite akan bertahan di tengah kerja nyata tanpa upah ini? Saat-saat saya sedang dilematis memikirkan Tabeite, saya teringat Popind Davianus, anak desa dari Sambi Rampas. Pengorbanannya untuk melahirkan Tabeite patut diacungi jempol. Ia rela mati-matian membayar tagihan website, bahkan menyisihkan dari uang jajannya yang mungkin tak seberapa tiap bulannya. Sementara kami, ah sudahlah!

Namun, saya selalu percaya, di ujung perjalanan akan selalu tampak cakrawala. Bahwa kerja-kerja baik akan selalu berbuah manis. Mungkin hasilnya tidak dipetik sekarang, barangkali besok atau lusa, barangkali saat melajang atau saat berdua dengan pendamping hidupmu kelak.

April yang akan datang, Tabeite merayakan ulang tahun yang pertama. Kalau mau jujur terlampau banyak pencapaian selama berproses membesarkan Tabeite. Adakalanya dipuja di dunia maya, juga dihujat di dunia nyata. Tidak apa-apa, namanya perjalanan. Adakalanya jalanannya mulus dan lurus, namun kadang berkerikil dan berkelok-kelok.

Tabeite belum tiba di puncak, beban masih menumpuk di pundak. Ada yang datang untuk bernaung di bawahnya, ada juga yang memilih hengkang untuk berproses menuju rumah yang lain. Bak sebuah pertemuan yang tak selalu berujung manis, akan ada perpisahan yang barangkali berbekas di hati.

 Redaktur tidak punya penghargaan untuk teman-teman yang memilih angkat kaki dari Tabeite. Selain beribu terima kasih dan rasa hormat.  

Sekali lagi, terima kasih untuk kawan-kawan yang sempat menjadi bagian dari Tabeite. Pada pergantian waktu, ada saat di mana mentari itu terbit dengan indah, pun tetap indah saat ia mau berpamit dan akhirnya tenggelam.

Jika Tabeite adalah rumah yang kurang bahkan tidak menyenangkan, kiranya mohon dimaafkan. Harapannya semoga ada hal-hal baik yang bisa diambil dari Tabeite untuk dibawa ke tempat yang baru.

Kami masih berdiri di sini dengan kopi yang beraroma sama. Jika di sana ada yang membosankan, masih ada cinta yang kuat menunggumu di rumah ini.

Akhir kata, sukses selalu buat kawan-kawan baik yang sempat menoreh kenangan di Tabeite. Kita hanya berpisah secara online, namun tetap akrab ketika offline. Peluk sayang dari kami.  

3 thoughts on “Terima Kasih Untuk Mereka yang Telah Pergi

  1. Terimakasih kalian 😍
    Untuk yg pergi jg yg masih menetap
    Tetap semangat
    Tetap berkarya
    Semoga dgn karya kalian semakin banyak orang se_Manggarai Raya yg lebih mencintai kegiatan membaca yg hampir punah ini😆

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.