Terkuburnya Budaya Lejong oleh Tren Cyberspace Masa Kini

Sumber Foto: Brilio

454 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Edisi Redaksi |Penulis: Osth Junas|

Setelah selesai menikmati hidangan di resepsi pernikahan mantan pacar, akhirnya saya putuskan untuk kembali menulis sesuatu berdasarkan fakta yang saya dapat dari lingkungan sosial masyarakat kita. Ada beberapa poin penting sebenarnya. Setelah memilahnya, saya memilih mundur membahas budaya lejong yang perlahan hilang dengan adanya bermacam tren masa kini, salah satunya tren cyberspace

Cyberspace jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia yaitu ruang maya atau lebih dekat dengan sebutan dunia maya. Cyberspace atau dunia maya merupakan serangkaian jaringan yang terdapat dalam media elektronik yang memiliki banyak manfaat baik untuk keperluan komunikasi, mengakses dan menyebar informasi secara online dan terhubung langsung tanpa berpatokan dengan jarak dan batasan waktu. Dan, juga sebagai tempat tebar pesona kaum-kaum kesepian.

Gempuran arus globalisasi semakin terasa akhir-akhir ini. Masyarakat kita dituntut untuk lebih bijak dalam penggunaan media sosial di era modern seperti sekarang, karena selain dihadapkan dengan beragam kemudahan, kita juga tidak luput dari berbagai ancaman yang kemungkinan terjadi apabila kita tidak arif menyikapi kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan zaman ini.

Dengan berbagai tawaran menarik membuat kita sebagai penikmat media elektronik seakan terlena karena sudah terbiasa dengan hal-hal yang instan.

Bayangkan saja, dengan kondisi lalu lintas yang macet dipadati kendaraan mewah pejabat negara yang baru saja dilantik berapa waktu lalu membuat kita enggan untuk keluar rumah. Solusinya sangat mudah yaitu memanfaatkan fitur gofood dalam aplikasi gojek.

Selain mempermudah, media sosial juga menjadi tempat di mana kita bebas untuk berekspresi, bahkan sebagian dari kita menempatkan media sosial sebagai salah satu pilihan tempat untuk mengungkapkan perasaan; baik  marah, kesal, sedih, bahagia, terharu, ataupun hal lain yang terbayar hanya dengan respon like’s pengguna media sosial lain. Tetapi sadar atau tidak, contoh kedua tidak menjamin kita mendapat solusi dari media sosial.

Memang benar, kehadiran internet memiliki keuntungan (sisi positif) dengan memberi ruang seluas-luasnya bagi kita sebagai generasi muda yang tengah menikmati kemajuan zaman, namun di sisi lain tentu muncul pelbagai dampak buruk atau resiko (sisi negatif) dari lahirnya teknologi canggih ini.

Bicara mengenai dampak buruk, saya tertarik untuk membahas budaya lejong yang memiliki hubungan erat dengan sifat sosial masyarakat Manggarai yang mulai pudar dan mungkin sebentar lagi menghilang dari kehidupan orang Manggarai dengan adanya budaya curhat di dunia maya. Sebelum lahirnya teknologi ini, lejong sudah menjadi tradisi yang sering kita temukan di kehidupan masyarakat kita.

Sebelum saya membahas lebih dalam kaitan antar kedua budaya ini, lejong yang dimaksud dalam tulisan ini yaitu diskusi atau ngobrol.

Lejong  itu sendiri memiliki arti ganda, yakni bertamu. Lejong sebagai arti bertamu merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh hampir semua masyarakat Manggarai hanya untuk sekadar menghabiskan waktu ssnggang. Dan biasanya tradisi lejong ini sering dilakukan pagi hari dan atau sore hari. Atau kapan saja, terserah kamu. Pokoknya terserah!

Sedangkan lejong dalam arti lain yaitu ngobrol. Biasanya istilah lejong pada poin ini terjadi setelah kita bertamu, atau bertemu dari orang baru di jalan, misalnya.

Lejong dalam kehidupan orang Manggarai, merupakan suatu momentum untuk mendiskusikan beragam topik mulai dengan membahas masalah politik, sosial, adat, atau pun budaya. Berdasarkan sudut pandang itu, tentu lejong memberikan nilai-nilai positif yang tidak kalah menarik dari media sosial dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Kebiasaan ini yang diwariskan secara turun-temurun, tanpa melalui aturan tertulis atau masuk dalam undangan-undang tentang hak asasi manusia yang tidak pernah selesai direvisi itu!Hadeh…

Lejong memberi ruang bagi semua orang, termasuk bagi kaum muda untuk belajar beretika dan bertutur kata dengan sesam. Dilihat dari sudut pandang budaya orang Manggarai, Lejong juga memberikan kesempatan bagi orang tua untuk menanam nilai-nilai luhur budaya manggarai secara lisan (tanpa melalui proses belajar mengajar di lembaga pendidikan). Singkatnya lejong menjadi wadah bagi orang Manggarai untuk bersosialisasi dalam membentuk karakter terutama bagi uwa weru (anak muda).

Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi terlebih khusus setelah lahir berbagai macam jenis media sosial sangat berdampak pada hilangnya kebudayaan lokal orang Manggarai. Yang mana kebiasaan lejong bagi orangtua zaman dulu menjadi kebanggaan tersendiri yang seharusnya diwariskan secara turun-temurun sebagai sarana untuk menyelesaikan suatu masalah dalam kehidupan bersama.
Setelah peralihan masa dari tahun ke tahun, kehadiran internet seakan menjadikan ‘uwa weru’ bukan lagi tampak sebagai pribadi yang mengedepankan interaksi dengan sesama melainkan  berubah menjadi pribadi yang cenderung menutup diri. Sehingga jangan heran jika kerap kali kita dikejutkan dengan kabar tentang maraknya kasus bunuh diri, atau pun kasus pembuangan bayi, seperti yang sering terjadi di kalangan masyarakat kita.

Kehadiran media sosial seperti facebook, twiter, instragram, whatsapp dan sejenisnya, sebenarnya bukan satu-satunya ruang diskusi yang baik untuk melestarikan budaya lejong. Faktor ini yang menjadikan Ende/Ema, Ase/Kae, Om dan Tanta yang seiman, separoki dan sekeuskupan tidak lagi memiliki nilai kesopanan dalam berinteraksi secara nyata (face to face) karena terbiasa dengan komunikasi melalui layar kaca.

Media sosial atau bahasa keren-nya medsos itu sudah menjadi bagian yang sulit terpisahkan dari kehidupan orang manggarai saat ini. Di sisi lain saya paham, media sosial ini menjadi sarana komunikasi jarak jauh yang baik. Baik urusan pekerjaan, maupun sebagai sarana komunikasi dengan orangtua atau kekasih gelap. Tetapi pada dasarnya, kehadiran ruang komunikasi ini dengan tidak langsung menghilangkan budaya  lejong yang dulunya menjadi sarana yang memperat hubungan antara anak dan orangtua, atau antar anak seusianya.

Jadi begini, pertanyaan mendasar dari tulisan ini; kenapa masih banyak masalah yang diselesaikan dengan cara yang tidak wajar? Seperti kasus baru-baru ini. You know-lah! Sudah seharusnya kita menghidupkan kembali budaya lejong untuk memperkecil kasus-kasus yang terjadi di kalangan pelajar, selain melihat dampak kehadiran dunia maya yang mengurangi sifat sosial dan empati antar masyarakat kita. Faktor perubahan sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan pola pikir seseorang dalam hal berinterasi.

Perubahan sifat sosial ini merupakan dampak dari lahirnya teknologi canggih. Namun terkadang kita sebagai ‘uwa weru’ lupa kalau sebenarnya sosial media yang selalu dipuji itu, bisa saja membawa kita kedalam sebuah tantangan yang cukup serius.

Namun sangat disayangkan, kaum muda (uwa weru) sudah terlanjur jatuh cinta dan dengan mudah memilih ruang di media sosial sebagai pemuas dari berbagai macam kebuntuhan hidup. Akibatnya budaya lejong perlahan hilang dan kian terkubur bersama keriuhan arus glabalisasi dan trand masa kini.

Suatu hal yang perlu diingat; “Tidak semua hal dapat terselesaikan dari media sosial. Ada hal-hal tertentu yang tidak memiliki solusi dari dunia maya selain lejong”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *