Ternyata Ibu Kota Tidak Seindah yang Saya Pikirkan Dahulu

 603 total views,  2 views today


Nando Sengkang|Redaksi


Saat ini, saya tinggal di Ibu Kota. Orang Timur menyebutnya “Mama Kota”. Orang Salutabang di pelosok Sulawesi Barat sana, tempat saya pernah belajar dan bermisi tahun 2016, menyebutnya “Indo Kota”. Semua punya sebutan khas, tanda keunikan setiap budaya. Keunikan itu, sebenarnya membuat kita semakin sadar, bahwa kita negara multikultural.

Ibu Kota punya gema tersendiri. Misalkan, kalau kita menyebut; kuliah di Ibu Kota, bekerja di Ibu Kota, jalan-jalan ke Ibu Kota. Mendengar sebutan itu, orang di kampung sana geleng-geleng kepala, tanda kagum atau tidak tahu apa-apa. Sebab, Ibu Kota ibarat “Surga Duniawi”. Dengan demikian, yang pernah tinggal atau datang sebentar di Ibu Kota, seperti sudah menginjak dan merasakan surga—tempat yang diimpikan oleh para orang saleh.


Di kalangan mahasiswa, setiap yang berkuliah di Ibu Kota, mau tidak mau, suka tidak suka, akan mendapat label “Keren” dan “Wow”—Pelabelan ini juga agak rumit untuk kita bongkar asal-usulnya. Tetapi sebagai salah satu mahasiswa di Ibu Kota, saya juga kurang yakin bahwa saya lebih keren dari Mahasiswa dari wilayah lain di Indonesia.

Kadang juga memalukan. Kenyataan ini, tak ada bedanya jika memilih kuliah di UKI St Paulus Ruteng atau di Kupang sana. Bahkan, kualitas di sana jauh lebih baik.


Saya awalnya sungguh bersemangat ketika akan menempuh pendidikan di Ibu Kota. Siapa yang menyangka, anak kampung dari pelosok Manggarai Timur sana, bisa mencicipi nikmatnya Ibu Kota. Saya mensyukuri ini semua.

Namun, seiring perjalanan, kurang lebih 3 tahun berada di Ibu Kota, saya merasakan sesuatu yang lain. Dari subuh kita akan melihat pemandangan aneh, motor dan mobil sudah menumpuk di jalanan, langit cerah selalu ditutup awan polusi, dan lampu lalu lintas hanya menjadi penghias jalan. Macet, polusi, sampah di mana-mana, sungai tercemar, adalah wajah Jakarta under cover.


Wajah under cover dari Ibu Kota benar-benar saya alami. Pasalnya, sejak Juni 2018-Juni 2019, saya mendapat kesempatan untuk mengajar anak-anak jalanan di samping rel kereta api Manggara-Jakarta. Tempat tinggal mereka sangat kumuh. Sebenarnya, tidak layak untuk dijadikan hunian. Sampah, lalat, dan canda tawa menjadi pelengkap hidup mereka yang miskin itu. Inilah kenyataan di balik wajah Ibu Kota yang kian modern. Siapa yang tahu?


Kota akrab dengan sebutan “kemajuan”. Karena alasan ingin maju dalam hidupnya, orang-orang terobsesi datang dan berjuang di kota. Kata “kemajuan” yang saya maksud di sini senada dengan “kesuksesan”. Singkatnya, ingin sukses dan lebih maju, maka banyak yang beralih dari desa ke kota.


Realitas di Ibu Kota tidak semulus jalan tol. Ribuan anak jalanan, pemulung, pengamen, dan orang-orang yang tinggal di bawah kolong jembatan, merupakan korban judi yang tak beruntung. Alih-alih menjadi orang kaya dan sukses, rumah bertingkat, makan di restoran, punya mobil, toh, hanyalah utopis belaka. Impian yang tetap menjadi impian.


Kenyataan ini yang saya alami ketika bergabung bersama komunitas PSE (Pengembangan Sosial dan Ekonomi) paroki Kristus Salvator-Slipi. Komunitas ini adalah tanda Gereja membuka mata, mengulur tangan, dan melangkah kaki, terhadap orang-orang miskin—sebagaimana mengikuti amanah Sang Guru.

Setiap Sabtu, saya dan beberapa anggota PSE, menyusuri sudut-sudut sempit jalanan Ibu Kota, mencari rumah-rumah yang akan diberikan bantuan. Kebanyakan rumah yang dikunjungi adalah para perantau yang datang bergulat di Ibu Kota. Impian menjadi petarung pemenang, nyatanya membuat mereka hanya menjadi korban penunggu bantuan.

Misalkan, eyang Maliance, seorang wanita tua yang kami jumpai dalam kesendirian. Saat ini, teman hidupnya adalah kesepian, sebab, orang-orang yang dicintainya telah pergi entah ke mana.

Lainnya, Ibu Mega yang hanya duduk di atas kursi roda. Dia tidak sendirian, sang suami setia menemani 24 jam di sisinya. Namun, sang suami harus rela tidak bekerja, sehingga yang menjadi tulang punggung keluarga adalah putri tunggal mereka. Usianya sekitar 20-an, namun sudah memikul tanggung jawab yang besar.


Hidup di Ibu Kota demikian pelik. Jika tidak berjuang dengan gigih, maka nasib yang kejam akan menjadi teman perjalanan. Jika tidak menjadi petarung sejati, maka Ibu Kota yang kian kejam ini akan membunuhmu.

Hidup di kota itu susah. Namun, tidak selamanya. Unek-unek di atas adalah salah satu sisi dari fenomena yang saya amati dan alami. Sedangkan, di sisi lain, Ibu Kota juga asyik. Ibarat seorang ibu, kota ini telah memberikan ribuan pengalaman dan sesuatu yang baru. Salah satunya, adalah seni berelasi dengan yang berbeda, khusus agama, dan masih banyak hal lainnya.


Sebenarnya, rasa susah atau asyik itu relatif. Tergantung bagaimana cara kita menikmatinya. Cara menikmati, inilah tawaran tulisan ini. Namun, banyak kita sering kebingungan dalam menemukan cara menikmati hidup ini. Kita lebih suka mengikuti cara-cara yang ditawarkan oleh yang lain.

Cara-cara para motivator itu baik, namun akan berbahaya jika kita tidak mampu memotivasi diri sendiri. Jika selamanya, kita berpegang pada semburan kata manis para motivator dan orang-orang yang menjadi pegangan, secara tidak langsung kita telah menjadi hamba dari itu semua.

Karena itu, temukan gaya menikmati hidup versi pembaca sendiri. Dengan gaya sendiri, kita menjadi lebih bebas dalam berekspresi mengenai hidup yang kian pelik. Akhirnya, selamat menikmati dengan senyuman yang manis.

1 thought on “Ternyata Ibu Kota Tidak Seindah yang Saya Pikirkan Dahulu

  1. Th 90 an siapa yg tidak pengin ke Jakarta..? Kota dgn predikat ‘masa depan’ buat para lulusan. Dan betapa bangganya saat itu bisa kerja di Jakarta. Kalo pas pulang kampung..bukan kita hanya yg bangga, saudara pun pada membanggakan. Dikalangan teman kuliah pun mereka menempatkan pada posisi ‘tertentu’ untuk yg kerja di Jakarta.
    Padahal di Jakarta adalah tempat bertempur dari pagi sampai malam. Menembus kemacetan dan bersaing dgn angkot yg sesukanya.
    Kalo dulu kerja di Jakarta identik dgn kemapanan/ materi ternyata tdk juga ..dan teman yg hidup dikampung pun secara materi ada yg lbh baik dibanding di Jakarta.
    Setelah 30 th menjalani kehidupan di Jakarta..mau tdk mau inilah jalan kehidupan saya. Disinilah saya menemukan Kelg dan membetuk karakter anak2. Disinilah saya ketemu dgn teman2 di lingkungan yg kebanyakan dari daerah juga, yg menumbuhkan semangat persaudaraan yg luar biasa.
    Pada akhirnya saya ikutin dimana kehidupan ini akan mengalir..dan ikhlas menjalani.
    Tetap semangat dan jaga kesehatan.. BD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.