Tetap Tenang: “Obat” Penawar dalam Pandemik

 362 total views,  1 views today


Petrus L. Putra|Kontributor

Tetap tenang’ adalah satu frasa yang semestinya direnungkan oleh masyarakat kita yang sedang panik akibat pandemi Covid-19.  Ibarat ampas kopi dalam gelas, harus dibiarkan ‘tenang’ dulu agar bisa mengendap, laku menikmat.  Sebab, jika tidak ampasnya akan mengapung dan si penikmat dan rasa kopinya sama-sama tidak nikmat.

Sekarang ini, masyarakat kita sedang mengalami satu penyakit berbahaya, yaitu penyakit ‘panik’. Akibat dari penyakit ini adalah banyaknya keputusan yang dibuat asal jadi, diluncurkan dengan gegabah, dan akibatnya akan fatal.

 Semua yang terjadi dalam masyarakat kita sekarang ini dibuat dengan sangat ‘panik’ sehingga hasil yang diperoleh bukan suatu ketenangan, melainkan kekacauan dan kehancuran. Contoh yang terjadi di Flores, khususnya Manggarai dan Manggarai Barat. Masyarakat Manggarai takut terkontaminasi Covid-19, sehingga jalur transportasi darat di perbatasan Manggarai dan Manggarai Barat ditutup. Tentunya keputusan yang dibuat oleh masyarakat atau pemerintah Manggarai adalah keputusan asal jadi, dan diluncurkan dengan sangat panik dan gegabah, akhirnya hasil yang diperoleh bukan suatu ketenangan, melainkan kericuhan. Kedua masyarakat saling bentrok.

Selain terjangkit penyakit Covid-19, kita juga sedang terjangkit oleh penyakit berbahaya lainnya yaitu ‘panik’. Sebelum suatu keadaan dipahami dengan baik, orang suka menanggapi dengan panik, sehingga yang terjadi adalah salah arah. Ibaratnya, kacamata yang dipakai oleh masyarakat kita saat ini adalah kacamata gelap. Hati kita sudah terkontaminasi oleh penyakit ‘panik’ sehingga kita sering takut ketimbang tenang. Otak kita pun telah terserang oleh virus ‘panik’ sehingga kita melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang dan hasilnya akan kacau.

Asalnya dari Mana?

Lantas pertanyaan adalah mengapa ‘panik’ terjadi? Hemat saya, ‘panik’ terjadi karena pemikiran logis lenyap. Akal sehat tertutup kabut emosi. Kecemasan mendorong manusia ke naluri purbanya, yakni menyelamatkan diri dengan segala cara. Menurut Reza A.AWattimena, pertanyaan yang perlu direnungkan adalah apakah kita semua sadar akan adanya penyakit ‘panik’ yang sedang menimpa kita sekarang ini? Bagaimanakah cara menyembuhkan penyakit ini? Penyakit ‘panik’ kalau dianggap sepele akan berujung pada kehancuran. Kita tidak mati karena ganasnya Covid-19 tapi kita dibunuh oleh penyakit yang selama ini kita abaikan yaitu ‘panik yang berlebihan’.  Berikut ini adalah tawaran Ibarat obat penenang.

Ketenangan batin sebagai “obat” yang mujarab

       Masyarakat kita sekarang sedang membutuh obat yang manjur untuk menghilangkan penyakit ‘panik’ yang selalu menghantui kita. Kita membutuhkan obat penenang untuk menjadi lebih tenang. Masyarakat kita sedang tidak tenang. Kita sedang dihantui oleh kepanikan. Kita sedang saling mempersalahkan satu dengan yang lain. Dengan demikian, dalam keadaan panik seperti ini, tetap tenang adalah salah satu obat yang paling mujarab. 

       Obat yang paling manjur adalah ‘tenang’, khusus tenangkan batin. Kalau batin kita tidak tenang, hasilnya adalah kekacauan dalam seluruh pola laku kita. Segala keputusan yang kita ambil hasilnya akan berantakan. Karena itu, dalam menghadapi penyakit ‘panik’, kita harus menenangkan batin kita. Sehingga segala keputusan yang kita buat akan menghasilkan sesuatu yang jernih, terang, dan benar, karena terlahir dari batin yang tenang.

  Selain menenangkan diri sendiri, sosok pemimpin yang kuat harus hadir dan membuat masyarakat tetap tenang dan selalu tenang. Pemimpin tersebut harus mampu berpikir kritis dan jernih di dalam memahami keadaan masyarakat yang sedang panik. Seorang pemimpin tidak boleh terjerumus dalam tekanan arus kepanikan. Dengan demikian, seorang pemimpin harus mampu membawa masyarakatnya pada ‘ketenangan batin’ khususnya dalam situasi pandemik ini.  Di sisi lain, masyarakat juga harus berani berpikir dan berbuat sendiri untuk melawan penyakit ‘panik’ tersebut tanpa selalu bergantung pada sosok pemimpin. Akhirnya, semoga penyakit ‘panik’ ini segera berakhir dan kita akan kembali dalam arus ketenangan. Ingat, “Tetap Tenang”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.