Tidak Bisa Hidup Tanpa Mengandalkan Tuhan

Tuhan Perisaiku.

 304 total views,  1 views today


Mario F. Cole Putra | Kontributor

Suatu ketika, di Rentung, Cancar,  Mama Marta hendak ke paroki. Tujuannya ke paroki adalah bertemu pastor paroki guna membicarakan tentang situasi rumah tangga dari anak seraninya. Mama Marta hendak meminta pertimbangan dari pastor paroki, sebelum ia membicarakannya dengan anak seraninya.

Waktu masih terlalu pagi. Pater di paroki juga pasti masih santai-santainya dengan  menikmati udara pagi. Jadi, Mama Marta tidak mau terlalu terburu-buru ke paroki untuk menceritakan uneg-uneg dari keluarga anak seraninya. Oleh karena itu, sebelum berangkat ke paroki, Mama Marta memastikan sudah mempersiapkan makan siang.

Setelah mempersiapkan makan siang, Mama Marta berangkat ke paroki. Mama Marta tidak pergi sendirian. Dia pergi bersama Jio. Jio adalah anak dari anak seraninya. Mereka selama ini tinggal di Kota Ruteng. Tetapi karena adanya permasalahan dalam rumah tangga, Jio dititipkan di rumah orangtua serani, agar Jio tidak terganggu dengan masalah yang dihadapi orangtuanya.

Jio adalah anak yang cukup aktif. Umurnya baru sekitar 5 tahun 7 bulan. Ya, namanya juga anak-anak, pasti kehendak untuk ingin tahu banyak tentang dunia membuat mereka banyak bertanya kepada orangtua. Kadang, pertanyaan mereka sulit untuk dijelaskan oleh orangtua mereka sendiri.

Belum seberapa langkah jauhnya dari rumah, Jio sudah bertanya.

“Nenek, itu apa?” Tanyanya sambil tarik-tarik tangan nenek.

“Itu kolam ikannya Om Bertus. Itu namanya ikan mas.”

“Itu ikan?”

“Iyo nana reba”.

“Kenapa ikan hidup di kolam?”

“Itu karena ikan tidak bisa hidup tanpa air. Kalau tanpa air, ikan tidak bisa bernafas”.

Jio hanya bergumam mendengar penjelasan Mama Marta. Namun, sambil bergumam, Jio melempar pandangannya ke arah pohon beringin besar yang terletak tepat di depan SDK Rentung dan di samping lapangan Gereja Paroki. Pohon itu sudah lama sekali ada di situ.

“Nenek, kalau pohon yang besar itu bisa hidup di kolam?” Tanya Jio sambil menunjuk ke arah pohon beringin besar itu.

“Hehehe. Nana, kalau pohon tidak hidup di kolam. Pohon tumbuhnya di tanah. Kalau pohon tak bisa hidup tanpa tanah, walau tanah sendiri bisa hidup tanpa pohon.”

“Kenapa pohon tidak bisa seperti ikan?”

Mama Marta kalang kabut mendengar pertanyaan receh dari Jio. Belum pernah ada yang menanyakan hal kecil seperti itu. Tetapi, bocah ini benar-benar mengganggu otak Mama Marta. Sulit bagi Mama Marta untuk membayangkan, baru saja keluar dari rumah, pertanyaan seperti itu sudah benar-benar mengusik telinganya. Perjalanan yang ada nantinya hanya berisi pertanyaan-pertanyaan Jio di dalam bemo, pun begitu ketika di paroki, dan dalam perjalanan pulang ke rumah. Kepalanya bisa pecah gara-gara pertanyaan Jio.

“Itu karena ikan bukan pohon, dan pohon bukan ikan.”

Walaupun agak terusik dengan pertanyaan-pertanyaan Jio yang tidak terduga itu, Mama Marta tetap menghormati Jio. Mama Marta tak memarah-marahi Jio yang terlalu banyak bertanya. Mama Marta mengerti kalau umur kanak-kanak seperti Jio memang banyak bertanya. Apalagi, anak-anaknya dulu juga demikian. Mereka benar-benar ingin mengetahui banyak hal, sehingga pertanyaan-pertanyaan mereka sungguh di luar dugaan orang dewasa.

Mama Marta dan Jio hampir mencapai cabang tempat masyarakat Rentung menunggu bemo. Akan tetapi dari jauh, muncul Om Nius. Om Nius ini sudah sepuluh tahun menderita gangguan jiwa. Terkadang Om Nius tampak seperti orang waras pada umumnya dan baik-baik saja. Jam-jam onar jiwanya Om Nius itu pukul 08.00-11.00 dan sore hari pukul 15.00-17.00. Hampir semua warga Rentung sudah hafal jam-jam itu.

Kebetulan waktu itu Mama Marta dan Jio keluar dari rumah pukul 10.00. Karena jalannya santai, mereka tiba di persimpangan pukul 10.30. Jam sakit jiwanya Om Nius pulih. Saat itu, Om Nius hanya bercelana pendek. Ia tak menggunakan baju, di tangan kanannya ada puntung rokok Surya 12. Rambutnya urak-urakan. Om Nius berjalan seperti hewan berkaki empat, tangannya turut menopangnya dalam melangkah.

“Ya Tuhan, saya orang baik di atas muka bumi ini. Kalau saja ada rokok, saya tak akan menangis. Dunia ini menjadi milik saya. Saya menjadi orang yang paling bahagia!” Teriak Om Nius tanpa mempedulikan siapapun di sekitarnya.

“Nenek, Jio takut!”

“Tetap tenang, Nana. Om Nius tidak akan menganggu kita.” Tutur Mama Marta sambil menggendong Jio.

Omongan Mama Marta benar. Om Nius tidak mengganggu mereka. Jio sendiri tampak ketakutan melihat gelagat aneh dari Om Nius sehingga dia memeluk Mama Marta dengan erat. Namun, di kepalanya muncul pertanyaan tentang Om Nius yang tingkahnya berbeda dari orang kebanyakan.

“Nenek, itu siapa?”

“Itu Om Nius”

“Dia kenapa?”

“Dia kadang gila, kadang tidak gila. Tapi, sekarang dia gila,” jawab Mama Marta sambil tersenyum melihat wajah Jio yang kelihatan heran bercampur takut.

“Kenapa dia gila?”

“Om Nius itu, dulu paling malas ke Gereja”.

“Kalau malas ke Gereja nanti jadi Om Nius?”

“Iya, Nana. Setiap hari kita ke Gereja, supaya dekat dengan Tuhan. Supaya jadi orang baik.”

Om Nius sudah merangkak cukup jauh dari arah mereka. Orang-orang yang di sekitar persimpangan hanya bisa menonton tingkah aneh dari Om Nius.

“Kasian, Nana Nius. Kalau dulu dia rajin ke Gereja, mungkin nasibnya tak seperti sekarang. Dulu ia tukang mabuk dan selingkuh. Ujung-ujungnya dia sakit jiwa. Kasian Bapa Nius dan Mama Nius. Kita tidak bisa hidup tanpa mengandalkan Tuhan. Kalau saja kita tak mengandalkan Tuhan, maka hidup kita akan tersesat,” gumam Mama Marta dalam hatinya.

Teriring rasa iba, Mama Marta menggendong Jio dan melanjutkan perjalanan ke paroki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.