Tim Garuda, Juventus dan Italia; Kesedihan Beruntun yang Bikin Saya Fokus Nonton OMK Cup Saja

 213 total views,  3 views today


Krisan Roman|Redaksi

Rasa-rasanya baru kemarin kita semua yang muka lucu ini bersedih sebab tim kebanggaan kita, timnas Indonesia  harus kembali menelan kekalahan di final AFF Suzuki Cup. Kenyataan menyedihkan yang bukan baru sekali dialami timnas Garuda. Dalam banyak sekali pertandingan final piala AFF yang dimainkan, Indonesia belum sekali pun menang dan keluar sebagai juara. Sejak Piala AFF digelar pada 1996, Indonesia sudah enam kali melangkah sampai di partai final. Pada enam kesempatan tersebut, Indonesia selalu menjadi pihak yang hanya mampu keluar sebagai runner up.

Sesungguhnya, enam kali jadi runner up Piala AFF merupakan rekor tersendiri. Tidak ada negara di Asia Tenggara yang pernah menjadi penghuni peringkat kedua sebanyak Indonesia. Kenyataan ini sangat cocok dengan julukan Tim Spesialis runner up yang kepada Timnas Indonesia disematkan oleh netizen yang budiman. Namun kembali lagi, target utama semua tim yang bertanding pada turnamen apa saja tentunya adalah menjadi juara. Bahkan satu kali keluar sebagai juara, jauh lebih memuaskan ketimbang enam atau bahkan puluhan gelar runner up. Pun para penggemar, mereka tentu akan kecewa berat bila tim jagoannya tidak pernah jadi juara. Apalagi jika selalu kalah saat tanding di laga final. Selalu kalahnya sampai enam kali pula. Duh, Nyai.

Seumpama luka, belum sembuh satu, muncul lagi yang baru. Kalimat tersebut agaknya cocok bagi kami, suporter timnas Indonesia yang juga mendukung Juventus. Klub kebanggaan kota Turin, Italia, berjuluk Si Nyonya Tua tersebut oleh netizen yang budiman juga diberi julukan Tim Spesialis Runner Up, karena pencapaian tujuh kali runner up di Liga Champions Eropa. Dalam sembilan pertandingan partai puncak yang mereka mainkan, hanya dua kali Juventus keluar sebagai pemenang; sejarah indah yang terjadi sudah lama sekali. Pada tahun 1985 dan 1996 itu saya bahkan belum lahir.

Saat ini, Juventus benar-benar menjadi oma-oma renta yang tak punya daya dan tenaga lagi dalam perhelatan Liga Champions Eropa. Bagaimana tidak, dalam tiga tahun belakangan, Juventus selalu kandas di babak enam belas besar. Sebuah fakta yang wadadidaw mengingat Juve adalah tim yang paling banyak mengoleksi gelar domestik di Italia.

Nyonya Tua yang kemarin dipaksa beres-beres koper lebih awal oleh pasukan Kapal Selam Villareal, melanjutkan catatan buruk mereka yang terjadi pada dua musim ke belakang. Musim kemarin, Juventus juga gugur di babak enam belas besar. Kala itu, langkah tim racikan Andrea Pirlo dihentikan oleh Porto. Juventus kalah dengan skor 2-1 pada leg pertama di markas Porto. Pada leg kedua, Juventus menang 3-2 pada extra time. Agregat menjadi 4-4. Sayangnya musim lalu masih berlaku aturan gol tandang. Juventus kalah produktif dari Porto pada laga tandang. Juventus gulung tikar, Porto melaju ke babak perempat final. Ya, Porto! Porto yang itu! Betul! Duh, Juve.

Musim 2019/2020, Juventus lagi-lagi kalah dengan agregat gol tandang. Berjumpa Lyon, Juventus kalah 1-0 di markas lawan. Lalu, mereka menang 2-1 di Turin. Agregat menjadi 2-2 tetapi Lyon mencetak gol lebih banyak di kandang lawan. Alhasil, Lyon berhak lolos ke putaran selanjutnya. Di musim ini Juventus lagi-lagi dilumat tim imut-imut lucu. Menyedihkan.

Sebetulnya di awal turnamen musim 2020/2021 ini, harapan Juventus untuk mampu bersaing lebih jauh di Liga Champions sangat kecil. Hal tersebut didasari oleh penampilan mereka yang kurang konsisten di liga domestik. Apalagi didukung oleh penampilan yang kocak di dua musim sebelumnya. Namun rasa percaya diri itu muncul lagi mengingat pada tahun 2015 lalu, banyak yang menyangsikan peluang Juventus melaju ke babak final karena baru ditinggal Antonio Conte. Tetapi pada akhirnya, mereka bisa membuktikan diri dan sampai ke partai terakhir sebelum dikalahkan Barcelona. Tetap tak mampu juara sih, tapi untuk tim dengan performa yang pas-pasan di liga domestik, berhasil jadi runner up Liga Champions adalah hal yang patut disyukuri, setidaknya oleh penggemarnya sendiri. Hal ini menjadi angin segar yang seolah memompa semangat untuk kembali optimis. Eh, malah dijegal tim papan tengah Spanyol, Villareal.

Dipulangkan Villareal musim ini memperpanjang kenyataan pahit bagi Juventus. Selain gagal masuk delapan besar dalam tiga musim beruntun, tiga musim yang sama juga Juventus selalu dipulangkan oleh tim yang di atas kertas mampu mereka kalahkan, namun ternyata di atas lapangan tidak demikian. Kenyataan ini akhirnya memperpanjang tradisi bully bagi kami-kami ini. Tapi mau bagaimana lagi. Toh, bukan Juve namanya bila tak membadutkan diri di Liga Champions Eropa.

Kita bergeser ke Timnas Italia. Di level tim nasional, selain mendukung Tim Garuda, tidak lengkap rasanya bila tak menjagokan tim dari negara di benua Eropa atau Amerika. Hal ini didasari alasan sederhana, karena Indonesia tidak bermain di Piala Dunia.

Menjagokan Timnas Italia mestinya menjadi penawar bagi capaian dua tim yang dibahas sebelumnya mengingat Italia merupakan salah satu tim nasional yang paling sukses dalam sejarah sepak bola dan Piala Dunia. Tim berjuluk Gli Azzuri ini memenangkan empat gelar Piala Dunia (1934, 1938, 1982, 2006), dan dua kali keluar sebagai runner up tahun 1970 dan tahun 1994. Italia juga telah memenangkan dua Piala Eropa UEFA di tahun 1968 dan tahun 2020 kemarin, serta memjadi runner up di dua final lainnya yakni tahun 2000 dan 2012.

Namun tentu saja, saya tidak akan menulis artikel menyedihkan bila tim jagoan saya yang satu ini tampil sesuai harapan. Rupanya menjadi kampiun Piala Eropa UEFA 2020 tidak menjamin mulusnya jalan Italia untuk bermain di Piala Dunia 2022.

Italia takluk 0-1 dari Makedonia Utara dalam laga playoff zona Eropa di Palermo. Hasil ini membuat Gli Azzurri harus absen dua kali beruntun di Piala Dunia. Empat tahun silam, mereka juga hanya menjadi penonton. Padahal, sebagian besar skuad ini diisi para pemain yang mengantarkan Italia juara Euro 2020 di Inggris pada delapan bulan yang lalu. Tim ini juga adalah tim yang menorehkan sejarah dengan catatan tak terkalahkan di 37 laga beruntun.

Badai cedera menjadi alasan yang mendasar mengapa Italia tiba-tiba langsung terseok-seok. Mesti diakui bahwa memang usai Euro 2020, satu per satu penggawa Italia andalan Mancini cedera bergiliran, termasuk Chiesa, idola semua umat Juventus yang absen hingga akhir musim. Sialnya, hal itu juga terjadi di level pemain pelapis macam Pessina, Pellegrini, atau Bernardeschi. Jelas sekali akibatnya Mancini sangat susah untuk kembali merakit tim yang komplit. Memang terdengar seperti pembelaan, tetapi nyatanya demikian. Gelombang cedera yang tak tahu ampun telah mengacaukan keseimbangan Italia.

Selain itu, Italia juga kekurangan striker yang konsisten bikin gol. Immobile dan Insigne sudah tak mencetak gol sejak Euro 2020, padahal ada sembilan laga yang dijalani setelah itu. Sedangkan Berardi cuma mencetak satu gol lewat penalti. Meski begitu, Mancini terus percaya kepada ketiganya. Aneh betul si Mancini ini. Kalau saja Dhony Djematu, Itok Aman atau Im Kartini warga negara Italia, bolehlah dicoba gantikan tiga striker loyo ini. Itu juga kalau Mancini mau.

Setelah Italia dipastikan tidak lolos ke putaran final piala dunia, maka tak ada lagi tim jagoan yang diharapkan. Sebagai penggemar Squad Garuda, Juventus dan Gli Azzuri, tahun ini menjadi tahun yang tidak mudah. Sebetulnya setiap tahun karena Juventus lawakannya konsisten. Tetapi soal Juventus kami sudah biasa.

Pertandingan-pertandingan ke depan menjadi tidak menarik tanpa tim-tim yang dijagokan. Tanpa Juventus, Liga Champions Eropa bagi kami tak lebih menarik dari pertandingan tarkam. Pun tanpa Italia, apa jadinya Piala Dunia? Tidak ada pertandingan yang layak dinantikan. Memang benar kata seorang teman, sambil menunggu musim ini selesai, baiknya kita fokus nonton OMK Cup di Mombok saja dulu. Mombok? Di mana itu? Ya, di Mombok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.