Tolak Tambang tapi Gaya Hidup Merusak Alam; Dasar Aku

 1,643 total views,  2 views today


Krisan Roman|Redaksi

Hari yang istimewa, dibuka dengan kepulan asap Dji Sam Soe sisa semalam diiringi alunan musik metal yang menggelegar. Garang sekali. Tidak ada kopi, saya tidak suka. Maunya bir. Lebih keren, kekinian dan tidak kampungan. Apa? Lagu daerah? Hahaha, main gila kah? kau kira ini di kampung? Gaul dikit napa sih!

Tidak sembahyang hari ini. Tempat ibadah ditutup, kan PSBB. Doa sendiri di rumah, tidak konsen. Lebih condong ke malas sebenarnya. Lebih baik bersantai, dengar musik, nikmati rokok. Lebih enak. Tuhan itu maha penyayang. Tanpa kita minta, beliau pasti berikan semua kebutuhan. Lagian, diantara kalian tidak ada yang akan ikut temani saya bertanggung jawab kepada malaikat maut nanti kan? Jadi soal iman, urus masing-masing saja, Bosskyu!

Di sini, kamar yang saya tempati berada di tengah-tengah, diapit manja oleh dua kamar yang lain. Tetangga sebelah kanan adalah pasangan suami istri yang baru menikah, punya bayi lucu berumur delapan minggu lebih beberapa hari, sedangkan kamar bagian kiri disewa wanita paruh baya yang suka sakit-sakitan. Entah benar-benar suka atau terpaksa, saya kurang paham. Pastinya dia sering sekali sakit, begitu. Katanya mengidap asma, tapi tidak tahu juga. Yang beri tahu saya, dia sendiri. Bukan dokter. Dia sendiri bukan dokter, setahu saya. Begitulah, kami semua hanya saling tahu tapi tidak baku kenal. Pun hanya tahu muka. Tampang doang. Nama? Asal? Umur? Tidak sama sekali.

Di tempat ini hanya saya yang tidak memiliki tong sampah. Kamar lain semua punya. Makanya beberapa kali saya diam-diam memasukkan kotoran dari kamar saya ke tong sampah milik mereka. Hanya beberapa kali. Saya lebih sering membuang sampah ke lahan kosong di belakang bangunan kos-kosan ini. Tinggal buka jendela belakang, lalu brughhh, sampah di kamar jadi beres. Ada yang langsung jatuh, ada pula yang melayang-layang dulu, beterbangan perlahan, lalu masuk kembali ke dalam kamar saya, kadang juga kamar tetangga. Biasanya, selepas buang sampah, suara batuk-batuk dari kamar tetangga terdengar. Siapa lagi kalau bukan wanita penyakitan itu. Issh, mengganggu sekali.

Saya orangnya tidak terlalu peduli kalau tumpukan belakang kamar saya menjadi sarang penyakit. Toh, nyamuk, kecoa, lalat atau yang lainnya tinggal dibasmi pakai obat nyamuk bakar. Gampang sekali. Eh, tapi malah tetangga yang mengeluh. Kocak betul. Yang satu tidak bisa pakai obat nyamuk bakar karena penyakitan, yang lain takut pakai obat nyamuk karena anaknya bisa keracunan. Padahal, saya yang buang sampah. Tapi mereka yang sengsara. Hahaha, epen kah? Mereka bukan siapa-siapanya saya juga. Saya tidak peduli.

Beberapa kali saya ditegur. Oleh tetangga saya tentunya. Masa ditegur Dirut Garuda? Kriiiiiiiikkk, tidak lucu sama sekali. Balik lagi, beberapa kali saya ditegur begini, “Mas, tolong sampahnya jangan dibuang ke belakang, di belakang itu bukan tempat sampah, lho. Kalau gak punya tempat sampah, gak apa-apa pake tong kami ini aja. Katanya mahasiswa tapi kok buang sampah sembarangan”, kadang begini, “Mas, volume musiknya bisa dikecilin dikit? Dede lagi tidur. Mas gak hidup sendiri lho di sini”, kadang juga begini, “Mas jangan ngerokok di halaman dong, ibu sama dede lagi berjemur, ibu ini asma Mas. Puntungnya juga, jangan dibuang seenaknya. Buang ke tempat sampah, dong. Jangan merusak lingkungan”. Semua teguran itu hanya saya dengar. Tidak mau saya ikuti. Heran, kenapa orang sekarang suka sekali atur-atur hidup orang lain. Omong ini, omong itu. Kritik ini, kritik itu. Memangnya saya ini apa? Pemerintah Orde Baru? Huh!

Heh? Pemerintah? Oh ya. Ais, saya jadi ingat kemarin ada yang tanya saya soal tambang dan pabrik semen yang sedang ramai itu. Meski gaya hidup saya begini, kalau ditanya soal tambang, jelas saya tolak lah. Seratus persen tolak! Sederhana saja, alasan saya begini. Tambang hanya akan merusak lingkungan. Kita telah hidup di tanah yang subur bertahun-tahun. Lingkungan kita jangan sampai tercemar karena aktivitas tambang. Oe Bro, tidak ada tambang yang tidak merusak alam. Camkan itu. Itu pertama. Kedua, tanah Uganda ini, tanah warisan leluhur.  Kemarin ada wacana relokasi pemukiman. Ini pastinya bertolak belakang dengan budaya Uganda. Tidak bisa begitu kah. Kampung punya tempat sakral, peninggalan nenek moyang. Jangan mentang-mentang sudah kenal dunia luar, laku kita lupakan warisan leluhur. Itu tidak baik, Bro. Yang ke tiga soal himbauan Bapa Suci dalam Laudato Si. Beliau sebagai pengganti rasul mengutuk adanya konsumerisme dan pembangunan yang tak terkendali. Beliau juga menyesalkan terjadinya kerusakan lingkungan dan pemanasan global, serta mengajak semua orang di seluruh dunia untuk mengambil aksi global yang terpadu dan segera. Kita harus ikuti itu. Hal apa yang mau kita petik dari tambang dan pabrik ini. Ingat, hidup ini tidak melulu soal dunia. Ada mulut akhirat yang selalu menganga, menunggu waktu kita masuk. Waktunya bisa kapan saja. Jangan terlalu malas tahu kah. Kemudian yang terakhir, sedikit masukan. Saya pikir pemerintah Uganda juga baiknya perlu mendengar aspirasi masyarakat. Jangan seolah-olah tuli di atas sana. Hargai kita-kita ini lah. Kita kan manusia juga! Dengar suara kita-kita kah. Yekan, yekan?

Kalau kalian berpikir saya lakukan ini tanpa sadar, kalian keliru. Saya sebenarnya sadar kebiasaan saya membuang sampah sembarangan termasuk aktifitas merusak alam. Saya sadar kalau kadang saya tidak menghargai budaya dan tradisi. Saya sadar saya tidak begitu patuh terhadap peruntah agama. Saya juga tidak terlalu peduli dengan sesama. Saya juga sadar bahwasannya tidak semua masukan baik dari orang lain, saya dengar dan ikuti. Lalu kenapa saya tolak tambang dengan alasan yang bertolak belakang dengan gaya hidup saya? Nah, ini. Jawaban pertanyaan ini yang juga masih saya cari sampai saat ini. Saya bingung. Kenapa eh? Saya sekedar pencintraan, kah? Cari panggung? Atau hanya sekedar mau dipuji? Atau karena saya egois, makanya orang lain tidak boleh merusak alam, selain saya? Hiss, bingung eh. Ah, tapi sudah. Lupakan saja. Saya malas pikir. Rokok sudah habis. Lagu metal yang saya putar pun demikian. Sekian dulu. Saya mau buka facebook, bikin status tentang tambang dan pabrik. Hihihihiiiw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.