Tombo-tombo Tentang GPB Rentung

437 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini


Teman-teman muda Matim, kali ini saya akan membagikan cerita tentang kaum muda di kampung saya. Ini mungkin cerita kecil saja, tetapi jujur, saya sangat tertarik untuk menulisnya. Apresiasi yang tinggi saya berikan untuk ase-kae saya di Kampung Rentung, Desa Goreng Meni, Lambaleda. Kalau nama desa ini asing, silakan tanya Ichan Pryatno, salah satu punggawa tabeite.com dari Benteng Jawa. Jarak Kampung Rentung adalah sekitar 4 km atau kurang dari 15 menit berkendara motor dari Benteng Jawa, ibukota Kecamatan Lambaleda (jalan cukup jelek, maklum ini di Matim, heheh…).

Seperti biasa, dua kali setahun keluarga kami berkunjung ke Rentung. Tujuan utamanya adalah bakar lilin di pusara leluhur sekaligus merayakan kekeluargaan bersama semua kerabat. Terakhir kali ke sana waktu menjelang pergantian tahun 2018 dan menyambut tahun baru 2019. Waktu itu ramai sekali, dan tidak seperti biasanya, kami melewati natas beo (halaman kampung) yang bersih sekali.

Usut punya usut, dalam jangka waktu beberapa bulan terakhir, Rentung sudah punya satu grup anak muda. Namanya “Generasi Peduli Beo”, disingkat GPB Rentung. Kalau di tempat anda ada grup bernama Karang Taruna, kami di Rentung tidak mau pakai istilah asing itu. Menjelang pergantian tahun, GPB Rentung inilah yang membersihkan jalanan menuju kampung, natas, boa (pekuburan), saluran air, dan tempat-tempat lainnya di wilayah kampung itu.

Generasi Peduli Beo Rentung adalah wadah kaum muda yang tidak terlalu ketat secara organisasi. Anggotanya terdiri dari anak-anak sekolah, mulai dari TK sampai perguruan tinggi, dan kaum muda yang sudah tamat sekolah dan bekerja di sana. “Mengapa Generasi Peduli Beo?”, tanya saya kepada Tuang Guru Daniel Jamid, ketua GPB. “’Generasi’ merujuk pada kaum muda penerus budaya lokal di kampung ini, ‘Peduli’ menjadi semboyan yang memandu kerja sama kami, dan ‘Beo’ menjadi kekhasan kerja kami dalam membangun budaya beo yang maju tetapi tetap berakar pada kekayaan budaya lokal”, tukas Tuang Guru Daniel. Sebagai grup baru yang beranggotakan kaum muda, mereka memiliki nilai semangat dan kerja sama sebagai modal awal.

Saat-saat paling menarik menurut saya adalah waktu pergantian tahun. Pada tahun-tahun sebelumnya, pergantian tahun memang sering diisi oleh upacara adat mulai dari boa, compang, sampai di rumah masing-masing. Tetapi tuak tetap saja jadi primadona yang diutamakan oleh anak-anak muda. Kali ini, GPB merancang kegiatan dengan sangat baik. Malam hari tanggal 30 Desember 2018, diadakan ibadat sabda di compang yang dihadiri oleh semua warga kampung. Anak-anak muda, anak kecil, dan orang dewasa ramai-ramai duduk di tengah kampung, di compang, tepat di depan mbaru gendang.

Selepas ibadat, ada syering pengalaman dari orang tua yang berpengalaman dan perwakilan kaum muda. Semua warga duduk mendengar dengan sangat antusias, sambil ditemani masing-masing segelas kopi dan kue. Mereka benar-benar merasa sebagai satu keluarga besar beo Rentung. Asyikkk…

Tanggal 31 malam, sesuai kebiasaan di kampung itu, ada acara teing hang atau persembahan kepada leluhur, baik di rumah masing-masing, maupun di tingkat kampung. Malam itu, semua warga berjaga sampai jam 00.00, pertanda awal tahun yang baru. Sambil berjaga, ada lantunan musik tradisional dari nggong dan gendang yang ditabuh oleh anak-anak muda disertai nyanyian tradisional nenggo. Jam 00.00, 1 Januari 2019, semua hening dalam doa. Setelah itu lagu dan musik berbunyi semakin meriah sebagai tanda syukur setelah memasuki tahun yang baru.

Bagi saya yang lahir dan besar di tanah rantau (Mano), GPB Rentung menjadi pengingat bahwa orang tua saya dulu punya masa-masa seperti ini. Sepupu-sepupu saya (Arsen, To, Geri, Faik, Fendi, Encik, dll) adalah orang paling beruntung karena merasakan indahnya Rentung, natas bate labar, beo bate elor. Dari mereka, saya membawa pulang pesan-pesan kepedulian, kerja sama, kearifan lokal, sopan santun, kesadaran budaya, dan seterusnya. Di Rentung, hati saya tertambat. Dari Maumere, saya ucapkan salam. Salam banyak untuk kawan-kawan GPB. Terus peduli untuk kemajuan.

Penulis : Anno Susabun|Tuapanga|

1 thought on “Tombo-tombo Tentang GPB Rentung

  1. Mkasih toa Frater. Sesekali rasakan indah dan ramainya kengkar alu di Pau sanda di Tuwa, mbata di Dawung, kengkar alu di Wodong dan gega ceke tinding di Golo Gega. Itu baru lengkap narasinya. Tapi ini baru awal. Jelajahi kampung2 sekitar. Salam dan doaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *