Tuak; Minuman Perdamaian Orang Manggarai

Sumber Foto: surabaya.bisnis.com

309 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Laki minumnya Extrajoss. Sekali kita berada di alam Timur khususnya di Manggarai, kalimat tersebut bisa saja diganti menjadi “Laki, minumnya Tuak”.  Bukan berniat membantah iklan yang telah beredar familiar di kalangan masyarakat yang bertujuan untuk mengajak para konsumen untuk mengkonsumsi Extrajoss. Tetapi sebagian kalangan masyarakat seakan telah menyatu dengan minuman yang syarat akan nilai sosial. Mengapa? Siapa yang tidak mengenal Tuak? Minuman khas yang sangat popular di lapisan masyarakat NTT tersebut mempunyai sebutan berbeda. Misalnya masyarakat Ende akrab dengan sebutan Detu Wollo, masyarakat Ngada akrab dengan sebutan Moke. Meskipun berbeda dalam hal sebutan tersebut, tetapi rasa dan makna simbolis minuman Tuak tersebut sebenarnya sama. Boleh dibilang; nama boleh beda, tetapi soal  rasa tetap sama. Pasalnya minuman sudah terlampau lama dan laris dengan masyarakat NTT. Saking akrabnya, Minuman ini dengan mudahnya kita dapatkan di daratan NTT bahkan lebih mudah mendapatkan Tuak daripada cewek. Lelaki Manggarai pun niscaya tidak pede tanpa Tuak, guys.

Sebelum kita terlampau jauh memeluk minuman khas Tuak, mari sesaat kita mencoba Nunduk Tuak. Minuman Tuak merupakan minuman yang dihasilkan dari aren atau enau. Pada umumnya enau tidak hanya menghasilkan Tuak saja. Karena bagian pohon Enau juga bisa diolah atau membuat sesuatu yang dapat menghasilkan uang, diantaranya; ijuknya bisa membuat sapu (sapu ijuk), daunnya dapat membuat ketupat, tulang daunnya bisa membuat sapu lidi, dan masih banyak lagi. Sebenarnya ada juga yang lebih terkenal, yakni air dari pohon aren atau enau bisa menghasilkan gula merah atau orang Manggarai sering menyebutnya “Gola Malang”. Ko jan pikir gula dari Malang. Itu merupakan gula yang dibuat masyarakat Kolang-Manggarai Barat.  Jadi, soal rasa, tidak diragukan lagi. Sebelasduabelas manisnya dengan enu dan nana Manggarai. Selain itu, gula ini juga dapat dijadikan sebagai campuran pemanis ketika masyarakat Manggarai ingin meracik kopi. Lebih menarik lagi jika kau bawa gula ini sebagai buah tangan saat hendak ke rumah inang-amang. Dijamin kau bakalan dijadikan menantu ideal mereka plus belis akan dikurangi nantinya. Sila coba, guys. 

Kembali pada topik pembicaraan. Konon, orang Manggarai banyak menggeluti pekerjaan bercocok tanam. Di samping itu, ada segelintir orang yang bermata pencaharian sebagai penyadap aren meskipun tidak jarang juga kita temukan mereka menjadikan ini sebagai pekerjaan sampingan. Pasalnya, aren disadap pada waktu tertentu saja. Dan untuk orang yang menekuni pekerjaan ini disebut sebagai ata pante Tuak atau penyadap aren.

Sejatinya, sejak kecil orang Manggarai mengenal beragam nilai dan praktik budaya di lingkungan tempat ia tinggal. Dan berbicara tentang budaya itu mencakup kebiasaan atau segala sesuatu yang berlaku di suatu daerah, di mana manusia sebagai pelaku utama sekaligus pengguna dari budaya. Hal inilah yang membuat manusia tidak bisa dipisahkan dengan budaya  yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang. Berdasarkan fokus tulisan ini; tuak sebagai minuman perdamaian orang Manggarai, maka saya hanya akan mengupas tentang budaya Manggarai yang menjadikan tuak sebagai minuman perdamaian. 

Dalam budaya Manggarai, tuak merupakan salah satu jenis minuman tradisi yang kerap kali digunakan sebagai media atau perantara untuk merekat dan mempererat persaudaraan. Selain itu, tuak juga digunakan untuk memperkuat pesan yang disampaikan. Kendati demikian, tak jarang juga orang mengonsumsinya untuk bersenang-senang saja. Namun, itu tetap tidak meluntur nilai dan eksistensi Tuak ketika digunakan dalam suatu ritual atau hajatan adat. Dimana  tuak dijadikan minuman wajib. Dan yang tak kalah menariknya adalah Tuak disuguhan kepada leluhur sebagai simbolis untuk menghargai roh mereka yang diyakini  hadir saat acara itu berlangsung. Alangkah tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa, Tuak adalah minuman perdamaian, minuman yang tak mengenal batas usia. Tak akrab jika tanpa Tuak. Ngga ada Tuak ga rame. Barangkali demikian slogan yang layak dilontarkan. Di sinilah saya menemukan bahwa Tuak memang pantas dijadikan sebagai minuman perekat perdamaian orang Manggarai. Bukan berarti ketika kita menghadapi sebuah masalah lalu kita menyeruput Tuak dengan demikian masalah itu akan selesai. Tentu saja tidak semudah itu, Ferguso. Yang dimaksudkan disini adalah kemampuan Tuak dalam menghadirkan sebuah makna yang mendalam sebagai perekat perdamaian.

Pada umumnya, ketika Tuak dibaluti dengan berbagai kepentingan, terutama ketika digunakan dalam ritual adat maka disitulah simbol perdamaian akan dimaknai. Salah satu contohnya dalam menyelesaikan perselisihan pendapat antar sesama warga kampung. Orang yang berjiwa besar dan tahu soal adat, tentu saja hal pertama yang dilakukannya adalah gunakan tuak dan melakukan permintaan maaf. Nah, di sinilah Tuak itu memiliki makna luhur yang sangat sakral. Tuak dapat menyatukan kembali hubungan yang retak itu.

 Bukan hanya itu, Tuak juga sebagai simbol keakraban. Orang Manggarai sering menjadikan tuak sebagai konsumsi utama ketika akan melaksanakan acara-acara adat atau berkumpul bersama teman sejawat. Sekadar saran, jangan terlalu banyak mengkonsumsi Tuak. Sebab ko bisa saja mabuk sampai lupa pacar diri. Kalah lagi mabuk cinta karena ditinggalkan saat ko merasa nyaman dengannya.

Penulis: Dhony Djematu|Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *