Tuhan Tidak Pandang Fisik

Gambar: Pixabay.com

Loading


Apri Bagung II Redaksi





Salah satu fenomena menarik, namun sangat tidak etis yang terjadi belakangan ini yakni Gereja seolah dijadikan sebagai panggung untuk memeragakan pakaian (fashion show). Pakaian dan segala aksesoris yang dikenakan oleh umat saat menghadiri misa hari raya besar tak jarang menjadi perbincangan hangat lantaran tak sekali memberi kesan berlebihan.

Pada perayaan Ekaristi Hari Minggu biasa, pemandangan yang demikian mungkin jarang terlihat. Umat umumnya masih mengenakan pakaian dan aksesoris yang wajar sebagaimana mestinya ketika menghadiri perayaan Ekaristi. Tetapi jika diamati pada perayaan Ekaristi saat Natal dan Paskah, segala yang dikenakan umat jauh berbeda.

Perayaan Natal dan Paskah tidak lagi dianggap sebagai perayaan besar yang menuntut penghayatan dan kekhusyukan, tetapi menjadi ajang pamer segala sesuatu yang serba baru. Jelang perayaan Natal dan Paskah mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut harus tampil baru. Rambut keriting menjadi lurus, rambut yang sebelumnya berwarna hitam mengalami perubahan warna, make up lama diganti dengan yang baru, mengenakan baju baru yang sering disebut ‘baju Natal atau Paskah’, mengenakan perhiasan baru, sepatu baru dan segala sesuatu yang serba baru.

Dengan melihat kenyataan yang dipaparkan di atas, saya menyimpulkan bila perayaan-perayaan besar orang Katolik dimaknai sebagai ajang pamer segala yang baru. Padahal segala yang baru itu tidak menjadi penentu terkabulnya doa atau permohonan.

Di dalam Gereja, tidak ada doktrin yang mengajarkan bahwa barang siapa yang tidak tampil baru secara fisik saat perayaan besar, doanya tidak terkabul. Tidak ada ayat di dalam kitab suci yang menulis bahwa saat perayaan besar, murid Yesus mengenakan baju baru, sepatu baru dan barang baru lainnya.

Tampil maksimal saat berangkat ke rumah Tuhan tentu menjadi keharusan bagi siapapun. Tetapi tampil maksimal tidak berarti harus berlebihan. Tampil maksimal tidak berarti harus mengenakan barang serba baru. Alasannya satu, Tuhan tidak pandang fisik.

Pandang fisik menjadi frasa yang akrab di telinga siapapun saat ini. Pandang fisik umumnya bertalian erat dengan kisah asmara. Kalau lawan jenis memuji penampilanmu, itu yang disebut pandang fisik. Mengutip Opa Sujiwo Tejo, yang seperti itu bukan cinta tetapi kalkulasi. Sebenar-benarnya cinta adalah tanpa karena. Cinta bukan cinta kalau karena penampilan fisik.







Persisnya Tuhan mencintai tanpa karena. Maka yang harus digarisbawahi, segala barang baru yang kita kenakan selama mengikuti perayaan-perayaan besar di Gereja sama sekali tidak memengaruhi cinta Tuhan kepada kita, begitupun sebaliknya.

Saya sendiri merasa sangat dicintai Tuhan, meskipun kemarin saat ikut perayaan Pekan Suci, saya hanya mengenakan baju yang dibeli setahun yang lalu. Sepatu juga demikian. Bahkan saat perayaan hari Paskah, saya hanya mengenakan sandal yang mereknya tidak elok bila disebut di dalam catatan ini.

Tentu saja tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan atau memosisikan diri sebagai orang yang harus diteladani. Itu bukan maksud saya. Sama sekali saya tidak bermaksud untuk itu. Yang pasti saya menjamin, Tuhan tidak akan menjauhi orang yang tidak tampil baru dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Antara cinta Tuhan dan cintanya si dia perbedaannya amat mencolok. Cinta Tuhan selalu tanpa karena, sementara cinta dari nana dan enu seringkali pandang fisik. Tiba-tiba hilang setelah memberi harapan. Cuuuaaakkksss!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *