Tumbangkan Tambang atau Tumbangkan Masa Depan Anak, Cucu Kita?

 540 total views,  1 views today



Yunii Narmi|Redaksi

Isu lingkungan bukanlah isu baru dalam hidup bermasyarakat. Walau begitu, tidak sedikit masyarakat ikut terlibat dalam merespon isu-isu tersebut. Lingkungan baik dalam makna alam, keadaan sosial dan ekonomi secara disadari maupun tidak, memiliki suatu keterikatan yang cukup erat.

Isu yang paling saya minati adalah isu lingkungan. Selain saya, teman-teman yang tertarik dengan isu ini juga tidak sedikit. Lingkungan adalah tempat tinggal, memperjuangkan tempat tinggal agar jauh dari keserakahan orang-orang berkepentingan adalah sesuatu yang kami sebut “perjuangan”. Perjuangan ini bisa dalam bentuk individu bisa juga dalam wadah organisasi.

Banyaknya pabrik yang dibangun saat ini membuat saya dan teman-teman yang peduli lingkungan tadi menunjukkan “taji. Melayangkan protes, memberikan edukasi pada masyarakat terdampak bahkan jika kondisi memungkinkan akan turun ke jalan, melawan kelakuan orang-orang yang memiliki kepentingan terkait pembangunan pabrik ini.

Pabrik mana kah yang saya maksud ini? Ah kalian pasti tahu lah.

Secara ekonomis, pabrik ini menjanjikan uang yang berlimpah bagi masyarakat setempat dengan pelbagai istilah dari pihak pabrik tentunya. Bisa dengan menyebut uang pembebasan lahan, uang relokasi kampung, bisa dalam bentuk biaya pendidikan anak dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain yang menggiurkan. Ahay, cari di mana lagi uang dalam jumlah yang begitu banyak dan datang secepat kilat. Seperti mimpi di siang bolong bukan?

Yang lebih wow lagi, masyarakat dijanjikan lapangan pekerjaan di pabrik tersebut nantinya. Diberi upah setiap bulan dan mungkin pihak pabrik menjanjikan angka yang fantastis.

Pertanyaan selanjutnya, jika dikerjakan di pabrik tersebut, posisnya strategis apa tidak? Apa dipakai menjadi tenaga ahli atau hanya tukang angkat sak semen? Saya rasa pilihan kedua. Tenaga ahli pasti didatangkan dari kota besar. Ah sudahlah. Saya sarankan, cek di google. Cek apakah perusahaan tambang yang begitu banyak di Kalimantan membuat kehidupan masyarakat di sekitar situ lebih baik?

Lanjut……

Sebagai seorang perempuan yang peduli lingkungan, pabrik juga ternyata berdampak buruk bagi kesehatan penduduk di sekitarnya. Keadaan lingkungan yang kurang baik lama-kelamaan menimbulkan masalah kesehatan bagi penduduk.

Dikutip dari aladokter.com bahwa limbah suatu pabrik berdampak buruk jika mencemari air yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Air yang sudah terkontaminasi tersebut bisa menyebabkan diare (diare yang parah bisa berujung kematian), Penyakit methemoglobinemia atau blue baby syndrome, hepatitis A serta ginjal.


Selain dampak kesehatan masyarakat, juga terjadi kerusakan tanah akibat eksplorasi lahan yang tidak terkontrol dan kurang memperhatikan analisis mengenai dampak lingkungan.

Masih ingat pro kontra semen rembang beberapa tahun silam? Setelah pabrik resmi beroperasi, pada tahun 2019 kemarin, warga Rembang yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) mendatangi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk bertemu dengan Menteri BUMN Erick Thohir. JM-PPK ingin melakukan audiensi terkait kerusakan lingkungan akibat penambangan semen oleh PT Semen Indonesia. Akibat penambangan tersebut, petani tak bisa bercocok tanam, karena air tanah yang tercemar. (Katadata.co.id 19/12/2019)

Walau saat itu Pak Erick tak tampak batang hidungnya, tapi saya bisa mersakan bagaimana nasib para petani ke depan ketika air sumber kehidupan mereka telah tercemar.

***

Pembangunan dalam realitanya sering kali lebih mengutamakan nilai ekonomis dan mengabaikan aspek lingkungan. Secara lebih lanjut pembangunan berjalan ekspansif, diantaranya menyangkut segi pemanfaatan ruang / lahan. Dalam pemanfaatannya sering kali aspek tata guna lahan yang sesuai dan seimbang terabaikan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan terganggunya kestabilan ekosistem alam dan permasalahan lingkungan, diantaranya kerusakan dan pencemaran tanah.


Tambang semen lekat dengan isu negatif lingkungan, antara lain bahan baku utama adalah kapur dan tanah liat yang merupakan bahan alam yang tidak dapat diperbaharui.


Sebagai negara yang mempunyai julukan paru-paru dunia, Indonesia mempunyai banyak sekali pulau yang terselimuti oleh hutan lebat. Namun pada bebrapa dekade belakang ini,banyak problematika yang mengancam kelestarian alam .

Tidak sedikit industri pertambangan yang merusak lingkungan agar mendapatkan keuntungan yang besar. Berkurangnya sumber keseimbangan alam seperti hutan, air dan tanah yang subur sebagian besar disebabkan oleh kegiatan pertambangan yang harus kita pikir baik-baik keberadaannya.


Salah satunya di kota kecil saya. Di suatu desa yang sejak dulu tidak pernah dijamah oleh hal-hal mewah ( infrastruktur jalan yang memadai, jaringan internet, dan masih banyak lagi)


Melihat situasi dan kondisi terkait tambanag di desa kecil di Mangarai Timur saat ini saya melihat pemerintah pun seakan menutup mata melihat apa yang sedang terjadi. Jika tambang ini tetap dilaksanakan, maka saya mengangap Bupati manggarai Timur tidak sanggup atau tidak mampu memimpin Manggarai Timur. Ini kekecewaan kedua saya setelah tanah di Elar Selatan dihibahkan ke kabupaten Ngada.


Saya melihat tidak ada sepata kata atau tindakan dari Bupati yang menunjukan bahwa dia pro rakyat dan dengan tegas menolak tambang. Melihat situasi ini seakan masyarakat berdiri sendiri dan dianak tirikan oleh pemimpinya sendiri.


Sebenarnya saya engan berkomentar tentang tambang atau yang lainya. Menginggat ada begitu banyak hal dan begitu banyak janji yang belum diwujudkan untuk Kecamatan kecil saya di selatan Manggarai Timur. Tapi tidak apa-apa mungkin ditahun berikutnya, atau berikutnya lagi. Wkwkwk”.

**
Omong-omong terkait pembangunan di Manggarai Timur saya melihat bahwa desa yang dijadikan sasaran tambang ini bisa dibilang merupakan salah satu desa yang belum dijamah oleh pembangunan. Menginggat akses masuk ke desa ini masih dibilang belum layak disebut jalan.


Setidaknya cukup hak mereka untuk hidup layak di negerinya yang dirampas, alam ciptaan Tuhan jangan diembat juga . Tidak kah kalian malu memperdayakan masyarakat kecil untuk kepentingan kalian di masa depan. Menghancurkan segalah hal yang sudah mereka jaga bertahun-tahun lamanya dengan harapan bisa di nikmati anak cucu mereka nantinya.


Bondan Prakoso dalam lagunya menyebut “Ya Sudahlah”.

Bye

2 thoughts on “Tumbangkan Tambang atau Tumbangkan Masa Depan Anak, Cucu Kita?

  1. Memang benar, “membangun untuk merusak dan merusak untuk membangun” sepertinya sudah menjadi hukum alam bagi manusia.
    alam NTT yang sangat menjanjikan untuk kesejahteran masyrktnya, sangat disayangkan apabila dirusak.
    Yup… Kembali ke lagunya bondan prakoso “ya sudahlah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.