Ungkapan “Selamat Natal” dari Tanah Rantau

Selamat Natal untuk kita semua (sumber foto: Dokumentasi pribadi penuis)

 355 total views,  2 views today


Nando Sengkang|Redaksi

Sio selamat Natal e, latang ende-ema, weta-nara, kae-ase, kesa-woe. Sio selamat Natal eee. Gloria. Bersukacitalah.” Sebuah ungkapan hati dari Tanah Rantau, Ibu Kota.

Kue buatan mama sudah menghiasi meja-meja perjamuan. Ada juga yang bersembunyi dalam lemari simpanan. Takutnya sebelum Natal, kue-kue sudah habis bersama tewasnya Babi-babi. Ayam, babi, kambing, dan sejenisnya, akan siap menemui ajal.

Anjing-anjing penjaga rumah sebaiknya diikat saja. Sebab saat Natal dan mendekati Tahun Baru, Anjing Si Manis akan hilang seperti para aktivis 1998 saat menyusuri jalanan sepi. Ia tidak sedang bermisi mencari betina yang mengadopsi sepi, tetapi pencuri selalu beraksi indah pada waktunya. Kecemasan hewani saat Natal patut disadari oleh kita, manusia-makhluk rasional.

Natal memang identik dengan merayakan momen kelahiran. Namun sedikit ironi kala kelahiran dirayakan dengan kematian makhluk-makhluk hewani. Mungkin itulah hewan-hewan kurban yang baunya disenangi Tuhan.

Borong, kota sepi dan ‘begitu-begitu’ saja, akan sedikit terhibur saat Natal. Tokoh Baju mas Nardi, dkk yang berjejer rapi, kadang terlalu  romol, ramai dikunjungi. Anak-anak merengek minta dibelikan Baju Natal. Apalagi kalau mereka menangis dari pagi ketemu pagi, hati mama langsung luluh.

Salon Ayu dan salon-salon di kota Borong menjadi saksi bisu penampakan mukjizat rambut Rebonding Mama Tua. Molas Komba Salon di Simpang Tiga Munde juga siap menerima pesanan. Jikalau hasil kurang maksimal, Smoothing, Styling akan menjadi alternatif kemudian. Kalau tiga gaya rambut belum juga terpuaskan, sebaiknya Mama Tua menggunakan metode klasik, santan kelapa made in Kopra.

Suasana Natal memang begitu indah. Semua berkorban sedemikian rupa sehingga momen tahunan ini membekas dalam sejarah perziarahan hidup. Semua akan kita lakukan, demi menyambut dan merayakan Natal penuh sukacita.

Sio selamat Natal e, latang ende-ema, weta-nara, kae-ase, kesa-woe. Sio selamat Natal eee. Gloria. Bersukacitalah.”

Ber-Sopi-lahdalam secangkir Kobok, dengan Tuak Bakok sebagai minuman pembuka. Buatlah ‘putaran persaudaraan’ dengan iringan Sloki. Musik Toki Sloki kaks-kaks Muka Rakat siap menemani sampai lewat Ayam berkokok Petrus. Bersukacitalah. Bergembiralah.

Tentunya acara minum-minum khas Rakat (Masyarakat Timur), akan jauh lebih indah ketika Om Romo/Pater telah memberikan berkat penutup di gereja. Lalu perayaan Ekaristi Natal (Misa) ditutup dengan suara-suara malaikat dari barisan kor yang meriah. Semua perayaan meriah di rumah sebaiknya dilakukan setelah kita mengikuti Misa Natal bersama. Dengan itu, kita ibarat gembala-gembala yang bergegas melihat Bayi Yesus di Kandang Domba.

Semua perayaan Natal juga akan lebih indah jika kita merayakan dengan momen “Saling Memaafkan”. Kecemburuan sosial, iri hati,  dengki, akan disembuhkan kala “Maaf” menjadi kado terindah Natal. Maaf akan menyembuhkan semua penyakit batiniah. Suasana batin akan damai dan sejuk tanpa perlu berbagai macam obat modern. Hati kita yang “bersih” oleh maaf akan menjadi palungan tempat Bayi Yesus menangis meminta susu.

Natal identik dengan kelahiran Sang Bayi Yesus. Bahasa Teologi akan menyebut kelahiran Yesus adalah peristiwa inkarnasi Allah; Allah telah berubah menjadi manusia dalam ‘kedagingan’ Yesus Kristus. Sang Bayi yang masih menangis meminta susu, adalah Allah yang telah merasakan “hina-dina” dunia manusia. Kelak, Ia akan disebut Yesus, Sang Mesias.

Allah yang sebegitu jauh “di seberang sana” rela turun ke dunia. Kemudian Ia berbaur dengan manusia; berbahasa manusia, lapar, haus, tidur, dan lainnya. Semua itu Ia lakukan karena Cinta/Kasih akan makhluk ciptaan-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Bdk. Yohanes 3:16).

Kelahiran Yesus di Bethlehem adalah peristiwa kasih Allah yang begitu nyata. Ungkapan “Saling Memaafkan” adalah konkretisasi (perwujudan) dari merenung peristiwa kasih Allah.

“Sio selamat Natal e, latang ende-ema, weta-nara, kae-ase, kesa-woe. Sio selamat Natal eee. Gloria. Bersukacitalah.” Sebuah ungkapan hati dari Tanah Rantau, Ibu Kota.

Pondok Bambu, Jakarta Timur

Desember 2021

1 thought on “Ungkapan “Selamat Natal” dari Tanah Rantau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.