Uniknya Menjadi ‘Wote’ Idaman Orang Manggarai Timur

Sumber foto: Carousell.co.id

3,131 kali dilihat, 12 kali dilihat hari ini


Berbicara tentang menantu /wote idaman itu adalah salah satu impian besar dari enu-enu molas Manggarai. Menjadi wote idaman dari bapa dan mama mantu/amang agu inang(tu’a) itu tidak semudah yang kita khayalkan. Tidak semudah saat kau jatuh cinta dengan dia punya anak laki-laki.

“Sok tahu sekali saya’.

 Cerita ini berawal dari inung kopi mane/minum kopi sore di ladang,  ditemani secangkir kopi pa’it dan beberapa buah latung tunu/jagung bakar,di bawah cahaya mentari senja yang memanjakan mata serta hembusan angin yang menyejukkan jiwa. Betul-betul membuat kita betah dan tak ingin beranjak pergi.

Untuk para rantauan, sudah pasti akan merindukan saat-saat seperti itu.

“ Mai pulang sudah, latung tunu dan  kopi pa’it menunggu anda di sini”

Ehhhh ehh……lanjut dulu sepertinya calon wote su tida sabar lagi…

Sambil inung kopi mane nenek cerita dengan saya tentang wote idaman  orang Manggarai. Kata nenek, menjadi seorang wote harus siap batin  karena menghadapi dan memahami sifat dan karakter dari inang dan amang itu sangatlah susah. Dan kitapun harus bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan mereka. Oleh karena itu, kebiasan wela leso/bangun siang harus dihilangkan. Apalagi dengan kau pu kebiasaan wela yang tunggu mamatua teriak sampai satu kampung harus dengar. Percaya saja, kau pu status sebagai wote paling balong/malas, akan tenar satu desa.

Jika ada yang bertanya, mengapa harus bangun pagi? Jawabannya, karena seorang wote harus menyiapkan sarapan pagi/teneng wae kolang gula untuk keluarga. Di sini seorang wote menyiapkan sarapan pagi/wae kolang gula dengan ubi-ubian seperti; teko/keladi, daeng/singkong, tete tu’ung/tete wase/ubi jalar, ataupun pisang rebus dan jagung rebus. Dan satu lagi yang harus diketahui oleh calon menantu/ wote, salah satu sarapan pagi khas Manggarai, yang bisa meluluhkan hati seorang inang agu amang adalah ‘ rebok’. Jadi, menjadi seorang wote orang Manggarai itu harus bisa buk/tumbuk rebok.

“ehh ehehh bagaimana enu molas bisa? Saya yakin sekali pasti bisa.”

Enu-enu molas yang tidak biasa ataupun belum bisa buk/tuk  ‘rebok’ saya yakin sekali pastinya mereka selalu berharap inang atau amang mengucapkan suatu kata pembelaan, “ ngaseng co mole gi (mau bilang apa sudah)” apalagi kalau kata-kata itu diucapkan dengan logat Colol, aduh Tuhan saya rasa kata-kata itu sudah mengalahkan kata-kata gombalnya nana  Manggarai.

Masih di bawah naungan cahaya senja yang menyejukkan jiwa, nenek  melanjutkan ceritanya,  katanya menjadi seorang wote idaman juga harus bisa rojo loce/anyam tikar.

Aduhhh….hanya lihat nenek  anyam tikar saja pusingnya minta ampun…..apalagi jika saya yang menganyam sendiri, sudah tidak bisa dibayangkan lagi bagaimana hasilnya.

Selain menganyam tikar, seorang menantu idaman inang dan amang juga harus bisa mengurus ladang dan hewan peliharaan. Salah satu hewan peliharaan yang harus pandai kau urus adalah babi. Sebab babi punya andil besar dalam setiap urusan yang berbau adat dan pesta di Manggarai. Jika sudah mampu cakur pakang ela/iris makanan babi maka kau akan punya nilai plus di hati bapa mama mantu. Percaya sa enu.

Jadi, begitulah jika ingin menjadi seorang wote idaman orang Manggarai. Intinya harus mampu menguasai dapur dan sekitarnya.  Selain itu, pastinya juga harus belajar dan berjuang keras mulai dari sekarang.

Kopi pai’t dan latung tunu sudah habis. Cahaya senja semakin lama semakin redup. Cerita nenek tentang bagaimana menjadi wote idaman sudah usai.  Saatnya kita pulang ke rumah.

Penulis: Alvy Indis | Lawa Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *