Untuk apa kita sekolah?

579 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


TTempo doeloe (masa Belanda), sekolah-sekolah mulai dibangun setelah politik etis Hindia Belanda disetujui Ratu Wilhelmina. Awalnya politik balas budi ini ditujukan untuk membantu jalannya pemerintahan Hindia Belanda. Orang-orang pribumi (inlander) yang disekolahkan akan menjadi pegawai kecil di gudang-gudang atau kantor-kantor pemerintah. Tetapi, tahun berganti tahun, sejarah mencatat perkembangan masyarakat Nusantara yang semakin maju. Alhasil, sekolah-sekolah Belanda menjadi senjata yang melawan mereka sendiri.

Kita ingat, Presiden Sukarno, Sjahrir, Bung Hatta, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, R.A Kartini, dan lain-lain, adalah tokoh pahlawan yang disekolahkan oleh politik etis bangsa penjajah. Suatu ketika di kemudian hari benih-benih pengetahuan, imajinasi, sikap kritis, budaya intelektual-ilmiah membuncah menjadi sebuah aksi perlawanan. Perlawanan itu lahir dari kesadaran bahwa manusia Indonesia bukan sampah, manusia Indonesia layak menentukan nasibnya sendiri. Sukarno dkk menjadi teladan sepanjang masa tentang pendidikan yang melahirkan ketidaknyamanan, yang akhirnya mengkristal dalam bentuk perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.

Kita sudah merdeka selama lebih dari tujuh puluh tahun. Artinya, tujuh puluh lebih tahun yang lalu perjuangan Sukarno cs membuahkan hasil. Belajar dari Sukarno cs, untuk apa kita sekolah? Atau, buat apa sekolah?

Menyaksikan jalannya proses pendidikan kita selama ini, roh Sukarno seperti tidak lagi mendapat tempat. Sukarno cs menjadi pejuang kemerdekaan karena mereka berada dalam sebuah situasi terjepit, situasi yang memaksa mereka untuk berpikir, bagaimana cara membebaskan Indonesia. Di Sekolah, mereka dilatih untuk berpikir kritis, berdebat, berargumentasi, bersilang pendapat, dan memecahkan masalah.

Setelah Indonesia merdeka tujuh puluh tahun lebih, anak-anak sekolah dan mahasiswa dilatih untuk diam, diajarkan kompromi dan sopan santun yang munafik dan busuk, dilatih untuk bergandengan tangan dengan penguasa yang korup, dilatih untuk membeo di hadapan guru dan dosen, dan seterusnya. Alhasil, setelah bersekolah selama bertahun-tahun generasi kita menjadi tukang korup, tukang suap, penjilat kekuasaan, intelektual kardus (menulis demi uang dari penguasa), dan seterusnya…

Di Matim, untuk apa kita sekolah?

Anak muda Matim bertanya, untuk apa kita sekolah?  Buat apa sekolah kalau mereka yang sudah sekolah tinggi-tinggi jadi koruptor di Lehong, jadi intelektual kardus yang menjilat pada kekuasaan, jadi kontraktor korup, jadi dewan yang korup, dan jadi orang baik yang diam???

Sejak berdiri tanggal 17 Juli 2007 lalu, banyak sekolah didirikan di Matim. Sayangnya, kuantitas sekolah itu tidak serta-merta menjamin kualitasnya. Mungkin karena sekolah didirikan untuk kepentingan politik. Jadi, meski tidak ada guru yang cukup atau jumlah siswa tidak banyak dan gedung tidak memadai, sekolah tetap didirikan supaya penguasa terkesan punya perhatian. Hati-hati lawa Matim!

Melalui tulisan ini, kami mengirimkan pesan harapan kepada seluruh kaum muda Matim bahwa kita-kita ini yang harus menjadi agen perubahan. Kita-kita ini yang harus menjadi Sukarno baru, melawan praktik kekuasaan yang korup dan tidak memajukan masyarakat Matim. Pertama-tama, sekolah untuk melawan. Sebagai siswa dan mahasiswa, mari kita belajar untuk bersikap kritis. Sikap kritis muncul dari ketekunan membaca dua hal; (1) buku dan (2) kenyataan di sekitar. Di sekolah, sikap kritis tampak dalam ruang kelas, ketika dialog menjadi metode, bukan monolog (guru bicara sendiri). Jika kita tekun membaca, kita dapat keluar dari dominasi pikiran mereka yang berkuasa. Kita memiliki pikiran sendiri, memakainya untuk mengeritik ketidakadilan sosial.

Kedua, sekolah untuk mengubah dunia. Karl Marx katakan, “kita punya tugas tidak untuk menjelaskan kondisi dunia, tetapi mengubah dunia.” Kondisi dunia (politik) yang amburadul dapat diselesaikan oleh kaum muda yang kritis dan tekun.

Ketiga, sekolah untuk solider. Sekolah juga harus membangkitkan rasa solidaritas; (1) kerja sama kaum muda di seluruh wilayah Matim demi kemajuan bersama, dan (2) solidaritas semua kaum muda pada kondisi masyarakat yang miskin. Sekolah harus jadi batu yang mengasah rasa kemanusiaan kita, supaya kita benar-benar berjuang demi kemanusiaan.

“Beri aku 10 pemuda saja, akan kuguncangkan seluruh dunia,” kata Sukarno. Untuk itulah kita sekolah…

Ilustrasi dari beritagar.id

Penulis: Anno Susabun

58 thoughts on “Untuk apa kita sekolah?

  1. Mantap tulisannya. Harapannya dpt menggali lebih dalam lagi tentang budaya Manggarai. Sy adalah pencinta tulisannya tabeite.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *