Untuk Para Perantau dari Manggarai Timur di Kota Besar

711 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Salam sejahtera untuk para perantau. Singkat saja, semoga kalian sehat-sehat selalu di sana.

Ada baiknya sebelum lanjut membaca tulisan ini, siapkan terlebih dahulu kopi bersianida satu gelas dan rokok merek apa saja, agar tidak ada yang tersinggung. Kalaupun ada kata-kata yang tidak berkenan, buang bersama kepulan asap rokok dan ampas kopi saja.

Dear para perantau di kota besar,

tanpa kalian sadar, sudah lama Manggarai Timur kita tercinta ini menyumbang banyak hal bagi kota-kota besar. Jumlah anak-anak kita yang kuliah di kota besar, sebut saja, Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Jogja, Makassar, Denpasar, Malang dan lain-lain, semakin tahun semakin bertambah banyak. Orangtua membiyai kuliah anak-anaknya dengan hasil pertanian.

Dengan menguliahkan anak-anaknya, orangtua berharap, kelak nasib anak-anak mereka bisa  lebih baik dari orangtua, tentunya dengan modal ilmu pengetahuan yang telah diterima di bangku kuliah. Tetapi tidak sedikit anak-anak yang telah selesai kuliah memilih bekerja, menikah dan hidup di kota.

Setelah anak-anak tadi selesai kuliah kemudian bekerja, Manggarai Timur tetap saja menyumbang banyak hal untuk kota besar. Misalnya saat pernikahan tiba, orangtua dari Manggarai Timur diundang dengan membawa serta sumbangan untuk biaya pernikahan anak di kota. Sebagai orangtua yang kurang mampu, ada banyak cara untuk bisa menyiasati kekurangan  tersebut, mulai dari menjual ternakan, ijon hasil komoditi. Bahkan, jika sangat mendesak, ada yang sampai menjual sawah. Asal anak di kota bahagia.

Belum sampai di situ saja, setelah pernikahan selesai, anak tentu membutuhkan rumah. Kala uang membeli rumah di kota tidak cukup, dari kota anak menelepon orangtua di Manggarai Timur. Hak waris di Manggarai Timur dijual, uangnya di transfer ke kota agar anak bisa beli rumah. Kalau uangnya lebih, tanpa beban sedikitpun uang tersebut digunakan sebagai uang muka membeli mobil.

Anehnya lagi, saat aset di Manggarai Timur sudah terkuras habis, anak masih saja meminta orangtua datang ke kota untuk mengasuh cucunya. Sedang mereka sibuk bekerja untuk membayar cicilan mobil tadi. Bajingan kan?

Sementara, bagi orang Manggarai Timur yang sudah nyaman tinggal di kota besar itu, Manggarai Timur hanyalah masa lalu yang cukup dikenang. Kalau rindu baru pulang ke Manggarai Timur. Rindu itu sebagai dalih, sesungguhnya mereka sedang stres dengan utang hidup di kota besar.

Setiba di Manggarai Timur, orang kota itu memandang Manggarai Timur kolot dan tidak berkembang. Padahal mereka memandangnya dari kaca mata  kota besar yang mereka tinggal.

Listrik mati sebentar curhat di fesbuk panjang lebar, lalu menyalahkan Pemerintah Daerah setempat, padahal listrik mati karena orangtua tidak punya uang lagi isi pulsa. Jalan jelek dicaci maki, padahal jauh sebelum mereka merantau, jalan tersebut tidak ada apa-apanya dibanding jalan yang sekarang. Bajingan kan?

Sepulang dari Manggarai Timur, bawa kopi, sopi, kelapa, pisang penuh truck ekspedisi. Ini apa-apaan?

Setiba di kota besar, satelah melihat berita kenaikan beras, bawang, dan sayur,  mereka protes. Padahal itu adalah upaya pedagang untuk mengembalikan uang petani di Manggarai Timur.

Jangan mudah juga mencicipi kopi impor di kafe-kafe hanya supaya terlihat keren, kenapa tidak ke warkop pinggir jalan saja dan beli produk kopi dalam negeri. Ketahuilah, kopi itu bersumber dari tangan orangtua kita di Manggarai Timur. Kembalikan uang mereka dengan sering-sering mencicipi kopi di sachetan di Warung kopi itu.

Tetapi ketika NTT 90 % lebih memilih Jokowi dalam PILPRES kemarin, itu merupakan hal yang luar biasa. Setidaknya hal ini sangat cukup untuk menyimpulkan bahwa perantau dari Manggarai Timur yang merantau di kota-kota besar itu, juga memilih Jokowi. Memilih Jokowi artinya kita punya dalil penting dalam tindakan ekonomi-politik.

Di tangan Jokowi desa-desa di Indonesia termasuk Manggarai Timur di sulap menjadi lebih baik. Melalui dana desa, jalan yang sebelumnya dinyinyir para perantau kini perlahan-lahan mulai di aspal.

Tetapi ingat, jangan sampai uang ini dikelola kontraktor dari kota-kota besar tadi. Serahkan kepada orang-orang asli Manggarai Timur, jangan karena iri hati kemudian kita menganggap orang-orang asli di Manggarai Timur belum mampu mengelolanya. Kalau seperti itu, Bajingan kan?

Akhirnya, pesan saya, kalau sudah di hidup di kota besar,  jangan pulang setelah pensiun atau badan sudah bau tanah alias mendekati hari kematian. Pulanglah saat keadaan ekonomi keluarga kalian stabil, tanah yang sudah dijual beli kembali dengan tanah yang lebih strategis.

Saat kalian pulang dalam keadaan sakit dan tanah warisan sudah ludes terjual, siapa peduli?

Manggarai Timur panggil pulang.

Sumber foto: Republika.co.id

Penulis: Popind|Tuagolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *