Untuk Semua Kesedihan Ini; Tuan, Elar Dapat Apa?

Bagi dong, Tuan! Sumber Gambar: https://nizarast.wordpress.com/

 634 total views,  1 views today


Krisan Roman | Redaktur

Tuan, boleh jadi telinga dan hati Tuan sudah bosan mendengar keluh kesah kami dari ujung tanah Lawe Lujang tercinta ini. Namun begitulah Elar. Bercerita tentangnyanya sama juga bicara soal kesedihan yang tak berujung. Setelah tanah Manggarai Timur berulang tahun keempat belas, Elar masih begini-bagini saja. Jalanan kami tetap tidak masuk di akal. Malam kami tetap saja gelap. Jaringan untuk internet masih kami cari di dahan-dahan gamal. Padahal di dalam hati, kami selalu ingin membalikkan kenyataan dan merasakan kesenangan-kesenangan sederhana sebagaimana rakyat di negara merdeka. Kami selalu mau. Barangkali Tuan sudah mulai muak dengan kami yang selalu merengek, namun demikianlah alasan mengapa ratap tangis ini belum juga berhenti.

Di usia kecamatan yang entah berapa puluh tahun, Tuan, Elar belum juga menikmati apa yang mestinya dinikmati oleh kecamatan tua yang sepanjang berdirinya terkenal dengan kesengsaraan. Lalu ada yang bilang, “Hey, Bocah, jangan kalian bandingkan kabupaten remaja ini dengan kabupaten-kabupaten yang usianya lebih matang. Manggarai Timur masih dalam jalan menuju pencapaian-pencapaian mereka.” Tidak. Kami tidak bandingkan Elar dengan kabupaten lain. Kami hanya melihat Elar, sebelum dan setelah kabupaten ini berdiri, Tuan.

Tuan, bagi sebagian orang, musim hujan boleh jadi waktu dengan tumpukan asa berlapis. Musim di mana awal kehidupan dimulai. Pada titik manapun dalam kemegahan Manggarai Timur, hujan selalu identik dengan musim tanam. Hampir semua kepala mengamini bahwasannya harapan hidup, karunia tak terhingga dari pencipta datang bersamaan dengan jatuhnya butiran air hujan ke lahan ladang. Namun Elar tak begitu. Bagi tanah ini, selain adalah rahmat, hujan juga jadi momok menakutkan. Kita semua tahu alasannya. Bahkan petinggi wakil rakyat paham betul apa yang terjadi dengan mobil-mobil sekembali dari sini. Jalanan di sini hancur minta ampun. Benar-benar minta ampun.

Namun, Tuan, rupanya sudah jatuh, kami tertimpa tangga pula. Alih-alih diperbaiki, Elar yang sengsara malah dijadikan alasan agar para petinggi dewan bisa dapat mobil dinas yang baru. Kini Elar tak hanya sengsara, kami juga sakit hati. Setelah sekian lama, akhirnya kami paham bahwa dewan bukan tidak tahu apa yang kami rasakan. Mereka hanya tidak peduli. Kami seperti orang tua yang dengan tulus berusaha membiayai pendidikan seorang anak, namun ternyata anak tersebut hanya bermain, bersenang-senang di kota. Kami seperti berhadapan dengan kenyataan seperti itu, Tuan. Sakit sekali.

Lihat, rencana pengadaan mobil dinas petinggi DPRD dilatarbelakangi oleh infrastruktur jalan di Elar yang hancur-hancuran. Padahal, mereka punya kuasa dan pilihan untuk memperbaikinya, mengusir kesengsaraan kami. Lihat, mereka tidak memilih memperbaikinya. Solusi yang mereka pilih adalah beli mobil baru. Di titik ini, Tuan, kami merasa benar-benar dianaktirikan. Namun kami tidak paham mesti meminta ke mana lagi. Kami tidak tahu mesti percaya kepada siapa selain pada para dewan yang mungkin hanya seorang ayah tiri.

Tuan, tidak berhenti di situ. Setelah gelombang protes yang cukup kuat dari orang-orang pintar, dari mereka-mereka yang peduli, dan setelah pertimbangan yang matang oleh dewan, akhirnya entah bagaimana cerita, mobil baru yang direncanakan itu dibatalkan pembeliannya. Secara logika kampungan kami, anggaran pembelian tersebut mestinya mengalir pada hal yang menjadi dasar pengadaan mobil seperti yang telah disampaikan; jalanan di Elar yang hancur-hancuran.

Tak salah jika kami kemudian berpikir bahwa jalan kami akan segera diperbaiki dengan alokasi dana yang sama. Toh agar tidak ada lagi mobil dinas sampai angkutan umum yang masuk bengkel ketika pulang dari sini. Ternyata tidak. Bukan begitu skenarionya. Anggaran satu setengah miliar rupiah untuk pengadaan mobil itu justru mental ke kecamatan lain, Kecamatan Rana Mese. Kini, Tuan, kami jatuh tertimpa tangga dan ditertawai pula. Sudah sakit karena jatuh, lagi sakit ditimpa tangga, kami pun mesti sesakitan menahan malu.

Tuan, di musim hujan seperti sekarang ini, kami tidak bisa berbuat banyak. Lintasan yang kami lalui untuk bepergian lebih mirip sungai. Tak ayal banyak kendaraan yang akhirnya rusak dan mengalami celaka. Ada yang selamat, namun seperti kata pak dewan, mesti masuk bengkel. Tuan, kalau memang tak ada anggaran lagi untuk kami, lantas apa kami mesti memohon kepada Tuhan agar hujan diturunkan ke ladang saja dan jangan ke jalan-jalan kami?

Tuan, kami agaknya bingung mengapa kesedihan dan kesengsaraan selalu datang menyelimuti tanah kami ini. Belum selesai masalah yang satu, ada lagi muncul persoalan yang lain. Paling anyar, Tuan, salah satu kantor tempat pelayanan bagi warga kelurahan kami di sini tak lagi dibuka. Kami paham bahwa Tuan pastinya sudah tahu sengketa ini. Beberapa pihak menyangkal kantor lurah berdiri di tanah pemerintah daerah. Menurut mereka tanah tempat gedung kantor tersebut berdiri adalah tanah salah satu suku yang hak sepenuhnya milik suku tersebut. Bahkan, Tuan, soal ini telah diberitakan oleh beberapa media. Kabarnya telah sampai ke mana-mana, namun titik terangnya belum juga ada. Tuan, kami hanya mau pelayanan terhadap warga kelurahan berjalan dengan lancar, berjalan seperti biasanya, di manapun itu, kantor baru atau tetap yang lama. Jika benar hak atas tanah itu milik salah satu suku, maka kembalikan saja pada mereka. Namun jika tidak, buatlah ini jadi terang-benderang, Tuan.

Tuan, sekarang keberadaan kami serasa sangat tidak dianggap. Kami seolah tidak dibutuhkan oleh tanah Manggarai Timur ini. Sekecil dan bagaimanapun besar persoalannya, kami seolah selalu diacuhkan. Padahal, Tuan, sungguh, perhatian dan bantuan sangat dibutuhkan oleh kami-kami yang sampai saat ini menetap dan cinta terhadap Elar. Orang-orang kampung yang bodoh seperti kami mana bisa menyelesaikan persoalan-persoalan ini sendiri?

Lalu sebagai penutup tulisan yang menyedihkan ini, Tuan, izinkan kami untuk sekadar bertanya. Di balik semua kesedihan, untuk kesengsaraan yang belum juga berakhir, atas tangis dan air mata yang teramat derasnya ini, Tuan, kami butuh jawaban yang nyata; sebenarnya Elar dapat apa?

1 thought on “Untuk Semua Kesedihan Ini; Tuan, Elar Dapat Apa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.