Untuk yang Tercantik, Surat Cinta Akhir Tahun

Surat cinta 2020 untuk si cantik. (sumber gambar: pixabay.com)

 670 total views,  3 views today


Itok Aman | Redaksi

Selalu ada sunyi yang tertinggal begitu lama setelah berpisah dari pertemuan penuh kesan. Malam pun masih gersang di wajahmu. Tapak tangan menjadi residu, menempel di dahi setelah kerinduan mengecupmu. Jarak menepukku. Dan, kita masih menatap layar di genggaman. Berharap sebuah nama muncul membalas tanya dari gelisah seharian tanpa berkabar. Bayangkan, WhatsAppmu yang centang satu dan hati saya yang mendua.

Sayang e…!

Tidak perlu memaksa atas apa yang dirasa. Banyak hal menanti kau jelajahi; nikmati waktu, lepas dari ragu yang tak menentu. Namun, 2020 hanya tahun yang tak secantik angka. Kau masih lebih cantik dari dua kosong dua kosong itu.

Sebetulnya tanggal hanya berganti angka, tahun hanya perhitungan tentang penandaan pergantian musim, semua itu adalah fana. Yang abadi adalah kita dengan tak lupa bersyukur.

Tapi tidak ada yang menyangka bahwa 2020 adalah tahun yang tak secantik angka. Tahun di mana kita merayakan kesedihan, banyak hati yang terluka, banyak luka yang menyerang setiap hati.

2020 adalah kehilangan: Kita kehilangan orang-orang hebat di negeri ini. Kehilangan mereka yang menginspirasi juga kehilangan orang-orang tersayang, termasuk aku yang kehilangan banyak waktu untuk melihat senyummu di kedai yang biasa kita kunjungi dengan rindu.

Melebur tawa dalam cerita kini hanya sebenar-benarnya kenangan yang menanti semuanya berlalu untuk kita memulai yang baru. Dengan rindu yang tumbuh dan rasa yang selalu baharu.

2020, tahun jelek yang tak secantik angka. Yang membuat kita sadar, kerelaan adalah ikhlas yang paling dewasa. Derita mengepung setiap hati yang berjuang belajar jumawa. Tahun yang tak terduga mengejutkan, entah ada angin apa di mana-mana merenggut banyak nyawa. Ah, 2020 tahun jelek yang tak secantik angka, Sayang.

“Tetap sabar, tetap kuat, jaga imun biar aman, salah satunya perkuat doa sesuai iman.”

Kita selalu berusaha menguatkan satu sama lain, walau sebenarnya kita tak benar-benar kuat menghadapi onak duri di tapak kita sendiri.

Biasanya, setiap tanggal, bulan dan tahun yang angkanya cantik, banyak orang merayakan hal-hal besar dalam hidup mereka. Jadian, pertunangan, pernikahan, bulan madu dan banyak lagi yang menanti tanggal itu agar terjalin kenangan romantis. Namun, apakah kematian patut dirayakan seromantis itu? Ah, aneh dunia ini. 2020 tahun jelek yang tak secantik angka, Sayang.

Kata ayah, tegar menjadi pilihan doa ibu menjadi andalan. Bagi kita, untuk tetap bertahan, masa depan adalah alasan.

Sayang, suatu saat, ketika kita sudah patutnya berjumpa, kita masih bisa melanjutkan rencana membangun rumah tangga setelah sekian lama kerangkeng di rumah saja, bukan?

Pagi sejuk, siang panas, sore teduh, malam berbintang. Sama saja isinya. Tentang rindu sehabis jumpa denganmu via suara. Salah satunya adalah menemuimu tersenyum indah tanpa hati harus berpindah.

Pada salib yang tegap di atas menara, di sana mimpi yang terbentang membara. Lewat suara dan aksara, ada doa dan harap yang tertata indah bersahaja dari hati yang dahaga. Salah satunya adalah berjuang untuk mimpi menjadi nyata. Tentu denganmu.

Dan, kau tau to? Sa cinta mati dengan kau. Maka tahun depan dan ke depannya, untuk semua doa dan harapan baik, kita adalah satu dalam cinta. Tetap jaga diri dan rawat semangat dengan segala syukur bersama cinta yang hebat, Sayang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.