UTS dari Rumah dan Betapa Kacaunya Pikiran Saya

 543 total views,  1 views today


Osth Junas|Redaksi

Sudah sebulan lebih segala aktivitas terpaksa dikerjakan dari rumah. Kabar tentang Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ini seakan tak pernah habis dibahas. Media-media (online maupun cetak) hampir setiap detik menyajikan informasi terbaru terkait perkembangan covid-19. Selain memakan korban jiwa, virus ini juga berhasil melumpuhkan semua aspek kehidupan manusia, mulai dari aspek ekonomi, sosial, agama, juga pendidikan.

Baru pertama kali dalam sejarah bangsa Indonesia, semua kegiatan dilakukan dari rumah sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran virus ini, termasuk kegiatan akademik. Melalui berbagai upaya yang didukung oleh alat komunikasi yang semakin canggih, segala aktivitas yang dilakukan berjalan lancar.  Orang-orang menyebutnya online.

Online dalam bahasa Inggris yang jika di-Indonesia-kan berarti daring. Daring ini  memiliki makna tertentu dalam hal teknologi komputer dan telekomunikasi. Secara umum, daring atau online menunjukkan keadaan terhubung. Daring juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan komputer yang dapat saling bertukar informasi karena sudah terhubung ke sebuah jaringan internet. Segala bentuk interaksi dan percakapan manusia melalui alat komunikasi dapat dikategorikan daring, demikian wikipedia menjelaskan soal definisi online.

Betapa virus ini mengharuskan semua aktivitas serba online. Proses belajar-mengajar online, kelas kuliah online, kerja tugas online, pesan makanan-minuman online, namun kadang ada yang online tapi tak kunjung membalas pesan. Nah, ini yang sakitnya paling lain di antara semua aktivitas online. Menyakitkan sekali.

Hidup di tengah pandemi ini, siap atau tidak, semua aktivitas harus dilakukan secara online, baik dalam proses belajar mengajar ataupun dalam lingkungan kerja. Awalnya sistem kelas online ini dilakukan dalam keadaan terpaksa, terutama bagi mereka yang berada di daerah yang akses jaringan internetnya lemah lembut, selembut sutra. Bukan sutradara atau dara pada sutra. Ehmm.

Tapi Puji Tuhan aktivitas ini berjalan ala kadarnya, yang kemudian tetap hidup dalam cerita setiap orang, termasuk anak-anak ketika ditanya orangtua, dengan semangat mereka menjawab; “kami sekolah online e”, juga di lingkungan mahasiswa/i pun demikian. Selalu dibayangi oleh kata online.

Tetapi begini, ada beberapa hal dasar mengapa online ini tidak dapat diterapkan di dalam semua aspek kehidupan manusia. Terutama bagi mahasiswa perantau.

Berdasarkan kelender akademik yang berlaku, hampir setiap bulan keempat dalam setahun, lembaga pedidikan tinggi sibuk menggelar Ujian Tengah Semester (UTS), tidak terkecuali tahun ini. Tetapi tahun ini prosesnya lain. Ujian dilaksanakan secara online. Beragam komentar pun datang dari mahasiswa, terutama mahasiswa perantau.

Jujur, kehadiran covid-19 ini seakan menjadi ajang menaikkan harga kebutuhan pokok. Bagi mahasiswa, kebutuhan pokok tidak hanya berupa beras, tetapi ada penambahan kebutuhan pokok yang lain berupa paket internet yang semenjak berlakunya kelas online menjadi lebih mahal.

Sejak awal diterapkannya kuliah online, maka berlaku pula ujian iman bagi mahasiswa, antara beli makan atau beli paket internet. Sulit bagi kami untuk memilih, karena keduanya sama-sama penting. Itulah sebagian alasan mengapa ada mahasiswa perantau yang terpaksa pulang ke rumah. Bukan karena alasan untuk menikmati liburan di tengah masa pandemi ini. Lebih dari itu, sulit bagi kami mengambil keputusan antara tetap hidup dan tidak mengikuti kuliah atau tatap kuliah dan mati kelaparan.

Dari segala aktivitas yang dilakukan secara online, bagi saya UTS online ini tentu tidak seberat ujian yang dilakukan seperti biasanya di dalam ruangan kelas. UTS tahun ini tidak terlalu menantang, pun beberapa potong cerita meringkas jawaban teman atau gerakan imi amas yang lain hilang dengan sendirinya. Dan saya mengalami sendiri proses ujian dari rumah. Ceritanya begini; setelah selesai mengerjakan ujian dari rumah, langkah berikut yang saya lakukan yaitu mengunggah kembali jawaban tersebut ke SIM. SIM ini bukan kependekan dari Surat Izin Mengemudi atau Surat Izin Mencintai, melainkan Sistem Informasi akadeMik. Saya suka bingung sendiri, kenapa kependekannya bukan SIA? Kenapa lebih memilih SIM daripada SIA? Meskipun beberapa lembaga pendidikan tinggi di Indonesia menyebutnya SIA.

Tapi ya sudahlah. Saya tidak perlu banyak bacot soal itu. Kesempatan saya kuliah tinggal satu semester lagi. Kalau saya cari gara-gara dengan lembaga, apalagi karena hal sepele begini, bisa saja tujuh tahun saya kuliah menjadi sia-sia. Artinya saya harus mulai dari awal lagi beradaptasi, jatuh cinta, nyaman, lalu pergi saat lagi sayang-sayangnya. Sungguh, itu sesuatu peristiwa yang merepotkan kantong celana.

Oh iya, kembali ke ujian dari rumah tadi e! Jadi di rumah kami, setiap orang bebas melakukan aktivitas apa saja. Tidak ada aturan baku di dalamnya. Maksud saya tidak ada aturan yang melarang anggota keluarga kami untuk mengerjakan sesuatu yang lain. Ame sibuk gunting rumput di teras rumah tetangga, Ine sibuk aduk-aduk adonan kue yang kami jual untuk mendapat penghasilan tambahan selagi #dirumahsaja. “Siapa tahu ada yang mau beli to? Lumayan buat beli sayur,” demikian kata Ine suatu sore ketika ditanya soal kesibukan barunya ini. Sedang adik-adik sibuk main tik-tok di ruang tv. Pas pertanyaan pertama, jaringan eror. Begitu su normal kembali terdengar suara tik-tok. Pikiran saya pun ikut kacau.

Ilmu komunikasi adalah… ilmu komunikasi adalah….”aku suka bodi goyang mama muda, mama muda, mama muda” ah kacau. Terdengar suara tik-tok, aplikasi yang berhasil membuat satu Indonesia ini lengket. Saya percaya. Nilai UTS saya tahun ini kacau bukan karena saya tidak mampu menjawab pertanyaan itu dengan benar, melainkan karena keadaan rumah yang membuat saya susah berpikir normal.

Di lain sisi, online mengajarkan kita tentang menjalin hubungan jarak jauh. Selama ini, ada yang tak berjarak namun terasa jauh. Ada juga yang menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Corona juga membuat kita sadar dengan work from home yang sebagian besar aktivitas di luar rumah ditiadakan, dimana dulunya sibuk merindukan dan hari ini merindukan kesibukan. Yah, you semua tentu tetap di rumah saja. Stay safe and healthy!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.