Vampir itu bernama: Koperasi Harian dan Ijon

344 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Vampir sering kita tonton dalam film yang diproduksi oleh lembaga resmi perfilman semisal Hollywood. Uniknya,vampir bertahan hidup dengan cara mengisap darah lalu meminumnya secara perlahan, dan manusia lemah selalu jadi korban. Sudah pasti kematian diujung tanduk, kapal terbang ke balik papan (peti mati) siap lepas landas. Vampirnya pergi setelah korbannya mati (dibaca: melarat), ironis kan?

Anehnya, ketika kita menonton film vampir, pikiran kita pun terlampau jauh bahkan kita selalu beranggapan “memang di dunia fiktif vampir itu ada”, tapi kita lupa vampir juga ada dalam dunia nyata; koperasi harian dan ijon. Hati-hati dengan vampir ini, dia datang dengan janji yang bombastis dan muluk. Pengalaman dan pengamatan tidak cukup untuk menangkal vampir ini, dibutuhkan usaha ekstra keras agar apa yang tidak kasat mata, mampu dibaca dengan jeli.

Vampir di dunia nyata, memang tidak menakutkan, wajahnya polos, begitu jenaka ketika beradu pandang. Tapi tunggu dulu, perilakunya tidak mendatangkan kebajikan, malah menyengsarakan. Kita yang lemah jangan sampai terjebak, jangan sampai: tanah, rumah, kendaraan jadi korban. Lagunya Jhon Sene “sengsara mosé gé”siap dilantunkan ketika mentari mulai keperaduan. Kami orang Mano bilang “ho’o mata ho’o ga”.

Di kampung saya (Mano) kedua vampir ini populasinya kian bertambah banyak. Orang Mano banyak yang jadi ata long di kampung sendiri. Harta tidak bergerak hasil warisan orang tua ludes dijual habis kepada kelompok kapitalis. Gologan ploretariat yang identik dengan kaum papa kian bertambah. Saya pun sempat bertanya dalam hati, mengapa vampir bertumbuh subur? Alasannya bervariasi: Pertama, krisis keuangan dalam keluarga. Krisis ini sering terjadi dan mengganggu kondisi keluarga, lantas sertifikat tanah diberikan kepada kaum kapitalis guna mendapat ijin dalam meminjamkan uang. Jika uang tersebut tidak mampu dibayar, maka tanah akan menjadi milik dari kapitalis. Kedua, tidak pandai kelola uang. Di Mano orang selalu meminjamkan uang yang jumlahnya banyak, tanpa diimbagi dengan pemasukan. Kalau boleh berlebihan bisa dikatakan besar pasak dari pada tiang. Ketiga, mental instan. Orang Indonesia lebih khusus orang Mano pada umumnya melekat dengan mental instan, selogannya cuma 1 (satu) apa pun risikonya yang penting kebahagiaan diraih kini dan saat ini. Keempat, bantuan dari pemerintah tidak merata, sehingga tim sukses dan kerabat dekat dari ketua RT/RW, Lurah/kepala desa, camat, dan bupati yang diprioritaskan. Bagi saya manusia sekarang sedang dilanda bencana politik yang disebabkan oleh politikus yang berwajah ganda, wajah yang satu untuk tim sukses wajah yang satu untuk keluarga besar. Kelima, gereja belum begitu berempati terhadap masyarakat lemah (gologan kaum papa). Kalaupun gereja mengulurkan tangan kasihnya, bukan tidak mungkin masyarakat Mano akan sejahtera dan vampir akan punah. Tetapi, fakta yang terjadi di Mano, gereja tampaknya belum banyak berbuat.

Kembali ke dalam tema besar di atas tadi, bagi Marx kedua vampir tersebut digolongkan dengan si kikir yang ingin memperkaya diri sendiri, tanpa sadar bahwa keuntungan mereka berasal dari kaum papa. Orang Manggarai melekat dengan go’ét ”émé penong luni, néka hémong asé kaé, ata toé manga do ba bokong”. Ko co’on lawa, néka hémong cama tau éé…

Ilustrasi: Ksucitraaditya.blogspot.com

Penulis: Dedi Harsali|Meka Tabeite

1 thought on “Vampir itu bernama: Koperasi Harian dan Ijon

  1. Coba uraikan secara singkat korelasi antara tim sukses dgn bantuan pemerintah, yang sempat disinggung pada alasan ke-4.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *