Wae Bonggang: Kisah Kasih yang Terus Mengalir

Sumber Foto: Bernas.id

601 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Apa yang tebersit di pikiran para pembaca Tabeite.com ketika mendengar kata Elar? Kopi pa’it, susah signal, kampungan, jalanan yang hancur, mbeko rasung, gelap, hutan, atau tapal batas yang sekarang lagi hangat hangatnya itu? Pastinya beberapa kata di atas sudah biasa saya sebagai Lawa Mbore dengar, bahkan di handphone teman-teman dekat, nama kontak saya kerap ditulis demikian. Lalu apakah saya tersinggung? Apakah saya marah atau tidak puas, kemudian saya rasung (santet) mereka? Hahaekto, alih-alih tersinggung atau marah, saya malah bangga, Mbore! Ya bangga. Saya bangga karena kampung saya unik dan berbeda sedangkan kampung mereka semua sama. Yap, betul sekali, kalimat terakhir ini saya pelintir kata katanya si kidal gondrong, Curt Cobain. Hihihi.

Weitss, sabar dulu, Tuang. Kali ini kita tidak membahas hal-hal di atas, saya akan menceritakan Elar dari sisi lain. Kali ini kita akan membahas tentang Wae Bonggang; ibu seluruh warga Elar. Kasih Wae Bonggang tak berkesudahan untuk warga Lengko Elar, selalu mengalir dan tak pernah surut.

Seperti yang kerap kita jumpai pada kampung-kampung di Flores umumnya, Lengko Elar memiliki sumber mata air yang melegenda lantaran dengan ikhlasnya memberikan kehidupan bagi warga setempat. Di Lengko Elar, sumber air tersebut bernama Wae Bonggang. Menurut cerita yang diceritakan secara turun temurun, dinamakan Wae Bonggang lantaran lokasinya yang berbentuk seperti bonggang (lubang kecil yang biasa para petani gunakan untuk menanam anakan kopi), dan sampai sekarang lokasi ini masih berbentuk sebuah bonggang raksasa yang berdiameter kurang lebih 8-10 meter atau kira-kira seukuran pangkalan minyak tanah pinggir jalan di kampung-kampung. Nah, terus kalau bonggang-nya saja sebesar itu, lantas sebesar apa anakan kopi yang mau ditanam? Sebesar oto tangki minyak tanah kah? Hahaha, pe kencong, Kes.

Bagai kasih ibu pada anaknya, Wae Bonggang konsisten dan setia menghidupi masyarakat Lengko Elar sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Keterbatasan air minum mengharuskan warga untuk mengandalkan Wae Bonggang sebagai satu satunya pelepas dahaga sebelum masuknya air dari negara (yang mati/hidupnya sesuai mood operator itu) di Lengko Elar. Bahkan sampai sekarang, Wae Bonggang jauh lebih diandalkan dibandingkan air bantuan yang hanya mengalir pada waktu tertentu; pada masa kampanye misalnya, yang selebihnya akan rusak, tak terawat, tak diperhatikan, mungkin sengaja begitu agar jadi senjata kampanye putaran berikutnya. Mungkin saja.

Bertempat di sisi selatan kampung, sumber air yang bersebelahan dengan hamparan sawah Ndejeroas ini tidak hanya menjadi andalan warga Elar untuk dikonsumsi sehari-hari, Wae Bonggang juga digunakan untuk mengairi ladang Ndejeroas dan melepas dahaga para petani ketika berada di sawah. Uniknya lagi, Wae Bonggang bisa langsung diminum, tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Tidak ada cerita sakit perut atau muntaber setelahnya.

Karena lokasi yang berdekatan, konon masyarakat meyakini bahwa Ndejeroas adalah suami dari Wae Bonggang. Hal ini diperkuat oleh filosofi kampung, bahwa Ndejeroas yang notabene adalah hamparan sawah bagaikan sosok ayah yang memberikan makanan (nasi) bagi warga kampung sedangkan dengan airnya, Wae Bonggang adalah ibu yang menyusui. Cerita mitos ini samar-samar saja, bahkan orang Elar sendiri tidak banyak yang tahu. Hanya beberapa orang tua yang memang keturunannya sudah ada sejak kampung Elar terbentuk pertama kali. Karena cerita tersebut, Wae Bonggang seakan sangat dihormati oleh warga Elar. Pepohonan dekat mata air ini selalu dijaga, tidak ditebang untuk alasan apapun. Di balik keindahan Wae Bonggang ada mitos turun temurun yang beredar. Konon katanya, siapapun dilarang pergi ke tempat ini siang bolong (sekitar pukul 12:00 – 14:30) karena diyakini bahwa pada jam-jam tersebut, darat (hantu penunggu) sedang mandi di Wae Bonggang. Mitos ini ditegaskan kembali oleh Raegembang Group (Grup musik asal Elar) dalam penggalan lirik lagu molas Wae Bonggang yang bunyinya kira-kira seperti ini “Eme ngo teku wae e, neka du leso eros e, manga de poti’n sina Bonggang e“. Baidewei, ini grup hits sekali di Elar, sumpah! Yah namanya mitos ada yang percaya ada juga yang tidak, buktinya pada jam-jam tersebut tidak sedikit orang yang tetap pergi ke Wae bonggang dan pulang ke rumah aman-aman saja, walau memang beberapa di antaranya mengalami kejadian-kejadian aneh di sana.

Jika musim kemarau tiba, Wae Bonggang tidak menyusut, apalagi kekeringan. Setiap harinya saat kemarau, Wae Bonggang selalu ramai. Masyarakat Lengko Elar datang memanfaatkan sumber mata air ini untuk mandi, mencuci, dan ditimba untuk dijadikan air minum. Bahkan karena setiap sorenya lokasi ini ramai, ada yang rela datang hanya untuk duduk cari kutu di sana, sambil gosip tentunya. Hahaha.

Sungguh mati! Bagi kami Wae Bonggang seperti kasih seorang¬† ibu yang selalu ada untuk anak-anaknya dalam situasi apapun. Di seputaran lokasi Wae Bonggang juga kerap dijumpai para remaja yang pergi hanya untuk sekadar merekam gambar karena pemandangannya yang bagus. Terlebih saat hamparan sawah Ndejeroas mulai menguning. Mereka datang dengan alasan kecil untuk mandi, lalu kemudian berfoto-foto untuk sekadar mempercantik dinding Facebook kemudian pulang dengan keringat yang masih melekat di badan alias tidak mandi. Aneh e, padahal, kan sumber air su dekat tuh. Kalau teman-teman ada waktu, sempatkan diri main ke Elar. Tidak usah takut, Elar tidak melulu soal hal-hal negatif seperti rasung. Banyak hal menarik lainnya; berkunjung ke Wae Bonggang sambil menikmati Ndejeroas, misalnya. Siapa tahu bisa ketemu jodoh di sana. Kalaupun tidak, toh paling kurang ketemu saya yang jago racik kopi pa’it ini, siapa tahu kita jodoh, iya kan? iya kan? Hahaha.

Penulis: Krisan Roman|Lawa Tabeite|

4 thoughts on “Wae Bonggang: Kisah Kasih yang Terus Mengalir

  1. Cerita yang luar biasa tentang wae bonggang. Dibalik ketertinggalan sebagaimana yang diceritakan tadi, Elar tentu mempunyai keunikannya tersendiri salah satunya Wae Bonggang ini. Semoga ini tidak hanya sebuah cerita saja, namun juga menjadi bahan untuk mengispirasi semua pihak supaya masyarakat Elar juga bisa menikmati kue pembangunan sebagaimana masyarakat lainnya di Indonesia. Cerita ini tentu mengispirasi..

  2. profesiat anak Krisan Roman, telah mengisahkan sebuah cerita ttg alam ciptaan Tuhan utk dianugerahkan ke warga Elar yakni Wae Bonggang, luar biasa meninggalkan coretan bermakna bagi siapa pun yg mencintai Elar, Tks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *