Wae Lawar dan Keindahan yang Tersembunyi di Desa Golo Meleng

 332 total views,  10 views today


Doni Jematu | Redaksi

Golo Meleng merupakan salah satu desa di Manggarai Timur yang terkenal akan tanahnya yang sangat subur. Konon, hampir semua jenis tanaman dapat bertumbuh subur di desa yang letaknya berada di Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur ini. Karena kesuburannya, orang-orang sering kali menyebut desa ini sebagai “tanah serba jadi”. Atau seperti kata Koes Plus, di desa ini “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Juga tidak heran bahwa sebagian besar penduduk desa ini berprofesi sebagai petani.

Selain tanahnya yang subur, ternyata ada satu keindahan tersembunyi di desa ini yang belum diketahui oleh banyak orang. Keindahan itu terletak pada Wae Lawar, sebuah sungai yang mengalir di bawah kaki gunung Golo Jong yang memesona dan memanjakan mata.

Sungai Wae Lawar terletak di Desa Golo Meleng, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur. Akses menuju sungai ini terbilang cukup mudah. Tidak perlu Google Maps segala, cukup terapkan pribahasa “Malu bertanya. Sesat di jalan.” Teman-teman bisa mengambil rute dari Kota Borong menuju Kampung Canggo, kampung terakhir sebelum menuju ke Wae Lawar. Jarak dari Kota Borong menuju Kampung Canggo adalah sejauh kurang lebih 13 kilometer. Dengan menggunakan motor jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit. Tidak sampai satu babak pertandingan sepak bola, kan?

Setelah sampai di Kampung Canggo, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 600 meter menuju lokasi. Yah, kurang lebih 15 menit. Buat kalian yang suka tracking jalur menuju sungai cukup menantang untuk dapat memacu adrenalin. Buat kalian yang pengin melupakan mantan jalur menuju sungai Wae Lawar hanya akan membuka kembali luka-luka lama. Jadi, sangat tidak dianjurkan.

Setelah sampai di sungai, satu per satu keindahan sungai Wae Lawar tersingkap. Letak keindahan utamanya adalah kelima air terjun yang berada di sepanjang aliran sungai. Kelimanya indah, memesona, dan masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

Cunca Galang
Secara etimologis, cunca adalah bahasa daerah setempat yang berarti ‘air terjun’ dan galang yang berarti ‘bambu yang dibelah sedemikian rupa untuk menggantikan pipa’. Karena bentuknya yang menyerupai galang atau bambu yang dibelah menyerupai pipa tadi warga setempat menamai air terjun ini: Cunca Galang.

Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 20-an meter. Dari kejauhan terlihat percikan air yang bersih nan jernih. Di bawah pancurannya terdapat genangan air yang oleh warga setempat dijadikan sebagai tempat untuk mandi. Mereka juga kerap kali meramu di tempat ini. Kesan istimewa tempat ini semakin bertambah karena dikelilingi oleh pepohonan yang membuat udara di sekitarnya menjadi sejuk.

Cunca Kedungkiur
Cunca Kedungkiur adalah salah satu air terjun yang letaknya tidak jauh dari Cunca Galang. Jaraknya keduanya kurang lebih 20 meter. Ketinggian air terjun ini kurang lebih 20-an meter. Air yang memancur di antara dua batu besar nan panjang ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Bagaimana tidak, pada radius belasan meter di depan air terjun ini kita dapat merasakan sensasi percikannya yang dingin dan lembut.

Pancuran air yang bening nan jernih ini membuat kita merasa seakan berada di depan cermin. Belum lagi di kaki air terjun ini terdapat genangan air yang cukup dalam yang oleh warga sekitar dijadikan tempat untuk mandi atau memancing.

Cunca Tiwu Ntala
Cunca Tiwu Ntala memiliki keunikan tersendiri dari beberapa air terjun yang ada di sungai Wae Lawar. Dari namanya, cunca berarti ‘air terjun’, tiwu berarti ‘genangan air yang menyerupai kolam’, dan ntala yang berarti ‘bintang malam’. Jadi, Cunca Tiwu Ntala adalah air terjun yang di bawahnya terdapat kolam; genagan air yang cukup dalam.

Menariknya, air terjun ini menyuguhkan pesona menawan di siang hari. Pantulan sinar matahari yang masuk pada cela dedaunan pohon di sekitar Tiwu Ntala ini menghasilkan cahaya yang kurang lebih menyerupai cahaya bintang malam. Atas dasar ini, warga setempat memberinya nama Cunca Tiwu Ntala. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 15-an meter.

Cunca Tiwu Rewung
Cunca Tiwu Rewung adalah air terjun yang terhitung cukup unik di sungai Wae Lawar. Sebab pada siang hari yang cerah sekalipun panorama di sekitarnya tak dapat dinikmati secara utuh karena kabut. Kendati demikian, air terjun ini tetap memiliki keistimewaan lain, yaitu pancuran air yang jatuh pada satu titik, yang kemudian membentuk sebuah kolam yang cukup luas. Kolam ini kemudian dijadikan sebagai tempat untuk mandi atau bersantai sembari memancing ikan.

Cunca Wae Lawar
Cunca Wae Lawar adalah air terjun kelima yang terdapat sepanjang ailiran sungai Wae Lawar. Air terjun ini memancur dari ketinggian belasan meter dan menciptakan genangan air yang menyerupai kolam di bawahnya. Genangan air ini kemudian dijadikan sebagai tempat pemandian oleh warga setempat ataupun para pengunjung yang datang ke sana. Selain itu, pada sisi kiri dan kanan batu yang terdapat di air terjun ini terdapat gua yang menjadi tempat bersarangnya burung walet.

Itu dia rekomendasi tempat healing di Manggarai Timur yang sangat cocok buat para kaum muda yang barangkali butuh waktu untuk rehat sejenak dari rutinitas hariannya yang padat dan menjemukan. Toh, hidup sesekali butuh penyegaran. “Work hard, play hard”, kata orang.

Saat ini, kelima air terjun di atas tengah didorong untuk menjadi spot wisata holistik di Stasi Canggo, sebagaimana dicanangkan oleh Gereja Katolik Keuskupan Ruteng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.