Wae Limbo dulu, Sambil Menunggu Pipa Masuk Desa

 397 total views,  1 views today



Yunii Narmi|Redaksi


Langit mulai cerah membiru. Menelusuri jalanan desa, sesekali debu berterbangan, tanda wilayah itu sudah lama tidak turun hujan.

Hampir setiap tahun, musim kemarau datang. krisis air pun makin merajalela di mana-mana. Tetapi penanganan secara permanen belum mampu menjangkau secara keseluruhan.

Untuk mendapatkan air bersih untuk minum dan memasak, selain harus antri berjam-jam, sejak subuh, warga juga harus berjalan kaki sejauh lebih dari satu kilometer menuju sumur tua atau yang orang Mombok sering sebut limbo, yang terletak di ujung kampung.

Warga harus antri menunggu selama berjam-jam, lantaran limbo tersebut mulai mengering dan sulit mengeluarkan air. Air yang diambil warga dikonsumsi untuk kebutuhan sehari hari seperti mandi, mencuci dan minum. Sementara, untuk kebutuhan lain, warga terpaksa menggunakan air sisa.

Sering kali, limbo mengering karena terus ditimba secara bergantian. Akibatnya, warga yang terlanjur berjalan kaki ke sumur dari perkampungan harus menunggu berjam-jam sampai air sumur kembali terisi air. Banyaknya warga yang antri air sejak subuh hingga larut malam membuat sebagian warga yang tak sabar menunggu harus pulang dengan tangan hampa membawa jeriken kosong atau ember kosong ke rumah.

Sejumlah warga yang sedianya akan mandi air bersih setelah berhari-hari tidak mandi, kembali kecewa dan pulang karena sumber air tak mencukupi.

Warga berharap agar tidak ada yang menutup mata melihat situasi ini dan bisa turut membantu mengatasi kesulitan air bersih yang dihadapi warga terutama saat musim kemarau, setiap tahunnya. Habis mau bagaimana? kenyataan kami di sini memang menyedihkan. Air susah, listrik tidak ada, jalan masih darurat.

Seperti api, air juga punya ungkapan yang sama: “Kecil menjadi berkah, besar menjadi musibah.” Maknanya adalah: manusia hanya membutuhkannya dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan saja.


Tuhan sudah mewariskan air dalam jumlah yang tetap konstan di bumi ini hingga akhir zaman. Ia hanya berubah wujud sekali-kali. Kadang berupa uap yang melayang di udara, berhimpun dalam wujud gumpalan awan diatmosfir, lalu turun sebagai benda cair, menjadi air yang dikenal manusia sehari-hari.

Kemudian, sebagian terserap ke dalam badan tanah dan menjadi berkah tersendiri di musim kemarau yang kering, sebagai mata air. Di belahan bumi lain, air juga bisa berubah menjadi benda padat dalam wujud es, sebelum mencair kembali. 


Wae limbo adalah sala satu media yang digunakan masyarakat zaman dulu untuk mendapatkan pasokan air yang cukup. Namun apa jadinya jika sebagian besar orang di desa masih mengunakan media ini untuk mendapatkan pasokan air?

Jika penemuan teknologi makin mutakhir, dan tiap orang berlomba siapa cepat menikmatinya, kenapa desa kami masih nyaman dengan wae limbo? Bukankah pemerintah desa bisa menganggarkan dana untuk membeli pipa atau semen yang banyak dan mendirikan bak penampung di tengah kampung? Air mengalir sampai jauh, hati kami teduh.

Sangat menyedikan melihat orang tua lanjut usia harus memikul 1 hingga 10 jeriken air dalam sehari. Miris sekali bukan? Usia seperti mereka sudah semestinya santai di depan teras rumah, menunggu panggilan makan dari anak-anak mereka.

Di desa kami, ada beberapa kampung yang belum terjamah oleh pipa air. Tolong cukup mantan yang gagal masuk ke ini desa, pipa dan air, jangan!!

Saya juga bingung apa penyebab atau ada apa di balik semua ini, air sebagai kebutuhan pokok, di zaman yang secanggih ini kok masih susah didapat?


Sewaktu saya SD saya sering bermain ke kampung tetangga guna mengikuti bebrapa acara keluarga. Dan hal yang paling menyenangkan buat saya di masa itu adalah saat di mana air di dongka, di ember, di baskom, gumbang dan lain sebagainya mulai habis. Melihat hal itu anak-anak mulai mengambil jeriken satu per satu.


Sambil memukul-mukul jerigen ke lutut sambil menghibur diri dengan lagu-lagu ST 12 pada saat itu, Kami pun berjalan menelusuri setapak kecil yang curam dan sanggat ekstrim.

Dan kini, saat saya beranjak dewasa, hal yang dulu menjadi kebangaan anak kecil, kini harus dillimpahkan kepada nenek-nenek usian 60 tahun-nan. Selain sedih, saya sebenarnya juga muak, masa desa saya begini-begini saja dari dulu. Ah sudahlah.


Saya yakin, akan ada waktunya air akan mengalir sampai jauh. Eh itu iklan pipa rucika. wkwkwkwkw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.